Urgensi Lembaga Pembinaan
Citra pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengakar di tengah masyarakat kini sedikit tercoreng akibat terjadinya ledakan bom di Hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Tiba-tiba beredar isu bahwa pelaku peledakan yang amat keji itu adalah alumni pesantren di kawasan Jawa Tengah. Untung saja, proses penyelidikan polisi membuktikan berbeda, sampai saat ini belum diketahui secara pasti siapa sebenarnya dalang di balik tragedi nasional pasca pemilihan umum itu? Pemeriksaan DNA pelaku bom bunuh diri yang hancur ternyata tidak cocok dengan tersangka yang ada.
Sejak maraknya isu terorisme global, pasca serangan atas gedung World Trade Centre (2001) dan Bom Bali (2002), kalangan pesantren seperti menjadi terdakwa utama. Sebagian orang memandang sinis bahwa pesantren menjadi tempat penyemaian benih radikalisme agama. Ajaran tentang kekerasan dibungkus dengan nilai-nilai jihad yang telah diselewengkan, melalui buku-buku bacaan asing dan ceramah para asatidz dari mazhab radikal. Hasilnya, para santri dan alumnipesantren jadi membenci lingkungannya, dan bertekad untuk melakukan perubahan secepat mungkin dengan resiko apapun. Ini sungguh pandangan yang keliru.
Pesantren telah memainkan peran penting sejak masa penjajahan dengan menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi. Hal itu diakui oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, yang juga mengembangkan pendidikan kemasyarakatan berbasiskan nilai budaya lokal. Dalam perdebatannya dengan Sutan Takdir Alisjahbana (Polemik Kebudayaan tahun 1930), Dr. Soetomo juga membela posisi penting pesantren dan lembaga pendidikan tradisional dalam menumbuhkan semangat kebangsaan dan kemajuan. Pada masa kemerdekaan, pesantren terbukti mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul di berbagai bidang serta berwatak mandiri, seperti dicatat oleh Zamakhsyari Dhofier dalam sebuah ensiklopedi tentang Tradisi Pesantren yang cukup lengkap (1982).
Sejumlah tokoh nasional lahir dari latar belakang pesantren, antara lain, KH Hasyim Asy’ari, yang dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim bersahabat erat dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah, yang memperkenalkan sistem pendidikan Islam modern. Kedua sahabat itu, meskipun berbeda pandangan keagamaannya, ternyata merupakan murid dari guru yang sama, yakni Syekh Ahmad Khatib, sang Imam di Masjid al-Haram, Mekah al-Mukarramah. Di sini terjadi pertalian ilmu dan persaudaraan, disamping spirit kebangsaan untuk melawan penjajahan.
Sesungguhnya kaum kolonialis bisa bertahan di bumi pertiwi karena melakukan politik pembodohan dan pecah-belah terhadap segenap eksponen masyarakat. Para pendiri bangsa Indonesia melawan strategi keji itu dengan melakukan pencerdasan masyarakat dan mengembangkan lembaga pendidikan yang saling melengkapi antara warisan tradisi dan modernitas. Pada akhirnya, sejumlah pesantren sukses memadukan khazanah ilmu klasik dan modern, sehingga memunculkan santri dan alumni yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Sebut saja, Pesantren Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur yang telah menampilkan tokoh-tokoh penting semisal: KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama), Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Nurcholish Madjid (alm., pendiri Universitas Paramadina), dan Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA (Ketua MPR RI). Jika ditelusuri lebih cermat, masih banyak lagi tokoh yang berkompeten di segenap bidang berasal dari pesantren. Di tengah krisis kepemimpinan nasional dewasa ini, pesantren justru memperlihatkan peluang regenerasi yang amat potensial.
Kepemimpinan bangsa sedang menghadapi tantangan serius, terutama di kalangan masyarakat sipil. Salah satu gejalanya adalah hilangnya kepercayaan publik terhadap regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi sosial dan partai-partai politik. Kita menyaksikan fenomena rebutan jabatan yang seringkali menimbulkan konflik fisik, dan memobilisasi massa pendukung. Masyarakat menangkap kesan keliru, bahwa para elite politik telah melupakan tugas utama untuk melakukan pendidikan dan sosialisasi politik. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya yang sempit.
Harapan akan regenerasi kepemimpinan nasional sebagian masih digantungkan pada kalangan militer dan kepolisian, karena mereka dipandang masih menjalankan proses pendidikan dan pengkaderan yang sistematis. Mulai dari akademi militer dan polisi, lalu dilanjutkan penugasan di berbagai wilayah dan bidang kerja yang berbeda-beda. Sehingga lengkaplah semua kriteria dan kapasitas yang diperlukan oleh calon perwira militer atau polisi. Setelah habis masa dinas aktifnya, maka para perwira itu akhirnya mengambil peran sosial-politik di tengah masyarakat.
Dalam pemilihan presiden yang baru usai, kita menyaksikan sosok petinggi militer yang ikut bertarung, yaitu: Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Prabowo Subianto mendampingi pasangannya masing-masing. Hal itu menunjukkan lembaga pengkaderan di kalangan militer cukup berhasil, karena menawarkan alternatif kepemimpinan di level nasional. Pada pengkaderan kepemimpinan di kalangan sipil mestinya bisa lebih luas, karena mencakup bidang tugas yang banyak: akademisi, pengusaha, profesional, budayawan, atau aktivis sosial. Karena itu, kita harus mereformasi lembaga pembinaan di berbagai lapisan masyarakat, termasuk memperbaiki citra pesantren yang telah dirusak oleh pelaku kekerasan.
PPSDMS menyadari pentingnya peran lembaga pembinaan bagi kalangan muda, sehingga sejak awal pendirian dimantapkan konsep “Pesantren Mahasiswa”. Dalam suasana yang akrab, penuh rasa kekeluargaan, proses transformasi pengetahuan dan pembentukan disiplin diri dilakukan. Dengan format seperti itu kami mendapat dukungan dari banyak mitra yang bersimpati. Pada perkembangnya, PPSDMS juga mencanangkan diri sebagai “School of Nation’ Future Leaders” (sekolah kepemimpinan masa depan bangsa). Kami ingin memadukan khazanah pengetahuan dan keterampilan yang klasik maupun modern, sehingga sejalan dengan kebutuhan zaman. Apapun model yang ditempuh, kami percaya proses pembinaan tak boleh putus. Sebab, buah kejayaan masa depan bangsa sangat ditentukan oleh apa yang kita tanam hari ini.
Salam Redaksi


























