Selamatkan Indonesia dari Jebakan Krisis Global
Krisis ekonomi global kini menghantui semua orang. Berawal dari krisis keuangan di Amerika Serikat akibat macetnya kredit pemilikan rumah (sub-prime mortgage) yang mencapai US$ 5 triliun. Krisis itu kemudian menggulung perusahaan investasi dunia Lehman Brothers yang telah berusia 158 tahun. Perusahaan asuransi global American International Group (AIG) pun nyaris kolaps, jika tak ditalangi dana pemerintah AS senilai US$ 85 miliar. Inilah “perang besar” yang meruntuhkan reputasi Presiden George W. Bush di akhir masa jabatannya.
Jika pengamat Francis Fukuyama pernah menulis buku “The End of History and the Last Man” (1992) yang membanggakan kemenangan demokrasi liberal atas sistem politik lainnya, maka krisis finansial saat ini menunjukkan fakta sebaliknya, “The End of (American) History”. Dunia kini mulai berpaling untuk mempelajari praktik ekonomi di Cina atau Amerika Latin yang terus tumbuh, termasuk sistem ekonomi Islam yang menjadi alternatif dengan prinsip non-ribawi (profit and lost sharing).
Kami menyadari perkembangan situasi global itu akan mempengaruhi kondisi Indonesia secara umum seperti terlihat dari anjloknya transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dampak krisis ini mungkin akan terus berlanjut, karena fundamental ekonomi kita masih lemah. Apabila nilai kurs rupiah terus terpuruk, kepercayaan masyarakat terhadap institusi perbankan tergerus, dan kebijakan pemerintah untuk mengendalikan pasar tak lagi efektif, maka krisis besar ada di depan mata. Kita harus mencari resep jitu untuk mencegah agar tragedi ekonomi 1997 tidak terulang lagi.
Beruntung sekali, kami mendapat pencerahan dari mantan Menko Perekonomian (2001-2004), Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, yang hadir dalam acara Dialog Tokoh pada 18 September lalu. Acara tersebut diadakan PPSDMS Regional 1 Jakarta, dan dihadiri pula Ketua Dewan Penyantun PPSDMS, Laksda (Purn) Husein Ibrahim. Dalam paparan berjudul “Memahami Situasi dan Kondisi Geo-ekonomi Saat Ini dan Unsur-unsur yang Harus Diperhitungkan Indonesia dalam Upaya Memposisikan Dirinya”, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mengungkapkan posisi strategis Indonesia dari sudut geografi, demografi dan historis.
Penduduk dunia saat ini 6,5 milyar jiwa, dengan total GDP (USD 48,2 triliun) dan belanja pertahanan (USD 1,2 triliun). Indonesia adalah bagian dari negara Non-Blok yang berpenduduk total 50,5% dari warga dunia, dengan total GDP (38,6%), dan total belanja pertahanan (28,3%). Sementara itu, negara maju yang berjumlah tujuh negara (Group-7) berpenduduk total hanya 9,7% dari seluruh warga dunia, tapi memiliki total GDP (52,1%) dan belanja militer (52,1%). “Inilah fakta kesenjangan antara negara kaya dan miskin yang semakin parah,” ujar mantan Duta Besar RI untuk AS di masa reformasi. Dua negara (India dan Cina) berpenduduk total (37,4%) dan menguasai GDP (7,3%) serta belanja pertahanan (6,4%). Dari fakta itu tergambar tidak mungkin suatu negara memiliki pertahanan kuat, bila ekonominya lemah. Sedang kedaulatan dan kemandirian suatu bangsa ditentukan terutttama oleh dua faktor penting itu.
Menarik sekali, Profesor Dorodjatun yang menjabat anggota Dewan Pengarah Lemhanas itu mengingatkan, wajah ekonomi dunia tidak hanya ditentukan transaksi formal antar negara, melainkan juga pasar global yang terdiri dari: Equity Market (pasar modal), Commodity Market (pasar komoditi), Currency Market (pasar valas), Property Market (pasar properti–tanah dan bangunan). Inilah motor utama perekonomian dunia versi kapitalisme. Faktor ini pula yang menyebabkan kemerosotan dan kehancuran ekonomi dunia Barat.
Dialog Tokoh kami adakan di semua regional bersamaan dengan program lain, semisal Dialog Pasca Kampus, Kajian Islam Kontemporer dan lain-lain. Kami siapkan bekal untuk pemimpin masa depan sejak dini. Tugas generasi sekarang melatih diri untuk mampu merumuskan strategi dan kebijakan yang akan menyelamatkan bangsa dari kehancuran, termasuk perangkap krisis ekonomi global. [sapto]


























