Menulis Epos Kita Sendiri
Judul : Spiritual Capital, Wealth We Can Live By
Penulis : Danah Zohar dan Ian Marshall
Penerbit: Bloomsbury, London
Tahun : 2004
Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, dalam suasana yang paling hening di waktu malam menjelang tidur atau di waktu fajar saat bangun dari tidur: hidup macam apakah yang akan kita jalani dan akhir hidup macam mana yang akan kita tempuh? Kita ingin dikenang sebagai apa setelah meninggal dunia nanti? Pertanyaan sederhana, tapi fundamental seperti itulah, yang ingin dijawab oleh penulis buku ini. Pertanyaan itu tak hanya menyangkut masalah individu, tapi juga sangat mempengaruhi kesadaran kolektif suatu bangsa dan peradaban. Karena sesungguhnya sebuah bangsa atau peradaban terdiri dari kumpulan individu yang saling berinteraksi dengan sadar.
Buku penting ini lahir dari pengalaman pribadi penulisnya, saat ditanya oleh seorang anaknya yang berusia lima tahun. Sang bocah lugu bertanya, mengapa ia memiliki kehidupan? Setelah berpikir beberapa jenak, sang ibu menjawab, bahwa ia harus menjalani kehidupan ini agar dapat mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik daripada yang dia dapati selama ini. Itu pertanyaan dan jawaban yang berat untuk seorang bocah berusia lima tahun.
Tapi, di usia belasan tahun, sang bocah bertanya lagi tentang hal serupa. Kali ini dia ingin tahu sebaiknya kuliah di universitas mana, pelajaran apa yang harus ditekuni, dan karir apa yang harus ditempuhnya? Sang ibu menjawab dengan cara yang sama, bahwa ia harus menentukan semua pilihan itu agar hidupnya menjadi lebih baik. Di tengah percakapan orangtua-anak, penulis merenung: apakah selama ini dia sendiri telah memanfaatkan waktu hidupnya untuk meraih tujuan dan mencapai sasaran yang terbaik?
Pertanyaan untuk diri sendiri itu tak mudah untuk dijawab, meskipun dia telah memberikan jawaban cespleng bagi banyak peserta pelatihan dan konperensi bisnis internasional. Akhirnya, penulis mencoba menggali kembali pangkal kecerdasan manusia yang bisa melahirkan kinerja: kebajikan, kreativitas, pandangan jauh ke depan, dan ketenangan hidup (jauh dari stress). Dalam perenungan panjang, ia sampai pada pendapat Carl Jung, ahli psikologi yang mengkritik pendekatan Sigmund Freud.
Jung pernah menegaskan: “Jika suatu kesalahan terjadi di dunia ini, hal itu karena kesalahan yang dilakukan individu, karena kesalahan yang mungkin saya lakukan sendiri. Karena itu, jika saya benar-benar peka, maka pertama-tama saya akan menempatkan diri dalam posisi yang tepat … Simpulan akhirnya, perkara yang paling mendasar terletak pada kehidupan yang dijalani seorang individu. Hanya faktor ini yang akan membuat sejarah, yang membuat transformasi raksasa mungkin terjadi, dan menentukan masa depan. Keseluruhan sejarah dunia pada hakekatnya berkembang sebagai penjumlahan gigantik dari sumberdaya yang tersembunyi dalam diri setiap orang”.
Topik buku utama ini adalah membangun kesadaran individu tentang motivasi hidup yang lebih tinggi dan akan membawa perubahan di lingkungannya, baik dalam ranah keluarga, bisnis, maupun masyarakat luas. Kata kuncinya adalah “kekayaan” (wealth) yang diterjemahkan penulis sebagai “faktor yang membuat kita mampu meningkatkan kualitas hidup”. Kita sering berbicara tentang kekayaan bakat, karakter dan nasib baik, tetapi dalam perkembangan dunia modern, makna itu bergeser hanya menjadi kekayaan yang bersifat material dan finansial. Dalam padanan bahasa Arab, mungkin istilah the wealth sejajar dengan pengertian al-ghina (kekayaan) yang juga meliputi kejernihan hati dan keluasan pikir, tidak hanya tebalnya kantong dan kelimpahan harta.
Modal spiritual adalah sumber kekayaan yang membuat kita bisa bertahan hidup, yang menyentuh aspek paling mendasar dalam hidup kita. Pemahaman, nilai dan motivasi yang tertinggi dalam diri manusia terakumulasi dalam modal spiritual. Bagi sebuah organisasi, modal spiritual adalah sebuah visi dan model untuk keberlanjutan dalam kerangka kepedulian terhadap komunitas dan dunia sekitar. Praktek bisnis memiliki nilai filosofis tersendiri yang bersentuhan dengan nasib kemanusiaan dan masa depan dunia secara keseluruhan. Jika kita hanya mengeksploitasi sumber daya alam tanpa kendali, maka kita seperti membunuh diri sendiri dan menghancurkan alam. Itulah alasan yang melatari belakangi kecemasan manusia terhadap fenomena global warming dan climate change. Dunia terancam binasa karena ulah manusia sendiri.
