Beasiswa & Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia

Strategi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Oleh: Prof. Dr. Zuhal Abdul Kadir

(Anggota Dewan Penasihat PPSDMS)

 

Saya sudah mengenal PPSDMS sejak awal. Dulu saat pembentukan Regional I di Jakarta dan Regional II di Bandung. Tapi, setelah ini sempat terputus sejenak. Alhamdulillah, sekarang telah terbentuk Regional III Yogyakarta, Regional IV Surabaya dan Regional V Bogor. Ini merupakan pertemuan yang pertama bagi seluruh Regional untuk menyelenggarakan Pendidikan Kepemimpinan Nasional. Pelatihan semacam ini sangat bermanfaat karena mengumpulkan semua pengalaman yang terbaik (best practices) agar dapat dibagi kepada kawan lain. Pengalaman dari generasi saya mungkin berguna untuk generasi Anda semua.

 

Sebagai generasi tua kami akan kecewa, apabila Anda lebih buruk prestasinya dari kami semua. Kepemimpinan yang baik itu akan melahirkan generasi yang lebih baik sepeninggalnya. Sekarang kita melihat justru terjadi penurunan kualitas kepemimpinan nasional. Memang kondisi sekarang masih bersifat transisional dari keadaan lama menuju situasi baru. Dalam konteks itulah penting untuk memahami pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena sangat erat berkaitan dengan kualitas SDM (sumber daya manusia) atau biasa disebut human capital.

 

Modal SDM sangat penting, karena kita mengetahui bangsa Indonesia potensi SDM yang besar. Kita sering mendengar sejumlah pelajar SD, SMP atau SMA kita yang menjuarai berbagai olimpiade ilmu pengetahuan di tingkat internasional. Ketika saya masih di pemerintahan sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, saya sempat menandatangani sedikitnya 37 tenaga ahli kita yang diminta oleh perusahaan-perusahaan besar, seperti Aero Spatial yang membuat Airbus. Karena di masa krisis, tenaga ahli kita belum bisa dioptimalkan di dalam negeri, maka mereka diminta untuk kontrak kerja di luar negeri selama tiga tahun. Sebenarnya tenaga-tenaga itu dilatih untuk mengembangkan industri dirgantara di Tanah Air kita, tapi situasi krisis membuat mereka tak mendapt pekerjaan yang layak.

 

Itu berarti secara potensial SDM kita memang unggul, sehingga diakui berprestai baik oleh perusahaan mancanegara. Ketika mereka bertemu di Eropa, berkumpul di rumah Pak B.J. Habibie di Jerman, ia menelepon: ”Ini tenaga ahli yang dulu ada izinkan ke luar negeri sedang berkumpul di rumah saya. Jumlahnya sekarang sudah 70 orang,” kata Pak Habibie. Mereka berkembang di sana, baik yang berjenis lelaki maupun perempuan. Mereka sesungguhnya masih ingin tetap pulang. Tapi kalau pulang, apa yang bisa diperbuat? Itu suatu fakta bahwa potensi SDM kita belum bisa dimanfaatkan optimal.

 

Dulu, saya juga menjadi doses Institut Teknologi Bandung. Waktu itu, rektornya masih Pak Dodi, saya diminta untuk membantu mengumpulkan dosen-dosen MIPA untuk mengajar di Malaysia. Jadi, berkembangnya universitas-universitas di Malaysia sebagian besar ditentukan oleh suplai dosen pengajar dari Indonesia. Sekarang, ketika kita mengalami krisis ekonomi, maka sebagian tenaga pengajar ITB dan UI ada yang dikontrak perguruan tinggi di Malaysia. Ada yang dikontrak tahunan untuk mengajar atau jangka panjang untuk melakukan penelitian. Hasilnya, ada tiga universitas di Malaysia yang akhirnya masuk kategori Top 100 universitas di dunia. Sementara di Indonesia belum ada universitas yang masuk Top 200, apalagi yang Top 100. Inilah ironi yang harus kita jawab.

 

Mengapa sains dan teknologi penting bagi pembangunan bangsa?  Karena kita membutuhkan human capital dan social capital (rasa toleran dan bersatu sebagai bangsa). Human capital kita cukup kuat, tapi social capital kita masih kurang. Selain itu juga tentu harus ada finansial (modal material) yang menjadi input bagi proses pembangunan. Dengan input saintek yang bagus, maka kita bisa mencapai high quality bagi produk-produk nasional, termasuk juga dalam hal jasa pelayanan (service) dan produktivitas. Semakin tinggi kemajuan saintek, maka akan meningkatkan produktivitas dan akhirnya pertumbuhan ekonomi nasional. Pada akhirnya akan membawa kemakmuran bangsa.

 

Sebagai umat Islam, kita harus memasukkan ”roh” di dalam pembangunan fisik dan material itu. Untuk itu kita harus mampu menyuntikkan Islamic values ke dalam proses pemakmuran bangsa itu. Hal itu yang memperkuat motivasi kita dalam membangun bangsa. Tapi, kita jangan membuat proses itu terlalu normatif. Ketika kita ditanya: 20 tahun lagi bangsa Indonesia mau jadi apa? Kita biasanya menjawab, ”Kami mau menjadi bangsa yang adil, makmur berdasarkan Pancasila”. Bagaimana cara mengukurnya? Sekarang orang tidak lagi belajar Pendidikan Moral Pancasila atau sejenisnya.

