Arifin Panigoro: Menuju Era Golden Asia

Pertama-tama saya mengucapkan rasa syukur karena kita bertemu dalam forum Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN). Acara seperti ini pernah saya rasakan sewaktu masih kuliah di Bandung 40 tahun yang lalu, namanya LTC (Leadership Training Course). Jika saya bandingkan dengan forum ini, dilihat dari pembukaannya saja, sudah sangat teratur. Terlebih, tadi dibacakan ‘Idealisme Kami’ yang amat puitis. WS Rendra saja tak bisa bikin seperti itu.
Mengenai topik kepemudaan atau pembinaan mahasiswa ala PPSDMS ini sudah baik. Kami di Medco pun sangat concern dengan hal itu. Tiap tahun kami menerima seribuan pegawai baru yang muda-muda. Kita ini menjadi sorotan dunia sekarang, bukan karena kita sebagai pengekspor minyak. Tapi, karena kualitas sumberdaya manusia (SDM)-nya. Sekitar 30% dari orang-orang kita (Medco, khususnya divisi pengeboran) itu lepas. Kebanyakan mereka direkrut perusahaan asing. Saya hanya menggambarkan bahwa SDM kita sangat bagus dan bahkan diincar oleh perusahaan asing. Maka, kalian di sini dalam waktu dua tahun jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Saya percaya dengan abang-abang kalian di sini yang akan membentuk kalian menjadi SDM pilihan
Kalian yang berjumlah 150 orang, sudah bisa menjadi harapan, jika disebar ke seluruh pelosok Indonesia dan prestasinya bagus. Kabupaten kita ada 400 lebih, lebih besar dari jumlah kalian, maka kalian mau jadi Bupati semua juga bisa. Itu baru Bupati, belum yang lain. Iya dong, kalian harus jadi pemimpin. Buat apa dong pelatihan ini kalau kalian tak jadi pemimpin? Saya dulu kuliah sampai 10 tahun, tapi jangan dicontoh, karena sekarang berbeda. Tapi, itu pilihan karena kita belajar menjadi pemimpin dulu. Saya yakin pelatihan kepemimpinan seperti ini sangat diperlukan bagi bangsa ini yang memiliki 400 kabupaten dan 33 provinsi. Berbagai perusahaan dan lembaga lain juga sangat membutuhkan kalian.
Saya juga pernah ikut bergabung di ranah politik. Waktu kuliah saya suka gatal untuk masuk sana-sini. Tahun 1973, saya sempat ikut gerakan protes. Tahun 1978 kita bikin gerakan untuk “koreksi kepemimpinan Soeharto”. Saat itu kita ditangkap. Sejak itu saya tak mau ikut-ikutan lagi. Tahun 1996/1997 saya jadi anggota DPR mewakili Persatuan Insinyur Indonesia, bareng-bareng dengan ikatan dokter, ikatan ekonom dan lainnya. Mulai saat itu karena terlalu enjoy, saya kebablasan. Karena kebablasan, waktu Desember 1998, saya ditangkap polisi. Katanya sih, saya suka demo-demo di jalan, sering ikut sidang rakyat.
Selama sepuluh hari saya menjalani pemeriksaan dan ditahan di kantor polisi. Terus waktu mau disidang di pengadilan, baru satu hari, saya bilang agak sakit. Dulu dokternya dari kepolisian, dia bilang wah tensinya 170, kondisi kesehatannya gawat. Ya, sudah saya boleh pulang, terus diberitahu sama polisinya: ”Pak jangan keluar-keluar ya, takut disorot media”. Ya sudah saya di rumah saja. Tapi ketahuan saya sempat keluar dan dipanggil lagi. Waktu itu lagi voting Sidang MPR untuk pemilihan Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Habibie. Waktu itu pemilihan presiden, semua anggota harus mengisi borang setuju memilih Soeharto-Habibie. Mudah-mudahan tak ada lagi yang kayak begitu, waktu itu tak boleh ada yang tak setuju. Saya tak mau ikutan, dengan alasan sakit, eh semua anggota MPR menelepon saya: ”Eh, elu mau mati?” Akhirnya, saya ditawari: “Anda tanda tangan ini, nanti Anda boleh pulang”. Ya, sudah kita tanda tangan kertas kosong.
