Beasiswa & Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia

Menjadi SDM Terpilih

Oleh: Sudirman Said, Ak, MBA
(Anggota Dewan Penyantun PPSDMS)

Dalam salah satu edisi khusus Majalah TIME tahun 2002 dipampang foto besar Iwan Fals di sampul depan. Judulnya, “Asian Heroes”. Bagaimana bisa seorang penyanyi country asal Indonesia, yang selama belasan tahun pernah mengamen di pasar Blok M, tiba-tiba tampil sebagai pahlawan untuk benua Asia? Kita patut merenungkan fenomena ini, bagaimana orang-orang besar itu dapat muncul di panggung dunia? Seperti Nelson Mandela yang membebaskan Afrika Selatan dari rezim apartheid, atau Barack Hussein Obama yang mungkin akan menjadi Presiden pertama Amerika Serikat dari kulit hitam.

Dalam konteks Indonesia, kita juga perlu berefleksi, apa yang menyebabkan Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi Presiden pertama Indonesia di era pemilihan secara langsung, serta bagaimana prosesnya sehingga seorang santri alumni Pondok Pesantren Gontor, Hidayat Nur Wahid, tiba-tiba menjadi Ketua MPR RI? Bagaimana mereka menapaki sukses, bisa kita telusuri perjalanan intelektual Prof. Nurcholish Madjid selaku pembaharu Muslim atau perjalanan spiritual Abdullah Gymnastiar yang menjadi dai kondang.

Suatu studi menyebutkan formula untuk mencapai prestasi itu sebenarnya cukup sederhana. Penampilan seseorang sekurang-kurangnya ditentukan oleh tiga faktor, yakni: individual attributes (watak pribadi), kerja keras, dan dukungan organisasional. Ketiga faktor itu terkait dengan unsur kapasistas, kemauan yang kuat, dan kesempatan untuk berkembang. Bila ketiganya tampil prima, maka prestasinya akan melejit. Anda bisa lihat pada sejumlah orang sukses di berbagai bidang, pasti mereka memiliki tiga faktor penting ini. Karena itu, kita tinggal mengadopsi dan mengukur ketiga faktor itu dalam diri masing-masing, sambil membayangkan prestasi apa yang mungkin diraih.

Studi lain menjelaskan bahwa sumber daya manusia (SDM) unggulan itu memiliki kepribadian yang matang, ditandai oleh: sikap aktif, independensi, perilaku yang terbuka, keinginan yang dalam, pandangan jauh ke depan, posisi dominan, dan kesadaran diri yang tinggi. Sebaliknya, mereka yang banyak mengalami kegagalan akibat kepribadian yang negatif, yaitu: bersikap pasif, ketergantungan, perilaku terbatas, kepentingan kabur, pandangan jangka pendek, berposisi subordinat, dan kesadaran diri yang rendah. Jadi, periksalah diri kita masing-masing, seberapa besar faktor positif dan negatif itu terdapat dalam diri. Faktor-faktor positif harus terus dipompa, sementara faktor negatif ditekan, dan jika mungkin segera dihilangkan.

Bayangkanlah, diri Anda menjadi sosok yang menumbuhkan inspirasi dan menerbitkan motivasi bagi orang lain untuk berubah, semisal Muhammad Yunus, penerima Hadiah Nobel bidang Perdamaian tahun 2007. Yunus mengembangkan Grameen Bank di Bangladesh sebagai “bank untuk orang miskin”, sehingga kaum melarat bisa bertahan hidup, bahkan lepas dari jerat kemiskinan. Ia berkata, saat menerima penghargaan bergengsi global itu, “Semoga penghargaan ini dapat memberi ilham bagi insiatif yang kuat untuk menyelesaikan akar masalah kemiskinan di seluruh dunia”. Sebuah kalimat yang sederhana, tapi sangat bertenaga, karena bersumber dari seseorang yang telah mempraktekkannya.

Bila kita selami model teori motivasi, maka kita akan memahami bahwa tiga faktor kunci yang menentukan penampilan seseorang (watak pribadi, kerja keras, dan dukungan organisasional), itu semua bermula dari motivasi. Kemudian, saat prestasi seseorang muncul, maka akan ada penghargaan, baik yang berasal dari luar (masyarakat), maupun dari dalam (diri sendiri). Penghargaan semacam itu akan menimbulkan kepuasan dalam diri, dan selanjutnya akan memotivasi orang tersebut untuk mencetak prestasi yang lebih baik di masa depan. Secara mudah, ada lingkaran positif antara motivasi, prestasi, kebutuhan, dan kepuasan. Semakin tinggi frekuensinya, semakin besar potensi untuk meraih prestasi.

Dukungan lingkungan juga harus diupayakan, tidak datang dengan sendirinya. Dukungan itu berupa: jangka waktu yang memadai untuk mencapai prestasi tertentu, anggaran yang mencukupi, perlengkapan dan sarana pendukung, intruksi yang jelas, informasi yang terkait dengan profesi, penentuan jenjang harapan yang sesuai, otoritas yang memadai, dan prosedur kerja yang fleksibel – yakni tidak terlalu memenjarakan kreativitas. Tugas seorang pimpinan untuk menyediakan lingkungan yang kondusif, sehingga semua anak buahnya berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki dan bisa mencapai target bersama.