 

Kalau bangsa Cina ditanya, 20 tahun lagi mau jadi apa? Maka, mereka menjawab: “Kami akan menguasai pasar dunia dalam produk hardware untuk menandingi Jepang atau Amerika Serikat.” Itu sasaran yang kongkrit dan terukur. Jangan kita terlalu sering membuat sasaran normatif yang tak bisa diukur. Kita boleh menetapkan target bangsa yang bertaqwa, tapi perlu makmur dulu, sebab kemiskinan akan mendekatkan kita kepada kekufuran. Ukuran kita (benchmarking) harus dengan negara yang lebih baik, seperti India, kita pernah berkunjung ke Bangalore yang menjadi pusat pengembangan Teknologi Informasi. Mereka melakukan outsourcing seluruh produk perusahaan negara maju, semuanya ada di situ. Ketika orang India mendengar Cina akan menguasai pasar dunia, mereka tak khawatir karena Cina hanya menguasai hardware, sementara India menguasasi software global. Dua puluh tahun lagi, India bertekad untuk mengalahkan Amerika.

 

Itulah perlunya sasaran kongkrit untuk mencapai kemakmuran. Tapi, kita harus memasukkan roh dalam proses pembangunan, agar tidak menjadi sombong dan egois. Kita tak boleh dininabobokan dengan kekayaan alam yang melimpah. Kita harus bekerja keras untuk mensejahterakan bangsa ini. Saya tidak setuju, jika ada yang mempertentangkan aspek material dengan spiritual. Kedua aspek itu bersifat holistik yang tidak boleh kita pisahkan. Tidak ada salahnya untuk menjadi kaya, namun ketika kita sudah mencapainya, maka kita harus menyadari bahwa yang kita perlukan ternyata hanya tertentu saja. Kelebihan kekayaan itu yang harus kita bagi kepada orang yang tidak berpunya. Karena itu, jangan segan-segan untuk menjadi kaya, pintar dan ambisius, asal Anda memiliki nilai kebajikan yang akan disebarkan kepada masyarakat. Nilai itulah yang akan menjadi kendali dari nafsu kita yang serakah.

 

Posisi Indonesia dari segi Human Development Index ternyata berada di bawah Vietnam yang baru saja merdeka, sementara Malaysia berada di atas kita. Ukuran pokoknya adalah pendidikan, kesehatan dan pembangunan ekonomi. Begitu pula, jika kita lihat daya saing ekonomi kita masih stagnan, sedangkan negara lain di ASEAN saja terus meningkat. Bila kita bandingkan apple to apple dengan Malaysia, dari sisi jumlah insinyur dan saintis (181/1 juta penduduk) kita masih lebih baik dari Malaysia. Namun, dari sisi fasilitas pendidikan (jumlah personal computer, misalnya) kita sepuluh kali di bawah mereka. Begitu pula dari segi akses internet, posisi kita 40 kali di bawah mereka.

 

Kebijakan pemerintah yang kita inginkan memberikan wahana bagi para tenaga ahli. Jangan sampai ada yang berpikir, bila kita memproduksi sepeda motor di sini, maka harga lebih mahal dari Cina. Mengapa tidak lebih baik mengimpor saja motor dari Cina? Para ekonom jangan berpikir seperti itu dulu, harus dilihat nilai tambahnya. Lihat, Malaysia memproduksi mobil sendiri, lalu juga membangun super coridor city, sehingga meningkatkan daya saingnya di hadapan negara lain. Sementara di Indonesia yang berkembang justru mal-mal yang menjual barang-barang mewah dari luar negeri. Lalu, mana produk asli buatan Indonesia?

 

Karena tak ada nilai kompetitifnya, maka yang bekerja di dalam negeri itu hampir 77% berpendidikan SMA ke bawah. Sedangkan mereka yang berpendidikan tinggi dikontrak ke luar negeri. Pengangguran yang akan muncul adalah kaum terdidik, karena tak ada pekerjaan yang cukup. Sementara kita juga mengekspor tenaga yang kurang terdidik ke luar negeri, seperti TKI/TKW, sehingga sering mendapat perlakuan tak layak. Anda yang berasal dari banyak bidang harus mengubah paradigma berpikir. Jangan jadi ekonom yang berpikir pedagang, hanya mau untung terus, padahal harus ada resiko investasi yang diperhitungkan agar kita mendapat untung yang lebih besar.

 

Kita perlu mengembangkan knowledge based society (masyarakat berbasis pengetahuan). Sebab perkembangan human capital itu bersifat eksponensial dengan pendidikan dan pengetahuan. Sedikit saja kita kembangkan pendidikan, maka kemajuan yang dialami masyarakat akan sangat besar. Anda yang berkumpul saat ini adalah kader, mendapat pendidikan dan pelatihan sedikit saja, insya Allah, akan berkembang menjadi calon-calon pemimpin masa depan. Untuk itu kita harus membangun kelompok strategis yang, antara lain, menguasai Information and Communication Technology (ICT). Dari sini perubahan besar bisa dilakukan.***

 

*) Disarikan dari ceramah yang disampaikan dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional I di Jakarta tanggal 31 Juli – 6 Agustus 2006.

 

Menulis Epos Kita Sendiri Selamat Jalan Sahabat: Edi Widodo, 1969-2008

No Responses to “Strategi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”

No comments yet.

Name
E-mail
Website
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

PPSDMS Didukung Sepenuhnya Oleh:


tertarik untuk berperanserta?