Penulis membedakan sumber yang diperlukan untuk membangun kualitas hidup manusia terdiri dari: modal material (bersumber dari kecerdasan rasional/IQ), modal sosial (kecerdasan emosional/EQ), dan modal spiritual (kecerdasan spiritual/SQ). IQ yang tinggi membuat kita mampu berpikir (What I think), sedang EQ yang tinggi membuat kita peka (What I feel), dan SQ yang tinggi membuat kita mengetahui siapa diri kita sebenarnya (What I am). Masing-masing sumber dan modal itu memberi kontribusi untuk membentuk jati diri setiap individu. Kita bisa menulis kisah hidup yang cemerlang, bila menyadari seluruh modal itu dan mampu mengoptimalkannya.
Dengan menggunakan teori complex adaptive system yang diadopsi dari ilmu fisika, penulis menetapkan 12 prinsip perubahan yang terjadi dalam tataran individu dan organisasi, yaitu: Self-awareness (mengetahui keyakinan dan nilai yang memotivasi suatu tindakan), Spontaneity (merespon momen yang terjadi di lingkungan), Vision and value led ( bertindak berdasarkan suatu prinsip dan keyakinan mendalam), Holism (kemampuan untuk melihat pola dan hubungan antar berbagai peristiwa), Compassion (kemampuan untuk berempati), Celebration of diversity (menghormati orang lain dengan segala perbedaannya), Field-independence (mampu menghadapi kerumunan dan memeliharan kemantapan), Asking why (memahami rahasia di balik setiap peristiwa), Reframe (melihat kerangka masalah yang lebih luas), Positive use of diversity (kemampuan belajar dari kesalahan), Humility (kepekaan untuk melakukan otokritik dan mengambil peran yang tepat), dan Sense of vocation (panggilan untuk berbuat baik bagi masyarakat luas).
Penulis menguraikan konsepnya dengan bahasa yang mudah dicerna dan membeberkan sejumlah ilustrasi yang memperkuat pemahaman pembaca. Selain itu, juga disodorkan kerangka implementasi bagi proses perubahan yang dapat diukur dalam diri setiap manusia atau lembaga. Namun, selain bertujuan praktis, penulis juga melakukan kritik yang sangat tajam terhadap perkembangan kapitalisme modern yang membawa manusia pada kehampaan hidup. Negara maju bisa mencapai teknologi canggih dan pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi masyarakatnya mengalami kegersangan hidup.
Kualitas buku ini bisa terlihat dari pujian yang diungkapkan para komentatornya, seperti Peter Senge, Direktur MIT Center for Organizational Learning dan penulis buku terkenal, The Fifth Discipline. Senge menyatakan, “Danah Zohar telah memperlihatkan pandangan radikal tentang alam semesta yang dibentuk dari sains modern dapat menghubungkan kita satu sama lain, dengan alam, dan dengan kesadaran diri dan lokasi. Spiritual Capital melanjutkan perjalanan mudik (menuju fitrah), memperlihatkan kita bisa menciptakan cara kerja dan cara hidup bersama berdasarkan penggalian kecerdasaran spiritual dan pembangunan modal spiritual – suatu kekuatan yang dapat menggantikan kultur lama yang telah menempatkan pertumbuhan material di atas segalanya, sekalipun harus menghancurkan modal sosial dan natural”.
Pujian bukan hanya datang dari seorang teoretisi sekelas Senge, tapi juga praktisi semacam Michael Rennie, Direktur McKinsey & Co, sebuah lembaga konsultasi manajemen terkenal di dunia. Rennie mengungkapkan: “Luar biasa! Brilian! Menakjubkan! Kata-kata itu yang memenuhi benakku, saat aku menaruh buku (usai membaca) Spiritual Capital. Zohar dan Marshall telah menangkap dengan sangat elegan esensi dari tantangan dan peluang yang ada di hadapan kita”.
Buku ini ditulis oleh sepasang suami-isteri Danah Zohar dan Ian Marshall. Zohar adalah seorang ahli fisika yang kemudian memperdalam filsafat dan sehari-hari menjadi instruktur dalam pelatihan manajemen. Ia memberikan kuliah global untuk perusahaan-perusahaan besar, termasuk yayasan dan organisasi pendidikan. Sementara itu, Marshall adalah ahli psikiatri dan psikoterapis. Sebelum menerbitkan buku ini, keduanya telah bekerjasama menulis buku The Quantum Self, Rewiring the Corporate Brain, dan SQ: The Ultimate Intelligence.
Untuk menegaskan pentingnya membangun modal spiritual yang melimpah, penulis mengutip Jung lagi, “Dalam hidup kita yang paling pribadi dan paling subyektif, kita bukanlah penonton pasif dari perjalanan umur kita. Kita bukanlah korban semata, tapi juga pembentuk hidup ini. Kita harus mampu membuat kisah perjuangan (epos) sendiri”. Dalam bahasa Muhammad Iqbal, perubahan terjadi karena tekad manusia bertemu dengan izin Allah. Itulah esensi hidup kita sebenarnya. [spt]




No comments yet.