Since Good Leaders Are Not Good Enough (Bagian 7)

Arief Munandar, SE, ME
Nyatalah bahwa kepedulian yang mendalam terhadap manusia merupakan karakteristik berikutnya yang melekat pada pola pikir seorang pemimpin sejati, selain orientasi pada change dan transformation yang sudah dibahas sebelumnya. People care berarti juga kesediaan untuk menangani keunikan, kompleksitas, dan ketakterdugaan yang melekat pada manusia. Pemimpin berpikir bahwa system and structure follow the people, sehingga ia lebih memfokuskan waktu, energi, dan sumberdaya lainnya untuk membangun hubungan yang bermakna, mendalam, dan berjangka panjang dengan manusia, memotivasi dan menginspirasi mereka, membangun dan memperkuat komitmen mereka, ketimbang sekedar melakukan short cut untuk mengelola mereka dengan menempatkan para pengikutnya dalam kotak-kotak diagram organisasi, aturan, dan job description.
Leader percaya penuh bahwa pendekatan yang tepat akan memicu aktualisasi puncak-puncak talenta para pengikutnya, sehingga empowerment, pemberdayaan, menjadi kredo yang sangat diyakininya. Kesediaan memberdayakan berarti kesediaan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan, secara cerdas mendelegasikan kewenangan yang dimiliki, serta membuka akses terhadap berbagai sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri. Semuanya atas dasar saling percaya dan hormat, serta terlebih lagi, ketulusan dan kebersihan hati. Dalam kedisiplinan dan konsistensinya terhadap visi, pemimpin menyediakan ruang yang luas bagi para pengikutnya untuk bebas, merdeka, kreatif, serta berani mengambil risiko untuk berbuat kesalahan.
Lebih lanjut Jim Collins menggambarkan hal ini sebagai prinsip first who, then what yang membedakan seorang great leader, pemimpin jenjang kelima, dengan pemimpin model ”a genius with a thousand helpers”. Pemimpin jenjang kelima secara konsisten memulai sebuah transformasi dengan memastikan bahwa hanya orang-orang yang tepat yang berada dalam bus, dan sebaliknya, memastikan mereka yang tidak tepat dikeluarkan atau keluar dari bus. Dan kriteria yang ia gunakan dalam menentukan ”right persons” lebih menitikberatkan pada kualitas manusianya, yaitu modal spiritualnya, ketimbang pengetahuan dan keterampilan khusus yang relatif mudah dipelajari. Dampaknya, the right persons mampu terus menggulirkan transformasi, walaupun sang pemimpin sudah tak lagi bersama mereka. Sebaliknya, a genius with a thousand helpers cenderung memilih orang-orang berbakat yang diyakini dapat membantu dirinya mencapai visinya. Biasanya para helpers ini – betapapun berbakatnya mereka – menjadi lumpuh atau kocar-kacir pada saat sang genius pergi.
Sudah dua kata kunci dari pola pikir pemimpin, leader’s mind-set, yang kita kupas: change dan people. Kata kunci yang ketiga adalah benefit, contribution, and responsibility. Kalau ditanya, siapakah sosok yang paling berarti dalam hidup anda, mungkin sekali sebagian besar akan menjawab: ibu. Mengapa? Lagu berjudul ”Kasih Ibu” memberikan jawabannya: ”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi. Tak harap kembali. Bagai sang surya menerangi dunia”. Ibu memang sosok yang luar biasa: dekat di hati, namun juga sangat kita segani, karena ia terus memberi dengan ikhlas kepada kita. Akumulasi saham kebaikannya tak ternilai. Implikasinya sungguh luar biasa. Jangankan ia berkata-kata. Bahkan perubahan raut mukanyapun cukup untuk menggetarkan sanubari kita.
Jadi corollary yang berlaku sungguh jelas. Pemimpin memberi, bukan pemimpin meminta. Pemimpin berkontribusi, bukan pemimpin mengambil. Pemimpin berpikir bagaimana dirinya bermanfaat untuk orang lain, bukan pemimpin berpikir bagaimana dia bisa memanfaatkan orang lain. Pemimpin bertanggungjawab, bukan pemimpin menghindari tanggungjawab. True leader berpikir, “Apalagi yang dapat saya lakukan, agar orang-orang yang saya pimpin, agar lingkungan di mana saya hidup, menjadi lebih baik”, sebagaimana Nabi SAW yang hanya mengulang-ulang satu kata, “Ummatiii … ummatiii … ummatii …” dalam rintihan lirih di penghujung hayatnya. Sebagaimana juga telah diabadikan dalam kalam Illahi: “Sesungguhnya sudah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” (QS. At Taubah: 128).
Pemimpin sejati, berdiri di muka barisan pada saat bahaya menghadang dan kesulitan mendera. Ia paling dulu merasakan penderitaan, kalaulah itu suratan takdir bagi kaumnya. Namun ia akan berdiri di penghujung barisan pada saat mengecap kenikmatan. Ia yang terakhir makan setelah memastikan para pengikutnya kenyang. Ia tak mau menyakiti perasaan kaumnya dengan menghiasi dirinya dengan atribut-atribut kemewahan dan keberlimpahan, sementara mereka masih terpuruk dalam kemiskinan. Hatinya turut menangis, ketika pengikutnya sakit atau disakiti. Dan seperti kata Jim Collins, ia menisbatkan kegagalan organisasinya sebagai kelemahan dan kebodohannya, sebaliknya, ia menghadiahkan keberhasilan organisasinya sebagai hasil kerja keras para pengikutnya.
Sehingga ada keyakinan yang terhujam dalam di sanubari setiap insan PPSDMS: ”Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar … Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia; tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih …” Keteguhan dan ketulusan dalam memberi membuat pemimpin sejati tak pernah mati. Pemimpin sejati terus menasihati dirinya, ”The good you do today, people will often forget tomorrow. Do good anyway. Give the world the best you have, and it may never be enough. Give the world the best you’ve got anyway” (Mother Teresa). [Bersambung]




To Mr. Arief Munandar
dan pada akhirnya goog leaders are not good enough memang tidak akan pernah enough (terus kapan dong enough nya?
YA, jadi yang mana yang kita pilih, pemimpin yang sukses dalam pimpinannya ato pimpinan yang sukses karena pemimpin yang melayani. since good leaders are not good enough, but leader with a good morality would be a good person