Print This Post

Muhamad Fajrin Rasyid: Pelajaran dari Negeri Ginseng

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Batang; panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; mso-font-alt:바탕; mso-font-charset:129; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@Batang”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:129; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:Batang;} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing {mso-style-priority:1; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:Batang;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-fareast-font-family:Batang;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

< ![endif]–>

Saya – anak pertama dari tiga bersaudara – dilahirkan di Jakarta, 11 September 1986 dan menghabiskan masa kecil di kota tersebut. Selepas lulus dari SD Islam Dian Didaktika Depok, saya sempat tinggal di Padangsidempuan, sebuah kota di Sumatra Utara selama satu tahun sebelum akhirnya pindah ke Pekalongan, Jawa Tengah, hingga lulus SMA. Pada tahun 2004, saya diterima di program studi Teknik Informatika ITB melalui jalur USM ITB khusus siswa peraih medali Olimpiade Sains Nasional dan hingga kini masih berkuliah disana.

Sejak kecil, saya cukup menonjol dalam bidang matematika. Ketika SMA, saya meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional bidang studi matematika dan meraih gelar Honorable Mention pada Asian Pacific Mathematical Olympiad (APMO) pada tahun 2004. Namun, saya gagal mewakili Indonesia untuk berlaga di International Mathematical Olympiad (IMO) setelah hanya menempati peringkat ke-7 nasional (yang mewakili adalah peringkat 1-6). Hal tersebut justru memicu saya untuk kembali berusaha ketika berkuliah – meskipun jurusan yang saya ambil bukan matematika. Alhamdulillah, ketika di tingkat universitas, saya berhasil mewakili Indonesia di ajang sejenis, yaitu International Mathematics Competition (IMC) yang ketika itu diselenggarakan di Ukraina pada tahun 2006. Di sana saya meraih gelar Honorable Mention.

Sebagai mahasiswa, saya sadar bahwa menjadi seorang mahasiswa yang baik bukan hanya sekadar berkuliah di kelas untuk memperoleh IP tinggi. Saya mengingat hingga saat ini pesan yang disampaikan ketika saya dan 3000-an mahasiswa baru ITB lainnya pertama kali disambut di Sasana Budaya Ganesha dalam acara sidang penyambutan mahasiswa baru ITB tahun 2004 oleh rektor ITB ketika itu, Kusmayanto Kadiman. Beliau ‘menantang’ kami untuk menjadi mahasiswa ideal yang beliau idamkan, yaitu mahasiswa ABG. A disini berarti A-kademis baik, yang ditandai dengan IP lebih dari 3,5 dan lulus dengan gelar cumlaude. B disini berarti B-erorganisasi, yang ditandai dengan mengikuti minimal 3 organisasi dan kepanitiaan. Sementara itu, G disini berarti G-aul, yang ditandai dengan mengenal minimal 1000 mahasiswa lainnya.

Tantangan tersebut menjadi salah satu pemacu bagi saya sejak awal berkuliah di ITB untuk berprestasi sebaik mungkin. Alhamdulillah, saat ini secara akademis IPK saya masih belum turun dari 4,00. Sementara itu, jumlah organisasi dan kepanitiaan yang saya ikuti beserta jumlah mahasiswa yang saya kenal sejak saya masuk ITB alhamdulillah sudah melebihi angka-angka tersebut. Saya dipercaya menjadi ketua angkatan mahasiswa Teknik Informatika ITB angkatan 2004 serta sempat menjadi ketua Dewan Perwalian dan Pengawasan Himpunan Mahasiswa Informatika (DPP HMIF) – lembaga legislasi organisasi program studi – serta wakil menteri keprofesian dan teknologi Kabinet KM ITB 2007/2008. Sifat ABG pulalah yang turut andil mengantarkan saya untuk memperoleh juara 2 Ganesha Prize (sebutan untuk mahasiswa terbaik ITB) tahun 2007 dan terpilih sebagai salah satu peserta pertukaran pelajar ke Korea Selatan selama tahun 2008 lalu.

Hidup di negeri orang lain selama satu tahun memberikan amat banyak pengalaman bagi saya – mulai dari mengalami musim yang berbeda-beda, merasakan kecanggihan teknologi terutama dalam bidang transportasi dan kehidupan sehari-hari, hingga budaya dan gaya hidup yang dalam beberapa hal sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kita. Namun, yang terutama adalah saya terpacu untuk berdisiplin dan menghargai waktu seperti penduduk negara tersebut. Suatu hari saya sempat ditinggal oleh teman saya karena saya terlambat 3 menit dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu – hal ini amat mengejutkan saya. Demikian pula, saya terpesona dengan jadwal angkutan umum – bus ataupun kereta api – yang sangat tepat sesuai dengan yang tercantum di tiket. Nampaknya budaya seperti inilah yang berkembang di negara maju dan perlu kita tiru.

Sejak kecil, motto saya adalah “Do what I have to do best, never try being mediocre”. Saya berpikir, apabila kita tahu persis apa yang harus kita lakukan, maka kita akan melaksanakannya dengan baik. Oleh karena itu, dalam mengikuti kuliah misalnya, kita akan mampu mengikuti dengan baik jika kita mengetahui dengan pasti apa manfaat dari kuliah tersebut atau mengapa kita harus mengikuti kuliah tersebut. Setelah itu, kita dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya. Menjadi seorang mediocre (sedang-sedang saja) menurut saya tidak akan berguna karena tidak akan mendapat banyak tempat dalam hal apapun.

Motivasi juga merupakan suatu hal yang dapat memacu kita untuk melaksanakan hal dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, salah satu yang memicu saya untuk melakukan segala hal dengan baik adalah keinginan untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama, seperti disabdakan Rasulullah SAW. Sebagai contoh, saya selalu berpikir bahwa apabila saya dapat memahami materi kuliah dengan baik, maka saya dapat mengajarkannya kepada teman-teman saya yang kurang memahaminya. Mungkin saja ilmu tersebut dapat mereka manfaatkan di jalan kebaikan, dan berkembang menjadi ilmu bermanfaat yang tiada putusnya. (Februari 2009)

*) Alumni PPSDMS Regional 2 Bandung, Angkatan III, masih menyelesaikan studi di jurusan Teknik Informatika ITB angkatan 2004.

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS