Prof. Dr. Gumilar R. Somantri: Memaknai Kebangkitan Nasional dengan Rahmat Islam
Saya ingin berbicara kepada Anda sekalian sebagai sosok pemimpin. Para pemimpin masa depan yang diharapkan kehadirannya. Saya ingin menyampaikan tiga hal. Pertama adalah mengenai kebangkitan nasional. Saya mau mengatakan, bila kita mengatakan kebangkitan nasional tak akan dapat dipisahkan dari yang namanya Universitas Indonesia. UI merupakan universitas yang menjadi basis pergerakan dan intelektualitas para pemuda Indonesia melawan penjajahan dan kolonialisme Belanda. Kita tentu mengenal STOVIA yang menjadi tempat anak-anak muda membangun Boedi Oetomo yang menjadi organisasi pergerakan untuk menciptakan momentum kebangkitan nasional. Dari STOVIA, maka muncul sekolah-sekolah lain yang kemudian menjadi fakultas-fakultas dari Universiteit van Indonesie. Di Bandung berdiri Fakultas Teknik, di Bogor berdiri Fakultas Pertanian.
Pada tahun 1949, terjadi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda. Karena di Yogyakarta kosong tidak ada universitas, maka kala itu Bung Karno ingin membuktikan bahwa Indonesia yang merupakan negara yang baru berdiri mampu mendirikan sebuah universitas. Akhirnya didirikanlah universitas di Yogyakarta dengan mengirimkan profesor-profesor dari Universiteit Van Indonesie. Diambillah nama Gajah Mada untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa kita punya masa lalu yang gilang-gemilang, yakni zaman Majahpahit. Karena Bung Karno percaya dengan tesis bahwa “the state follow the nation”, meski banyak pada ahli sejarah yang percaya Indonesia adalah “the nation follow the state”.
Pada tahun 1950, Universiteit van Indonesie berubah menjadi Universitas Indonesia. Terjadi perdebatan antara profesor Belanda dengan profesor Republiken Indonesia. Profesor-profesor Belanda tidak mau mengganti, karena menurut mereka bahasa Indonesia bukanlah bahasa akademis dan tidak bisa menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Setelah itu, cabang-cabang Universitas Indonesia di Bandung menjadi Institut Teknologi Bandung, Fakultas Pertanian di Bogor menjadi Institut Pertanian Bogor. Universitas Hasanundin adalah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Poin kedua, mengenai legacy (warisan) dari Republik ini. Saya mempunyai asumsi bahwa ketika reformasi terjadi tahun 1998, percaya atau tidak, mahasiswa menjadi ujung tombak dari rakyat. Di kampus, dosen-dosen berkumpul untuk memasok logistik. Yang menuntut Soeharto turun tak lain adalah profesor-profesor dari UI, tatkala mereka datang ke Cendana. Yang paling vokal adalah profesor sepuh dari UI, yakni Prof. Miriam Budiarjo.
Anak-anakku sekalian, Republik ini ada melalui sebuah proses sejarah yang panjang. Dahulu kala, para founding fathers kita berdiskusi secara informal mengenai apa dasar dari negara kita kelak. Bung Karno pun diminta berpidato mengenai Dasar Negara kita dengan judul pidato “Pedoman Oemoem”. Dalam pidato itu, Bung Karno berkata bahwa dasar filsafat yang merupakan konsensus adalah Pancasila. Pancasila bukanlah hasil academic exercise, melainkan political appeal. Bung Karno mengatakan bahwa Pancasila bisa menjadi eka sila, tri sila, atau yang lainnya. Akhirnya dibuatlah Panitia Sembilan yang menghasilkan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta persis seperti Pancasila hanya dengan penambahan 7 kata yang mewajibkan syariat Islam bagi pemeluk Islam. Tapi, beberapa orang Kristen tidak menginginkan menjadi bagian dari Indonesia kalau tujuh kata tersebut dimasukkan. Mereka hanya mau bergabung kalau tujuh kata itu dihapuskan.
Waktu itu Bung Hatta dan tokoh Islam dari Aceh mencoba meyakinkan tokoh Islam lainnya untuk menghapus tujuh kata itu. Waktu itu, tokoh-tokoh Islam Nasionalis melihat bahwa Pancasila juga sangat mencerminkan keislaman. Inilah sebuah nilai kepemimpinan.
Waktu tahun 1949 sampai 1959 terjadi kabinet jatuh bangun, jatuh bangun. Tapi, ada dua pelajaran, yakni semua komponen bangsa mampu memberikan sebuah demokrasi tulen. Yang kedua adalah pelajaran mengenai kepemimpinan muda. Ingat Soekarno menjadi presiden pada usia kepala empat puluhan. Lihatlah PKI yang diusung oleh pemuda-pemuda idealis militan. Harus kita akui, PKI adalah partai yang mampu masuk hingga akar rumput dengan melakukan pemberdayaan. Di sisi lain, begitu juga dengan TNI dimana institusi ini juga dipimpin oleh seorang jenderal muda bernama Abdul haris Nasution.
Poin ketiga yang ingin saya sampaikan adalah Republik di era kontemporer dimana kita tidak bisa melepaskan diskusi kita mengenai globalisasi. Suka tidak suka kita hidup di era yang berbeda. Banyak persoalan Republik yang dihadapi oleh kita, apalagi oleh pemimpin muda seperti Anda.
Dalam era kontemporer. Pertama, Republik ini akarnya dapat ditarik jauh ke belakang dari pembentukan UI. Begitu juga dengan pergolakan tatkala Republik ini masih muda. Sekarang kita harus menyadari tantangan kita ke depan. Kalau kita tidak mengetahui siapa diri kita sekarang, bagaimana kita bisa membayangkan masa depan? Saya ingin mengajak Anda semua untuk berpikir bahwa Republik ini ibarat sebuah daging yang diperebutkan oleh singa-singa. Singa-singa itu tak lain adalah negara-negara maju yang selalu menyedot kekayaan kita.
Dalam peradaban kita sekarang, bahkan dalam peradaban global, kita mengetahui bahwa dunia menghadapi tantangan global. Kita lihat bagaimana krisis energi global, krisis pangan global, krisis air, dan krisis lingkungan. Bumi yang demikian kecil ini bahkan dihuni oleh 6 milyar orang. Sampai sekarang Indonesia belum mampu mengatasi permasalahan-permasalahan ini. Mungkin saja Indonesia memiliki berbagai macam konsep tentang pembenahan. Tapi itu saja tidak cukup karena Indonesia adalah The nation without backbone.
Intinya, rekan-rekan sekalian, kita harus terus berjuang. Kita harus paham bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Maka kita adalah agen-agen untuk mewujudkannya rahmat semesta itu, sehingga seluruh permasalahan bangsa, umat, dan kemanusiaan dapat kita selesaikan. [faisal]
*) Rektor Universitas Indonesia. Intisari ceramah disampaikan dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional pada 3-10 Agustus 2008.


