Saat reformasi 1998, saya sudah kadung asyik di dunia politik. Banyak yang menawari untuk bergabung. Ada Amien Rais, Megawati, atau Gus Dur. Saya bingung mau milih yang mana. Ya, sudah saya undi saja pakai koin. Eh, ternyata ikut mbak Mega. Saya pikir semua tokoh sama menuju kebaikan bangsa kan. Memang di Dewan Perwakilan Rakyat, ada tokoh yang baik, ada yang buruk. Itu semua proses pembelajaran. Kita harus sabar karena perubahan tidak terjadi seperti membalikkan telapak tangan. Saya yakin kita baru mapan sekitar masa-masa umur produktif. Untuk kalian para mahasiswa sekarang, 20 tahun lagi, nanti kita lihat: siapa di sini yang ke depan akan banyak berbicara? Saat itulah kita akan membuktikan bahwa pelatihan-pelatihan ini ada gunanya.
Silakan nanti kalian berkompetisi menjadi Presiden, Menteri, atau pengusaha. Tapi, jangan rebutan jadi koruptor. Saya berharap dengan kalian yang nanti akan membawa Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Saya optimis suara-suara sumbang mengenai bangsa ini, bahwa negara ini terkorup sedunia dan macam-macam itu, akan berubah dan dibalikkan saat kalian nanti menjadi orang penting. Suara-suara sumbang memang realita, tak usah dipikirkan, yang penting kalian tetap terjaga integritasnya. Jangan ikut-ikutan, karena saya yakin 20 tahun lagi Indonesia akan memasuki era ’Golden Asia’.
Lima belas tahun yang lalu, harga gas itu jauh lebih rendah dibanding harga minyak, sehingga jika ada ladang yang kita gali berisi gas, maka dibiarkan saja karena tak bisa menutup biaya operasional. Gas itu pengolahannya susah dan mahal. Tapi sekarang banyak orang cari gas, harga gas jadi naik. Cadangan gas kita sekarang jadi rebutan, sampai-sampai pemerintah kita bingung, mau dijual dengan harga mahal, tapi kebutuhan dalam negeri kurang. Karena minyak yang pertama kali dieksplorasi, maka cadangannya duluan yang habis dan untuk Indonesia tak mungkin cukup produksinya. Maka, yang paling prospektif sekarang adalah produksi gas.
Tak usah kita membeda-bedakan ini perusahaan asing atau lokal, asal mereka kompeten dan bertanggung-jawab. Di Amerika itu sudah biasa pindah-pindah profesi, itu bagus. Dengan pindah profesi itu wawasan kita akan semakin luas dan ambil dulu pengalamannya. Seperti Pertamina itu strukturnya kaku, orang-orangnya itu-itu saja, maka tak berkembang. Sekarang banyak orang Indonesia jadi profesioanal di perusahaan minyak asing. Tak apa-apa, nanti dia juga mikir, masa sih jadi karyawan asing melulu.
Wilayah kita itu sangat luas, tapi tak ada yang mampu mengolah, maka sebagian.dikasih ke pihak asing. Ada yang.dikelola secara nggak benar, ditebang sembarangan, karena mereka tak merasa memiliki. Maka, kita harus yang mengambil-alih, jika begitu kasusnya. Jika kita mengolah sendiri, maka minimal harus benar, tebang pilih dengan perhitungan matang. Sayang, banyak insinyur pertanian kerjanya tidak di bidang pertanian, itukan kurang baiik. Sekarang saya sudah mencoba merambah ke bisnis padi organik. Wah, ternyata itu sangat menguntungkan. Sederhana saja, saya ingin agar kita bisa mengolah sumber daya alam kita sendiri.
*) Chairman Medco Group. Ringkasan ceramah dan diskusi dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional di Jakarta pada 5 September 2007. Diringkas oleh Suryanuddin, Peserta PPSDMS Regional 1 Jakarta.


























