Menyalakan Lilin untuk Menerangi Kegelapan Bangsa
Aula Barat kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), akhir Oktober (31/10) lalu, dipadati pengunjung. Sekitar 1000 hadirin mengikuti kuliah umum dalam peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda (1928-2008) yang disampaikan Arifin Panigoro, Founder Medco Group. Kang Pipin, demikian pelaku usaha bidang perminyakan yang kini merambah ke sektor agribisnis itu biasa disapa, menyampaikan makalah berjudul “Merebut Masa Depan: Menyemai Energi, Pangan, dan Pendidikan”.
Intinya, Arifin menegaskan, “Pengembangan energi terbarukan dan peningkatan produksi pangan adalah dua isu yang penanganannya tidak bisa ditunda.” Untuk menuntaskan program itu, maka dihajatkan barisan SDM andal dan berkomitmen tinggi. Hal itu dapat dicapai dengan pengembangan dunia pendidikan. “Oleh sebab itu, kita sebaiknya menyalakan lilin demi terbangunnya segitiga keseimbangan antara energi, pangan, dan pendidikan,” ujar Kang Pipin dalam presentasi memukau. Tak hanya mengutuk kegelapan dan protes dengan segala ketimpangan.
Di antara hadirin yang menyimak dengan tekun terdapat 65 peserta PPSDMS yang berasal dari Regional 2 Bandung (32 mahasiswa ITB dan Unpad), Regional 1 Jakarta (19 mahasiswa UI), Regional 5 Bogor (9 mahasiswa IPB) dan Regional 4 Surabaya (6 mahasiswa ITS). Kami diundang khusus mendengarkan paparan tokoh alumni ITB angkatan 1963. Peserta PPSDMS dari Bogor dan Jakarta berangkat dengan menggunakan bus sewa, sedang dari Surabaya naik pesawat. Kami kejar pengetahuan dan kearifan, meski harus pergi jauh ke kota kembang.
Pada sesi tanya-jawab, banyak hadirin mengacungkan jari, dua di antaranya peserta PPSDMS, yakni Faisal Navis (IPB) dan Anantama Fauzan Andzima (UI). Fauzan bertanya, “Apa kewajiban yang sudah dilakukan Medco untuk penduduk Papua sebagai lokasi usahanya?” Arifin menjawab dengan mengungkapkan fakta, “Kami menyediakan layanan pendidikan untuk penduduk sekitar, disamping usaha yang terkait langsung dengan kepentingan masyarakat. Saat ini ada lahan seluas 20 hektare yang ditanami jagung dan padi organik. Lahan itu digarap dua kelompok masyasrakat setempat. Kelompok masyarakat yang ingin berpartisipasi banyak sekali, tapi kami berusaha agar efektif dan menghasilkan panen optimal”. Berbisnis tak hanya mengeksploitasi potensi lokal.
Lahan yang digarap Medco baru sebagian kecil dari 350.000 hektare lahan di tiga Kabupaten di Papua, seluas Pulau Jawa, yang menganggur. Apalagi, lahan kritis di seluruh Indonesia saat ini seluas 77,8 juta hektare yang tersebar di seluruh provinsi. Luas lahan kritis itu sama dengan 40% luas daratan seluruh Indonesia! Medco Foundation bekerjasama dengan pemerintah daerah, semisal Kalimantan Tengah, memanfaatkan 11,5 hektare lahan gambut yang terbengkalai agar ditanami padi SRI Organik. SRI adalah System of Rice Intensification, yang berproduktivitas tinggi, memakai pupuk organik dan memerlukan relatif sedikit air, sehingga bisa ditanam di lahan kering.
Hasil paneh di Kalteng pada 28 April 2008 lalu adalah 5,5 ton gabah per hektare, sementara dengan cara konvensional selama ini hanya menghasilkan 2,5 ton gabah per hektare. Sebagai perbandingan, pemanfaatan lahan kritis juga dilakukan di Brazil dengan mengolah 3,6 juta hektare lahan untuk kebun tebu. Hasilnya, Brazil menjadi produsen etanol terbesar di dunia! Pemanfaatan lahan di Brazil itu hanya 4,5% dari total lahan kritis di Indonesia. Bayangkan, apabila kita dapat mengoptimalkan sumber daya alam yang menganggur selama ini.
Perkenalan Kang Pipin dengan PPSDMS sudah cukup lama. Perhatiannya pada dunia pendidikan terbukti dengan kiprah Medco Foundation. Medco juga dikenal sebagai lembaga yang cepat tanggap membantu korban bencana, seperti program evakuasi dan rehabilitasi di Aceh saat terjadi gempa-tsunami tahun 2004. Kang Pipin pernah memberikan ceramah dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional PPSDMS tahun 2007 dan 2008. Kepada perpustakaan PPSDMS, ia menghadiahkan buku memoar “Berbisnis itu (Tidak) Mudah” (edisi ketiga, 2008). Dalam buku setebal 164 halaman itu tersembul prinsip klasik “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Berbuat nyata selalu lebih bermakna ketimbang berwacana. [adji/sapto]


























