Beasiswa & Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia

Selamat Jalan Sahabat: Edi Widodo, 1969-2008

Berita itu datang tiba-tiba, tak ada yang menyangka sebelumnya. Pada Sabtu (5/4) malam, peserta PPSDMS di Regional I Jakarta sedang melakukan aktivitas pelatihan jurnalistik. Kegiatan itu merupakan kolaborasi dengan Regional V Bogor. Jika pada sore hari para peserta bertarung taekwondo, maka di malam harinya mereka mengasah keterampilan menulis. Saat peserta sedang asyik menyimak presentasi tentang “Teknik Memasarkan Tulisan di Media Massa”, pesan singkat itu datang sekitar pukul 20.30 WIB.

 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah salah seorang pengurus PPSDMS Pusat, bapak Edi Widodo, meninggalkan seorang isteri dan tiga anak….” Saudara kami, sahabat kami, pergi dalam usia yang masih tergolong muda: 39 tahun. Mas Edi, begitu kami memanggilnya, lahir di Pacitan pada tanggal 14 Januari 1969. Meski bertubuh ramping, ia dikenal sangat supel.

 

“Edi orangnya fleksibel. Mudah bergaul dengan siapa saja, dan cepat menjadi akrab,” ungkap Drs. Musholi, Direktur PPSDMS Nurul Fikri, yang mengenal Edi sejak awal bergabung dengan Yayasan Nurul Fikri pada tahun 1998. Karena sifatnya yang ramah itu, maka Edi diberi amanat sebagai Asisten Manajer Kemitraan. Tugas utama bidang kemitraan ialah menggalang dukungan individu atau lembaga yang akan menjadi donatur bagi seluruh kegiatan PPSDMS. Selain itu juga menjaga hubungan agar dukungan tersebut terus berkelanjutan, antara lain, dengan cara memelihara komunikasi rutin.

 

Jika Anda memutar nomor telepon 7888 3828, maka akan terdengar sapaan lembut: “PPSDMS, assalamu’alaikum….” Begitulah ia selalu membuka percakapan, lalu menanyakan: “Apa yang bisa kami bantu, Bapak/Ibu?”. Ia senantiasa siap memberikan informasi yang dibutuhkan para stakeholders terkait dengan perkembangan program PPSDMS. Disamping itu, ia juga mengundang para relasi untuk menghadiri acara penting yang digelar PPSDMS, seperti peringatan Milad kelima pada bulan Agustus 2007. Di tengah keriuhan acara, biasanya Edi menempatkan diri sebagai penerima tamu. Tak aneh, jika nama Edi Widodo lebih dikenal publik ketimbang pengurus PPSDMS lainnya.

 

Kemampuan Edi ialah menjadi MC (master of ceremony) yang mampu menguasai panggung secara menarik. Suaranya terdengar empuk dan bertenaga, seperti dirasakan oleh seluruh peserta PPSDMS dari semua Regional yang berkumpul di Jakarta, saat acara Pendidikan Kepemimpinan Nasional II di bulan September 2007. Edi menjadi MC dengan penuh semangat dan secara khusus memoderatori sessi diskusi dengan Chairman PT Medco, Arifin Panigoro. Edi juga memiliki bakat tersembunyi sebagai EO (event organizer) yang andal. Ia dapat merancang dan mengawal acara mulai dari start hingga finish.

 

Latar belakang pendidikannya dari SMA Negeri 1 Pacitan, mengambil jurusan A-3 (Sosial). Setelah tamat tahun 1988, ia melanjutkan ke Universitas Negeri Jember, masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk tingkat Diploma. Setamat kuliah, ia segera merantau ke Jakarta. Keterampilannya sebagai MC dan EO dipelajarinya secara otodidak. Hal itu menandakan semangat belajarnya yang tinggi, walau menghadapi kesibukan yang beragam. Saat memulai tugas di PPSDMS, ia juga masih sempat menimba ilmu di Universitas Terbuka, Jakarta menempuh jurusan Manajemen.

 

Ilmu yang dipelajarinya itu kemudian diterapkan pula di tempat kerja. Pertama sekali ia bertugas di PT Bumi Arasy sebagai Supervisor Program (1993-1997). Setelah memiliki pengalaman yang cukup, ia ingin mengembangkan diri di PT Pelangi Indah Can sebagai Supervisor Training (1998). Dari sinilah kemudian ia bergabung dengan Yayasan Nurul Fikri sebagai Kepala Seksi Sumber Daya Manusia (1998-2000) hingga akhirnya menjadi Manajer di NF Training & Testing Center (2000-2005). “Kemampuan pak Edi sebagai trainer sangat terpercaya, sehingga ia mampu mendinamisir peserta dalam setiap acara,” ujar Muhammad Ichsan, Manajer Program PPSDMS Pusat.

