Since Good Leaders Are Not Good Enough (Bagian 6)
Oleh: Arief Munandar, SE, ME
Pemimpin sejati memang istiqamah dan disiplin. Ia konsisten, konsekuen, dan presisten terhadap visinya. Tak mau kompromi. Enggan ditawar. Namun, ia inovatif dan berani mengambil risiko dalam cara. Ada fleksibilitas yang luar biasa dalam mencari solusi. Ada conviction bahwa untuk menjadi leader yang sukses bukan berarti tak boleh gagal, melainkan harus melihat hasil yang tak sesuai dengan harapan sebagai bagian dari proses pembelajaran, sebagai feedback, sebagai sinyal keharusan untuk berganti cara. Ketika pemimpin sejati terantuk sebuah tembok penghalang, bukan cita-citanya yang ia kesampingkan, melainkan strateginya yang ia ubah.
Anda suka bergunjing? Kalau ya, artinya anda belum cukup qualified untuk menjadi pemimpin. Lho kok? Terlepas dari masalah bahwa bergunjing itu dosa, pergunjingan biasanya berisi masalah. Semua peserta majelis pergunjingan dengan penuh semangat menyoroti masalah, bahkan membesar-besarkan masalah, dengan menambahkan aneka bumbu penyedap rasa. ”Abis …, soalnya …, masalahnya …,” demikian kira-kira redaksi kalimat para penggunjing itu. Tak ada yang bicara solusi. Bahkan tak ada yang berharap ada solusi.
Mohon dicatat: leader berpikir tentang solusi, bukan tentang masalah. ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa telah kamu kerjakan” (QS. At Taubah: 105). Jadi, cuma ada tiga kata kunci. Pertama, action! Kedua, juga action! Dan ketiga, jangan berhenti action!
Sekarang mari kita soroti karakteristik lain dari pola pikir seorang pemimpin dengan sebuah cerita lainnya. Sekitar pukul delapan malam seorang wanita, Sales Manager handal, masih menyelesaikan sejumlah paper works di meja kerjanya. Tak sengaja sang CEO melintas dan menghampirinya. Ia tak mengenal wanita itu, karena sebagai perusahaan besar di sana ada puluhan Sales Manager. Diajaknya wanita itu berbincang-bincang mengenai berbagai topik ringan yang tak berhubungan dengan pekerjaan. Dari obrolan itu dia tahu bahwa hari ini merupakan hari kerja terakhir wanita itu. Dia sudah mengajukan pengunduran diri karena sebentar lagi akan melahirkan anaknya yang ketiga dan telah memutuskan untuk menjadi ibu rumahtangga purna waktu. Tak sampai 20 menit obrolan itu berakhir. Mereka berjabat tangan, dan CEO mengantarkan Sales Manager itu hingga ke pintu lift. Sebelum berpisah CEO meminta Sales Manager itu menghubunginya secara pribadi jika di kemudian hari mendapat kesulitan.
Setahun-dua tahun kemudian karena berbagai sebab perusahaan itu mengalami kemunduran yang hebat. Klien-klien besar meninggalkan mereka, sehingga kelangsungan hidup perusahaan berada di ujung tanduk. Sales Manager handal yang sudah hidup tenang dan tenteram bersama keluarganya itu membaca kabar sedih mengenai perusahaan bekas tempatnya bekerja di sebuah majalah bisnis. Serta-merta dia kembali ke perusahaan itu, bekerja luar biasa keras, dan kemudian mampu membantu proses recovery yang akhirnya membawa mereka kembali mendekati puncak.
Tidak berapa lama setelah itu wartawan majalah bisnis mewawancarainya. Pertanyaannya seputar motvasi apa yang mendorong dirinya membatalkan keputusan menjadi ibu rumahtangga, dan kembali ke perusahaannya justru pada saat mereka terpuruk. Bahkan kepadanya ditanyakan, ”Berapa kali lipat gaji yang ditawarkan pada anda dibandingkan saat anda dulu keluar, sampai-sampai anda tergiur untuk kembali di saat sulit?” Wanita itu menggeleng dan berkata, ”Anda salah. Sama sekali salah. Saat itu justru mereka hanya mampu membayar sepertiga dari gaji terakhir saya.” Wartawan itu terheran-heran.
Tutur wanita itu selanjutnya, ”Namun saya teringat percakapan dengan CEO saya di malam terakhir saya bekerja. Dengan tulus dia ingin tahu keadaan bayi yang saya kandung. Bahkan dia bertanya apa jenis kelaminnya, dan apakah saya sudah punya nama untuknya. Dan sesaat sebelum saya pulang, dia menawarkan bantuan jika di kemudian hari saya mendapat kesulitan. Dan anehnya, saya yakin yang berbicara adalah hatinya. Itulah yang membuat saya kembali. Karena saya yakin di matanya, dan di mata perusahaan ini, saya adalah manusia …”
Terlepas bahwa ia seorang nabi dan rasul, mengapa Muhammad SAW menjadi sosok pemimpin terhebat dalam sejarah? Karena ia mampu menyentuh hati manusia. Tengoklah misalnya bagaimana ia menaklukkan hati sahabat-sahabat Anshar ketika mereka menggugat pembagian harta rampasan perang pasca penaklukkan Mekah yang mereka anggap tidak adil dengan melakukan komparasi yang luar biasa: ketika tokoh-tokoh Quraisy pulang dengan membawa ratusan ekor unta dan beragam harta lainnya, kaum Anshar pulang dengan membawa Nabi mereka. Maka luluhlah hati sahabat-sahabat Anshar, dan mengalirlah air mata mereka dengan derasnya. Subhanallah! Atau perhatikan pula bagaimana seluruh sahabat merasa bahwa diri mereka masing-masing adalah orang yang paling dekat dengan Nabi SAW. Hal ini menunjukkan bagaimana Muhammad SAW memiliki punya kepedulian pada manusia (people care) yang luar biasa. [bersambung]




No comments yet.