Kita perlu merujuk kembali, faktor kepemimpinan yang harus diingat dalam diri setiap orang. Yakni, mampu mengarahkan (directive), berorientasi pada prestasi, bersikap mendukung, dan bersikap partisipatif dalam setiap kegiatan bersama. Bukan tipe seorang pemimpin, jika hanya mengikuti arus dan keadaan, tapi harus mampu mengarahkan ke tujuan yang disepakati. Seorang pemimpin juga harus bersikap mendukung potensi pengikutnya, betapapun kecil itu terlihat, dan siap berpartisipasi dalam agenda kolektif. Sehingga, seorang pemimpin tidak terasing dari lingkungannya.

Untuk itu, ada sejumlah prasyarat yang perlu dicermati agar menjadi pemimpin sukses. Ia harus memahami bidang kerja dan organisasi yang dikelola, karena tak ada pemimpin yang bisa menjalankan segala sesuatu sendiri (one man show). Ia harus memiliki jaringan kerja yang luas, sehingga semua kelompok masyarakat bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Ia harus memiliki reputasi dan rekam jejak yang bersih, sehingga publik yakin tidak akan dikhianati. Ia harus memiliki kemampuan dan keahlian unggul, paling tidak dalam suatu bidang tertentu yang tidak semua orang memilikinya. Ia juga harus menjunjung tinggi integritas sebagai fondasi bagi perubahan, dan bermotivasi yang tinggi karena tantangan yang dihadapi akan sangat besar.

Sekarang bagi Anda, calon-calon pemimpin masa depan, perlu mengelola karir dan kompetensi sejak dini. Mulailah dengan penilaian jujur atas kapasitas diri (self assesment). Apa tujuan hidup saya dan karir apa yang cocok dengan tujuan itu? Apa kebutuhan pengembangan diri untuk mencapai karir dan tujuan itu?. Kemudian, juga perlu diukur peluang yang tersedia (opportunity assesment). Apa pekerjaan atau jenjang pekerjaan yang mungkin diperoleh di masa mendatang? Apakah ada kemungkinan lainnya? Studi atau bekerja di luar negeri merupakan tantangan tersendiri. Akhirnya, lakukan perencanaan karir yang proaktif (proactive career planning), jangan menunggu sampai waktu studi Anda habis di tengah jalan. Berdasarkan penilaian tersebut, apa karir yang paling logis 1 – 5 tahun mendatang? Bagaimana cara mengajukannya kepada atasan atau mentor untuk memperoleh dukungan penuh?.

Itulah proses yang akan dijalani oleh SDM terpilih. Tak ada jalan mudah atau jalan pintas, karena memang kesulitan yang kita hadapi akan membuat kita lebih berkualitas dibanding manusia lain. SDM unggulan adalah pribadi pilihan yang memiliki fisik prima, otak brilian, dan hati mulia. Ilustrasinya seperti Kwai Chang Caine (diperankan oleh David Carradine) dalam film “Kungfu: The Legend Continues”. Ia selalu berkata: “I’m Caine, I will help you!”. Itulah sikap kita kepada setiap orang yang sedang menghadapi masalah, termasuk kepada bangsa ini yang belum pulih diterjang krisis.

*) Disarikan dari ceramah dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional II PPSDMS Nurul Fikri di Jakarta, 2-7 September 2007.

Duta Muda ASEAN dari Indonesia Kepemimpinan Kaum Muda

2 Responses to “Menjadi SDM Terpilih”

Comment by Benny Darmawan,SE
2008-04-22 08:37:43

seorang pemimpin adalah yang bisa memimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat, seorang pemimpin harus bisa mengayomi rakyatnya, jangan pernah menjanjikan sesuatu kalau itu tidak bisa dilaksanakan.
contohlah Rasullah Nabi besar kita Muhammad SAW, beliau adalah figur seorang pemimpin yang cerdas dan berahlak tinggi. mau melihat langsung ke masyarakat bawah, tidak perintah sana sini, tidak pernah berkata yang muluk.
memang kita sebagai umat manusia tidak sempurna 100%, tapi setidaknya contohlah dan ambilah langkah-langkah bijak nabi Muhammad SAW
terima kasih.

 
Comment by aditya rosadi
2008-05-08 15:33:07

pemimpin adalah orang yang memiki kemampuan untuk mengangkat kemampuan orang disekitarnya. seorang pemimpin yang dominan berarti dia bukan seorang pemimpin yang mengerti cara memimpin. pemimpin yang dominan akan membunuh kreatifitas anggotanya sampai di suatu titik dimana dia tidak bisa lagi memimpin maka dia akan merasa sebagai orang yang paling gagal dalam masa kepemimpinannya. pemimpin yang dapat memaksimalkan potensi anggotanya adalah pemimpin yang bisa menyelam sedalam pemikiran anggotanya, kemudian dia membaca potensi serta kelemahan anggotanya. setelah memahami karakteristik anggota maka dia akan sekuat tenaga mengangkat dan memaksimalkan potensi anggota serta menekan kelemahan yang menjadi kendala perkembangan potensi anggota.
jadi untuk menjadi pemimpin belajarlah ilmu untuk mengalah dan memberikan ruang lebih kepada anggota.

 
Name
E-mail
Website
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

PPSDMS Didukung Sepenuhnya Oleh:


tertarik untuk berperanserta?