 

Seperti terlihat dalam acara PKN, saat peserta sudah lesu dan mengantuk, maka ia akan meneriakkan yel-yel: “PPSDMS?”, dan peserta menjawab kompak: “Siap!”. Ketika ia menyerukan: “Future Leader?”, maka peserta menjawab lagi dengan suara lebih kencang: “Yes, we are Future Leader!”. Walhasil, ia dikenal sebagai juru kampanye yang piawai untuk setiap acara PPSDMS.

 

Selain aktif di tempat kerja dan organisasi, Edi juga memberikan kontribusi besar di lingkungan terdekatnya. Ia menjadi Ketua RT (Rukun Tetangga) dan juga membantu Seksi Kerohanian di RW (Rukun Warga). Rumahnya terletak di Jalan Basuki Raya RT 05 RW 06, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Kedekatan Edi dengan warga sekitar kampungnya sangat terlihat, kala mereka mengantarkan jenazahnya ke pemakaman Setu Bambu Apus. Ketua RW 06 memberi sambutan terakhir dan menyebut pengorbanan Edi untuk melayani keperluan warga dalam administrasi kependudukan. “Apakah saudara-saudara menyaksikan almarhum bapak Edi Widodo sebagai ahlul khair (orang yang berbuat kebajikan)?”, tanya Ketua RW. Maka, seluruh hadirin yang berada di sisi makamnya menegaskan, “Ya, dia termasuk ahlul khair!”.

 

Sahabat kami Edi pergi meninggal seorang isteri, Nyonya Nurkedi. Ia juga meninggalkan tiga orang anak, yakni Azzahra Imaniar Widyaputri (berusia 12 tahun), Hafidzah Kautsar Ramadhina (7 tahun), dan Muhammad Fikri Hakim (3 tahun). Putri pertamanya baru masuk SMP dan putri kedua masih di SD, sedang putra bungsunya mau masuk TK. Semoga mereka semua diberi kekuatan dan ketabahan oleh Allah Ta’ala, sehingga dapat menempuh hidup ini dengan penuh ketegaran dan mampu mencapai cita-cita yang diinginkan. Menurut rekan kerjanya yang paling karib, Slamet Bahari, “Kebersamaan di antara kami tak akan berakhir dengan kepergian Edi, karena keluarga Edi Widodo juga menjadi bagian dari keluarga besar PPSDMS.”

 

Tugas-tugas yang ditinggalkan sahabat Edi kini dijalankan oleh rekan Adi Wahyu Adji. “Ternyata banyak sekali relasi yang telah dirintisnya. Hal itu terlihat dari daftar donatur dan calon donatur yang setiap bulan harus dikirimi Newsletter PPSDMS, yang kini bernama Future Leader,” kata Adji. Karena sangat banyaknya beban tugas yang harus dijalankan sebagai Staf Kemitraan, maka Adji sering telat makan siang atau makan malam. Itulah juga situasi yang dialami sahabat Edi, sehingga suatu ketika atas takdir Allah jua ia terkena gejala sirosis (kanker hati).

 

Penyakit ini, menurut kalangan medis, bisa disebabkan karena pola makan yang tidak teratur, sementara tingkat stress sangat tinggi. Dalam kondisi tubuh yang tidak fit, maka virus bisa menyerang organ tubuh yang vital. Kepergian sahabat Edi memberi pelajaran berharga bagi kami agar berdisiplin dan bekerja keras dalam menunaikan semua tugas, namun juga harus tetap menjaga kebugaran tubuh dan stamina. Selain itu, pelajaran yang tak kalah penting adalah memelihara hubungan dengan semua pihak yang mendukung program kebaikan, baik di tempat kerja maupun di lingkungan tetanga.

 

Rasulullah Saw pernah mengingatkan, “Jika meninggal seorang anak Adam (manusia), maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya”. Sahabat kami Edi Widodo, insya Allah, memiliki ketiga-tiganya, sebuah investasi besar di akhirat.

 

Selamat jalan, sahabat. Jejak langkahmu akan kami lanjutkan dengan keteguhan hati. Karena perjuangan ini tidak boleh henti, hingga cita-cita kita bersama untuk tampilnya “bangsa Indonesia yang bermartabat di mata dunia” dapat tercapai. [spt]

Strategi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Yayasan Paguyuban Ikhlas: Harapkan Pemimpin Ikhlas

No Responses to “Selamat Jalan Sahabat: Edi Widodo, 1969-2008”

No comments yet.

Name
E-mail
Website
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

PPSDMS Didukung Sepenuhnya Oleh:


tertarik untuk berperanserta?