Sakitnya mantan Presiden Soeharto memperlihatkan fenomena lain dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Sejumlah tokoh menjenguk mantan penguasa Orde Baru yang memerintah selama lebih dari tiga dasawarsa (1966 – 1998) itu. Kunjungan pejabat domestik dimulai dari orang nomor satu dan dua di Republik ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selain itu juga tampak dalam sorotan media Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua DPD Ginanjar Kartasasmita dan petinggi lain yang pernah atau sedang berkuasa.
Tak hanya pejabat domestik, tokoh dari mancanegara juga ikut menjenguk, antara lain Lee Kuan Yew (mantan PM yang kini menjadi Minister Mentor dari Singapura), Mahathir Muhammad (mantan PM Malaysia) dan Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei Darussalam). Mereka semua dikenal sebagai sahabat dekat Soeharto yang sama-sama mendirikan dan membangun ASEAN, asosiasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi Soeharto yang kritis rupanya menjadi magnet tersendiri.
Sadarkah kita, bahwa Soeharto adalah orang kedua dalam sejarah dunia yang paling lama berkuasa? Ranking pertama penguasa terlama di dunia adalah Fidel Castro dari Cuba yang lahir tahun 1926 dan berkuasa sejak tahun 1959 melalui sebuah kudeta atas rezim Fulgencio Batista. Sepanjang 47 tahun masa kekuasaannya itu, Castro membuat dua periode transisi sebagai Perdana Menteri (1959-1976) dan Presiden (1976-2007). Pada tahun 2006, Castro sempat mengalami sakit keras, sehingga dia menunjuk adiknya Raul Castro Ruz sebagai Wakil Presiden yang akan mewarisi kekuasaannya.
Setelah Castro, Soeharto menempati posisi kedua tokoh yang paling lama berkuasa. Posisi ketiga diduduki Lee Kuan Yew, PM Singapura yang berkuasa 31 tahun (1959-1990), diikuti Ferdinand Marcos, Presiden Filipina yang berkuasa 30 tahun (Desember 1965- Februari1986). Sedang Mahathir berkuasa “hanya” 22 tahun (1981-2003). Perlu dilakukan studi yang lebih serius untuk menelusuri jejak kekuasaan tokoh dunia.
Persoalannya, bukan berapa lama seseorang berkuasa, tapi apa pengaruh kekuasaan itu bagi masyarakat yang dipimpin? Apakah kekuasaan itu membawa berkah kebebasan warga dan kesejahteraan umum, atau malah bencana penindasan dan penyengsaraan rakyat banyak? Dalam kasus Soeharto, terjadi polemik tentang jasa baik dan jejak buruk yang ditinggalkannya bagi bangsa Indonesia. Tapi, dalam kasus Castro banyak aspek positif yang diungkap orang, meski Presiden George Bush dari Amerika Serikat terus-menerus menyerangnya. Catatan positif tentang Castro sekurangnya diungkapkan Michael Moore dalam film dokumenter “The Sickoo”. Film itu menceritakan investigasi Moore terhadap pelayanan kesehatan di negeri Paman Sam yang ternyata lebih buruk dibandingkan fasilitas dan pelayanan kesehatan di Cuba, negeri penghasil tebu/gula terbesar di dunia.
Dunia kini menyaksikan darah segar dalam kepemimpinan global, antara lain tampilnya Evo Morales sebagai Presiden Bolivia (48 tahun) dan Hugo Chavez selaku Presiden Venezuela (53 tahun). Dari kalangan dunia Muslim, tampil Recep Teyyeb Erdogan (PM Turki, 53 tahun) dan Mahmoud Ahmadinejad (Presiden Iran, 45 tahun) yang memberi citra tersendiri sebagai pemimpin yang cerdas dan hidup sederhana. Saatnya kaum muda tampil menyelesaikan persoalan bangsanya dan menggalang inisiatif baru bagi perdamaian dan kesejahteraan global.
Di PPSDMS kami menyimak perkembangan situasi global dan menjadikannya bahan refleksi diri. Kami ingin suatu hari kelak tampil dari negeri ini seorang tokoh yang mampu membuktikan solusi nasional serta diakui kontribusi kepemimpinannya di ranah global. Semoga kita tak terlalu lama menunggunya.
Jakarta, Januari 2008
Salam Redaksi
pemimpin memang memiliki otoritas yang yidak terbayangkan. namun bila otoritas itu disalah gunakan maka kekacauan seperti diatas yang terjadi.
maka otoritas seorang pemimpin itulah yang menentukan sikap dan ranah berpikirnya…
moraliyas seorang leader jelas butuh suatu refresh,.. dan kritik yang membangun serta dukungana dari semua pihak sya kira akan menjadi suatu senjata meraih keberhasilan,…