Print This Post

Regenerasi Kepemimpinan Nasional

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing {mso-style-priority:1; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

< ![endif]–>

Panggung politik nasional disibukkan dengan tawar-menawar posisi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Setelah tarik-menarik yang alot akhirnya tampil tiga pasang kandidat: Jusuf Kalla-Wiranto (JK Win), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berboedi), dan Megawati Soekarnoputeri-Prabowo Subianto (Mega Pro). Nama-nama yang keren, slogannya pun lumayan atraktif. Tapi, di tengah riuh-rendah debat politik itu sebenarnya ada fenomena yang luput dari perhatian: gagalnya regenerasi kepemimpinan nasional.

Salah satu indikatornya bisa kita lihat usia para kandidat. JK yang berumur 67 tahun menggandeng Wiranto (62 tahun), tergolong figur paling senior. Lalu, SBY (60 tahun) terpaksa memilih Boediono (66 tahun) yang lebih tua dari dirinya sendiri. Sementara Mega (62 tahun) sedikit lebih beruntung, karena mendapat pasangan lebih muda, Prabowo (58 tahun), di menit-menit terakhir.

Pasangan pertama yang diusung Golkar-Hanura paling kentara mengalami kesulitan untuk memulai regenerasi. Padahal, banyak tokoh Golkar yang lebih muda, dan bahkan lebih tinggi elektabilitasnya dari JK, antara lain: Sri Sultan Hamengkubuwono X (63 tahun), Akbar Tanjung (62 tahun) atau Marwah Daud Ibrahim (57 tahun) dan Fadel Muhammad (56 tahun) yang sedang naik daun. JK mengabaikan potensi kepemimpinan dalam partainya sendiri, dengan memperkuat posisinya dalam Rapimnasus dan menepikan aspirasi sejumlah wilayah/daerah yang menginginkan penyegaran. Mungkin JK dan sebagian sesepuh Golkar berpandangan pilpres 2009 adalah the last chance yang harus direbut, agar partai beringin bangkit kembali. Padahal, boleh jadi hal itu justru jadi momen the last termination yang menyakitkan.

Fenomena serupa kita lihat pada Partai Demokrat yang terlalu percaya diri bahwa elektabilitas SBY sangat tinggi, sehingga dipasangkan dengan tokoh manapun—sampai ada istilah dipasangkan dengan “botol” sekalipun—akan tetap menang pilpres. Dengan sikap itu, SBY menganggap sepi aspirasi mitra koalisinya, seperti Partai Keadilan Sejahtera yang mengajukan Hidayat Nur Wahid (48 tahun) atau Hatta Rajasa (55 tahun) yang dicalonkan Partai Amanat Nasional, apalagi Muhaimin Iskandar (43 tahun) yang diajukan Partai Kebangkitan Bangsa. Jika SBY menghendaki tokoh profesional yang lebih muda juga tersedia: Sri Mulyani Indrawati (46 tahun) atau Jimly Asshiddiqie (52 tahun), yang masuk dalam daftar ajuan kelompok masyarakat. Sejumlah tokoh itu, kecuali Sri Mulyani, memiliki bobot lebih karena dapat dipandang mewakili aspirasi keummatan yang kini hilang dari formasi kepemimpinan nasional.

PDIP Perjuangan tampaknya menghadapi situasi paling tragis, karena seolah tak ada jalan mundur. Padahal, bila kita cermati dengat hati-hati, Mega masih punya peluang untuk menjadi queen maker , misalnya dengan memberikan tongkat estafeta kepada Puan Maharani (34 tahun). Dengan begitu, pasangan Prabowo-Puan bisa melaju lebih percaya diri. Sebab seorang pengamat, Umar S. Bakry dari Lembaga Survei Nasional (LSN) menyatakan Mega sudah “kartu mati” yang tak tak menarik lagi atensi pemilih baru. Mega dan PDIP juga punya peran sangat krusial, apabila berani menyokong Prabowo berpasangan Soetrisno Bachir (51 tahun), misalnya, yang juga didukung diam-diam oleh Partai Persatuan Pembangunan. Termasuk pula, kesempatan Mega untuk mendukung Rizal Ramli (55 tahun) dari Blok Perubahan untuk mendampingi Prabowo. Semua itu terbukti hanya harapan kosong, karena Mega ingin maju sendiri. Akibatnya, Taufik Kiemas harus masuk rumah sakit, karena usul berkoalisi dengan SBY ditolak mentah-mentah.

Memang masalah regenerasi tidak hanya ditentukan oleh faktor usia. Ada faktor integritas, kapabiltas dan akseptabilitas tokoh yang harus teruji di tengah masyarakat. Sayangnya, masyarakat melihat dengan mata telanjang, betapa tingkat kepercayaan tokoh senior sangat rendah kepada juniornya karena sejumlah alasan. Lihat saja JK yang tak memberi kesempatan kepada Akbar untuk melaju, karena dulu pernah berseteru dan sekarang Akbar justru mendukung SBY sebagai pesaing JK. SBY juga ragu untuk memilih tokoh yang lebih muda, karena takut ancaman friksi domestik (antar-partai pendukung) atau tekanan asing (karena citra kandidat yang dipandang kental ideologi Islam), sehingga terlontar istilah jangan sampai memelihara “anak macan”! Siapa yang disebut anak macan sebenarnya dan seberapa besar bahayanya bagi kelangsungan hidup bernegara, tidak jelas.

Di PPSDMS kami memperhatikan momen penting semisal penentuan capres dan cawapres luput dari upaya pencapaian regenerasi kepemimpinan nasional. Regenerasi harus dilakukan secara sadar dan diterima oleh mayoritas masyarakat, tanpa ketakutan atas resistensi sebagian kelompok yang sakit hati atau tekanan asing yang terselubung. Jangan sampai regenerasi dipaksa oleh keadaan sebagaimana peralihan kekuasaan Soekarno kepada Soeharto (1967) dan Soeharto kepada B.J. Habibie (1999), atau Abdurrahman Wahid kepada Megawati (2001). Kami yakin proses regenerasi merupakan tanggung-jawab kolektif untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi 1945: menjadi bangsa yang merdeka, maju dan sejahtera, serta berwibawa di tengah pergaulan dunia.

Jakarta, Mei 2009

Salam Redaksi

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Jihad Melawan Mafia Hukum
Jihad Melawan Mafia Hukum
Oce Madril Penegakan hukum di tahun lalu mencerminkan bahwa hukum laksana sebuah mata pisau ketidakadilan. Tajam ke bawah tumpul ke atas. Tajam ke arah maryarakat miskin, sebaliknya tumpul di hadapan kekuasaan dan pemilik akses ekonomi dan politik. S...

Leadership Corner

Kepemimpinan Profetik: nabi Daud a.s
Kepemimpinan Profetik: nabi Daud a.s

“Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab, “jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “ Mengapa kami tidak
akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir [...]