Print This Post

Program

Kepemimpinan Profetik
Kepemimpinan baru yang digagas oleh PPSDMS Nurul Fikri adalah sebuah kepemimpinan profetik, kepemimpinan yang berlandaskan pada nilai-nilai wahyu yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Yang ingin dibangun oleh PPSDMS bukanlah pemimpin yang sekedar mampu memenuhi professional responsibility, namun juga devine responsibility. Model kepemimpinan profetik tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Model Kepemimpinan Profetik
model-kepemimpinan-profetik

Kualitas Lunak (Soft Side)
Sisi lunak akan menentukan sisi keras. Apa yang tidak tampak (paradigma/pola pikir) akan muncul dalam apa yang terlihat (perilaku). Sebagaimana tersurat dengan sangat tegas dalam Visi PPSDMS Nurul Fikri, kualitas sisi lunak yang diinginkan dari pemimpin baru produk PPSDMS adalah pemahaman Islam yang komprehensif, moderat, dan inklusif, kepribadian yang matang, dan kepedulian terhadap kehidupan bangsa dan negara.

Kualitas Pribadi
Pemimpin-pemimpin baru yang ingin dihasilkan oleh PPSDMS adalah Pemimpin Jenjang Kelima yang tampil dengan modal kredibilitas dan kompetensi. Kredibilitas dibangun di atas fondasi kejujuran dan integritas (shiddiq), dan dapat dipercaya (amanah). Sedangkan kompetensi dikembangkan dengan dasar kecerdasan (fathanah) dan kemampuan menjadi komunikator yang inspiratif (tabligh).

Kualitas sisi lunak yang pribadi dan kemudian direfleksikan dalam kualitas pribadi yang tangguh akan berbuah kemampuan membangun trust and respect dari orang lain dan lingkungan di mana seseorang berada, yang menjadi kekuatan yang besar baginya untuk berperan sebagai penggagas dan sumber inspirasi, sekaligus penentu arah dan motor penggerak proses transformasi.

Proses Pengembangan Kepemimpinan Profetik
Upaya mengembangkan Kepemimpinan Profetik seperti yang diuraikan pada bagian sebelumnya bukan sesuatu yang instan. Dibutuhkan sebuah proses yang sistematis dan terstruktur dengan rapi, yang secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Model Proses Pengembangan Kepemimpinan Profetik

proses-pengembangan-kepemimpinan-profetik

Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN) yang wajib diikuti oleh seluruh peserta PPSDMS di awal masa pembinaan mereka diarahkan untuk membangun prakondisi yang dibutuhkan untuk proses pembinaan selanjutnya, yaitu mental pembelajaran (learning mental) dan perilaku pembelajaran (learning behavior), sehingga para peserta PPSDMS siap membina dan mengembangkan dirinya menjadi pemimpin pembelajar.

Prakondisi tersebut diharapkan akan menggerakkan proses membongkar paradigma lama, atau yang oleh Drucker disebut sebagai escape from the past (unlearning process), dan selanjutnya mendorong proses membangun paradgima baru, yang oleh Drucker disebut sebagai invent the future (learning process).

Selepas PKN para peserta PPSDMS memasuki tahap Penyemaian di mana mereka mengikuti 10 Aspek Pembinaan Kepemimpinan yang terdiri dari Islam sebagai Paradigma, Kualitas Pribadi, Wawasan Berpikir yang Luas dan Komprehensif, Prestasi Akademik, Persiapan Pengembangan Profesi, Kemampuan Komunikasi, Ibadah dan Pensucian Jiwa, Nasionalisme, Fisik yang Sehat dan Kuat, dan Apresiasi Seni dan Budaya.

Setelah menyelesaikan masa pembinaan selama 2 tahun, para peserta PPSDMS berubah posisinya menjadi alumni. Walaupun demikian, interaksi PPSDMS dengan mereka tetap terjalin, dalam bentuk Pemberdayaan yang berfokus pada dua pola utama, yaitu Mentoring dan Pemagangan.

Pemberdayaan alumni ditujukan untuk memperkuat dan mempercepat proses mobilitas sosial vertikal para alumni PPSDMS, sehingga mereka mampu berkiprah secara nyata dan berpengaruh secara signifikan dalam pengambilan keputusan di berbagai institusi strategis yang ada di ketiga sektor utama kehidupan masyarakat, yaitu Sektor Publik, Sektor Privat, dan Sektor Ketiga, sebagaimana digambarkan oleh Grover (1998) sebagai berikut:

3-sectors

Motivasi utama institusi-institusi di sektor publik adalah memberikan pelayanan kepada publik, seluruh anggota masyarakat, tanpa kecuali, apalagi tindakan diskriminatif. Pada dasarnya, organisasi di sektor ini dibentuk melalui mekanisme kontrak sosial, di mana masyarakat luas memberikan mandat kepada sekelompok orang, yang merupakan bagian dari masyarakat tersebut, untuk mengatur dan mengelola kebijakan publik, menjadi “juri” yang bertugas mencegah diskriminasi dan penindasan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau kelompok orang lainnya, di samping memperkuat ikatan sosial di antara mereka. Semakin moderen suatu negara, semakin transparan pula proses penyepakatan kontrak sosial yang menjadi dasarnya terbentuknya institusi-institusi di sektor publik tersebut.

Selanjutnya, sektor privat, yang sering pula disebut sektor pasar, terdiri dari organisasi-organisasi yang semangat utamanya adalah mencari keuntungan melalui aktifitas-aktifitas menurut mekanisme pasar berdasarkan motif-motif ekonomi. Efisiensi dan produktifitas merupakan dua ukuran penting yang digunakan, yang pada gilirannya akan bermuara pada keuntungan material. Dalam kondisi normal, sebagian besar anggota masyarakat akan bergerak di sektor ini untuk membangun kemandirian ekonominya.

Sementara itu, organisasi-organisasi yang berada pada sektor ketiga (third sector), atau dikenal juga sebagai CSO, pada hakikatnya berperan sebagai pelangkap bagi sektor publik dan sektor privat. Spirit utama organisasi-organisasi di sektor ini adalah mengambil peran komplementer terhadap Pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat, dengan mengedepankan tanggungjawab individu dalam mengatasi tantangan-tantangan sosial. Namun organisasi-organisasi sektor ketiga juga memiliki peran lain, yaitu sebagai watchdog yang mengawasi efisiensi dan efektifitas langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam memberikan layanan publik yang berkualitas.

Dengan mobilitas sosial vertikal yang nyata di ketiga sektor kehidupan tersebut, diharapkan para alumni PPSDMS kemudian akan mampu berkontribusi secara signifikan sebagai inisiator, inspirator, penentu arah, dan penggerak proses transformasi masyarakat, bangsa, dan negara.

Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS