Beasiswa & Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia

Menjawab Tantangan Global

Drs. Kemal A. Stamboel, Psi., MSM:

        Setelah berjalan selama lima tahun, saat ini kita menyadari perlunya melakukan repositioning dan refocusing untuk menjawab berbagai tantangan yang telah dikemukakan dan kita ketahui bersama.

         Saat ini PPSDMS memiliki positioning yang jelas sebagai lembaga yang mengkader calon pemimpin bangsa di masa depan. Selain itu differentiation kita juga tegas: memperkenalkan paradigma Islam yang moderat dam komprehensif. Paduan kedua unsur penting itu akan membentuk nilai baru yang bisa dipahami dan dinikmati buahnya oleh masyarakat luas. Karena, kita bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok semata, tetapi untuk kepentingan bangsa dan umat di seluruh dunia.

         Untuk mencapai tujuan luhur itu, kita harus merancang action plan yang rapi, disamping selalu siap melakukan koreksi diri. Pembangunan kelembagaan yang baik memerlukan semua proses itu, perencanaan, penerapan program, dan penilaian atas kriteria keberhasilannya. Kita bisa saja memiliki tujuan jangka panjang dan konsisten untuk menempuh perjalanan itu. Tapi di tengah perjalanan kita pasti menghadapi banyak kendala dan hambatan, disamping itu tentu ada peluang, maka kita harus berpikir apakah jalan yang sekarang ditempuh harus diteruskan atau kita memilih jalan lain yang lebih feasible.

         Individual development merupakan faktor penting karena lembaga kita bersifat pengkaderan. Selain itu, juga institutional development jangan hanya diartikan sebagai pembangunan fisik dan penyediaan sarana belaka, tetapi juga pengembangan program dan perluasan jaringan. Kita sedang memperkuat program kepemimpinan nasional, bukan membangun gerakan yang partisan. Sikap nonpartisan ini harus dipertahankan, karena kita ingin merangkul berbagai kalangan yang punya kepedulian sama untuk menyelamatkan bangsa.

         Pemetaan terhadap potensi kader dan alumni lembaga harus dilakukan. Dengan modal itu kita bisa melakukan penetrasi ke sejumlah posisi strategis di birokrasi, parlemen, peradilan, bisnis, civil society, dan bahkan organisasi internasional. Kita perlu membangun proses komunikasi yang terbuka dan multijalur, sehingga mendapat umpan balik dari peserta dan alumni tentang segala hal yang terkait dengan program.

         Laporan periodik tentang efektivitas penyebaran kader dan alumni di ranah publik. Evaluasi itu dilakukan dari perspektif publik, individual dan gerakan. Apakah mereka merasakan manfaat dari kehadiran lembaga? Sementara para pemegang kepentingan (stakeholders) yang terkait perlu juga melakukan ekspansi kepada seluruh elemen yang peduli di Indonesia. Tugas Dewan Penasehat dan Penyantun menjadi lebih berat dalam hal ini. Sedang, jajaran Pengurus bertugas melayani upaya perluasan pengaruh itu.

         Dari segi program, saya melihat ada sejumlah aspek positif yang harus dikembangkan, antara lain program mentorship kepada peserta dan alumni yang ingin menempuh profesi tertentu. Kemudian memantapkan penyelenggaraan diskusi dengan berbagai minat dan kepentingan. Selama ini kegiatan itu dipenuhi dengan Dialog Tokoh serta Dialog Pasca Kampus. Kualitas kegiatan harus ditingkatkan dengan mengundang tokoh dari berbagai latar belakang, sehingga peserta mengalami pengayaan.

         Perlu dibangun pula hubungan dengan jaringan internasional. Sejumlah peserta dan alumni PPSDMS telah melanjutkan studi atau bekerja ke mancanegara. Mereka bisa mengupayakan agar lembaga yang memberi beasiswa atau menjadi tujuan tugasnya mengenal PSDMS. Sebaliknya, pihak pengurus bisa mempromosikan lembaga dengan memanfaatkan saluran informasi yang telah tersebar di berbagai negara itu.

         Saya ingin berbagi cerita tentang program pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sedang dijalankan. Dewan TIK Nasional telah menyusun roadmap agar Indonesia menjadi bangsa yang unggul di ASEAN dalam bidang TIK. Rencana itu disusun sejak 2006-2010. Jadi sekarang kita berada di tengah-tengah periode pengembangan TIK nasional.

         Tahap awal konsolidasi dimulai 2006 dengan pelantikan Dewan TIK Nasional oleh Presiden. Badan ini berhubungan langsung dengan sejumlah kementerian dan bertanggung-jawab kepada Presiden. Salah satu program utama ialah inisiatif E-Announcement di berbagai departemen yang mengurus tender publik. Kita juga sudah menyusun cetak biru SDM TIK Nasional serta mengimplementasikan teknologi 3G.

         Pada tahun 2007 dicanangkan sebagai Tahun Dasar TIK. Kita melakukan kampanye nasional dengan memperkuat Indonesia Broadband serta implementasi IPv6. Tahun itu pula direncanakan pengesahan UU ITE. Berbagai standarisasi telah kita siapkan, yaitu Standar Interoperabilitas e-Govt, Arsitektur Interoperabilitas (PASIR 2.0), Standar Kompetensi Profesi SDM TIK, dan Standar Digital Broadcast. Kitajuga melakukan inkubator TIK dan implementasi e-Learning di berbagai kampus. Tahun itu kita berikan diskon bagi penggunaan TIK, dengan menyiapkan infrastruktur Palapa Ring di seluruh daerah.

         Setelah infrastruktur disiapkan, maka proses akselerasi TIK I dilakukan (2008) dengan membuka National Internet Gateway. Kita juga perkenalkan Smart Card Nasional dan TIK HR Regulation Reform, serta melakukan affirmative action untuk industri dalam negeri yang berfokus di bidang ini. Kita dorong agar produsen domestik menjual PC Murah untuk keperluan pendidikan atau rumah tangga. Pemanfataan TIK untuk transaksi e-Commerce dan e-Payment, serta e-Anggaran juga digencarkan karena sangat membantu masyarakat, termasuk dukungan bagi Disaster Management Infosystem.

         Akselerasi tahap II dilakukan 2009 dengan memperluas daya jangkau internet di berbagai pelosok daerah. Bila ada hambatan geografis, maka kita gencarkan Mobile Internet sehingga bisa lebih fleksibel. Konvergensi UU TIK, termasuk juga perlindungan masyarakat dengan UU Cybercrime, karena kebebasan informasi membawa efek samping penyalahgunaan semisal berkembangnya situs porno. Dalam hal ini, kita perlu memikirkan konten informasi yang sesuai dengan nilai budaya bangsa. Di sini dituntut kreativitas kaum muda, jangan hanya menjadi konsumen produk luar. TIK mestinya meningkatkan kreativitas dan produktivitas kita, bukan melenakan.

         Akhirnya, pada 2010 kita menargetkan jadi bangsa yang unggul dalam bidang TIK, setidaknya di kawasan ASEAN. Kita harus mengakui tertinggal jauh dari Singapura atau Malaysia, tapi akan berusaha mengejarnya karena sumberdaya kita sangat besar. Tahun depan target WSIS mencapai 70%, sehingga daya saing nasional akan meningkat, karena TIK merupakan prasyarat bisnis modern, selain memantapkan reformasi birokrasi. Kita juga akan mengembangkan technopreneurship berbasis TIK, dengan berbagai indikator nasional, yaitu: penetrasi PC mencapai 25 juta, pengguna internet berjumlah 40 Juta, pengguna telepon tetap 37,5 juta dan telepon seluler mencapai 125 juta.

         Semua rencana itu memiliki milestone tersendiri sesuai dengan perjalanan waktu, yakni fokus pada reformasi birokrasi (2006), internalisasi dan sosialisasi TIK (2007), revitalisasi industri TIK (2008), TIK untuk daya saing bangsa (2009), dan TIK untuk semua (2010). Peserta dan alumni PPSDMS harus meningkatkan kapasitasnya, bila ingin menang dalam kompetisi global. Sebab, negara lain sekarang menetapkan profil angkatan kerja berbasis IT yang sekurang-kurangnya ditandai dengan: pengenalan 10.000 jam video games, aktivitas 250.000 E-mail, komunikasi 10.000 jam dengan ponsel, menonton 20.000 jam siaran TV, dan terpapar 500.000 iklan, namun membaca buku kurang dari 5.000 jam. Itu ciri anak muda di Barat yang telah menyelesaikan kuliah di kampus (Bernie Trilling, Toward Learning Societies, 2006).

         Kompetensi yang sangat baru juga berkembang sesuai dengan percepatan TIK. Fungsinya tidak hanya untuk searching, collecting, dan sharing, tetapi juga untuk creating (web dan game), communicating, coordinating, meeting, dan socializing (lewat e-mail, IM, dan chat). Lebih jauh dari itu juga untuk evaluating, learning, dan consultation online. Bahkan, transaksi ekonomi (buying and selling) juga dilakukan secara online. Jadi, jangan habiskan waktu Anda hanya untuk gaming online. Itulah tantangan, sekaligus peluang, ada di hadapan kita. Kita harus meresponnya dengan cerdas, jika tak ingin tergilas zaman yang bergulir cepat. [spt]

 *) Anggota Dewan Penasehat PPSDMS. Disampaikan dalam Milad Ke-5 PPSDMS, 12 Agustus 2007 di Jakarta.

Menumbuhkan Kepemimpinan Global Kerjasama Tuntaskan Tugas Besar

No Responses to “Menjawab Tantangan Global”

No comments yet.

Name
E-mail
Website
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

PPSDMS Didukung Sepenuhnya Oleh:


tertarik untuk berperanserta?