Beasiswa & Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia

Alief Aulia Reza: Menggapai Mimpi di Negeri Seberang

Untuk Pelangi

mencipta bayangnya
adalah rasa bahagia tak semenjana
bagai melepas terbang hari hari penuh logika

seperti karya sorga dalam benak seorang hamba


menelusuri tentangnya
kuingin waktu berhenti

kuingin tidak peduli esok
kuingin langit dengan tiga purnama

alif,13022006,23:47

Menikmati puisi di atas, terbayang bahwa penulisnya adalah dia yang memiliki citarasa tinggi dalam dunia puisi. Namun, terbayangkah bahwa sang penulis ternyata juga seorang Mahasiswa S3 Depertemen Ekonomi di NHH Norwegia. Dialah Alief Aulia Reza, Alumni PPSDMS Angkatan I (2002-2004). Alief sebelumnya menamatkan kuliah sarjananya di Fakultas Ekonomi UI jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dengan predikat cum laude tahun 2004. Selanjutnya pendidikan master dia selesaikan tahun 2006 di Norwegia University Life of Sciences, Norwegia.

Semasa S1, Alief yang lahir tahun 1983 ini pernah mencatatkan diri sebagai Juara I Mahasiswa Berprestasi UI tahun 2003. Alief juga pernah menjadi utusan FEUI dalam Konferensi Internasional Ekonomi Islam di Malaysia dan wakil Indonesia pada Asia Pasific Youth Leadership di Korea Selatan.

Sejak Agustus tahun 2007 lalu, Alief memulai kuliah S3 di Nørges Handelshøyskøle (NHH) atau dalam bahasa Inggris adalah Norwegian School of Economics and Bussiness Administration. Kampus NHH terletak 50 di Kota Bergen, 50 menit perjalanan pesawat dari Oslo. Alief sebenarnya berencana mengambil S3 di Amerika. Namun karena nilai GRE-nya yang kurang kompetitif serta jumlah beasiswa yang terbatas, dia beralih pilihan. NHH sendiri bukan kampus biasa, tahun 2005 lalu Finn Kydland, peraih nobel ekonomi berkebangsaan Norwegia berasal dari kampus ini. Tercatat pula, Departemen Ekonomi NHH adalah peringkat 4 terbaik di Eropa.

Sulit. Demikian kesannya ketika ditanya tentang kuliah S3 yang sudah dijalani hampir satu tahun terakhir ini. ”Enam tahun belajar saya (4 tahun S1 dan 2 tahun S2 di Bidang Ekonomi) hanya cukup mengantar saya survive di 5 pertemuan kuliah pertama. Selanjutnya saya harus belajar berkali-kali lipat lebih keras daripada jenjang S1” demikian kisahnya. Di kampus ini pula, pertama kalinya ia mendapat nilai D, mengembalikan dia ke titik nol. Karenanya dia sangat menghargai siapa saja yang bergelar PhD. Bukan dari sisi intelektualitasnya, karena itu sudah pasti., tapi dari sisi keteguhan, kesabarana, kerja keras, dan kesinambungan kerja.

Sebagai mahasiswa PhD, ia diberikan fasilitas layaknya orang kerja: cubicle kecil, telepon, akses internet, printer dan mesin foto copy. Kewajibannya adalah kuliah minimal 40 jam seminggu atau 8 jam sehari. Dosen hanya mengantar materi dan selanjutnya mahasiswa memperdalam materi melalui problem set setiap pekannya. Di NHH ini Alief kuliah S3 gratis, sebagaimana menjadi kebijakan di Norwegia. Alief mendapat beasiswa untuk biaya hidup dari NHH. Tugasnya sebagai penerima beasiswa adalah patuh terhadap jam kerja, mengalokasikan 1 tahun dari masa studi untuk mengajar (Teaching Assistant) dan mencapai hasil minimal (nilai akademik dan SKS) yang ditetapkan oleh pihak kampus.

Bersama istri tercintanya, Afifi Rahmah Muluk, Alief tinggal di flat kecil di dekat kampus yang sengaja dibelinya dengan uang pinjaman dari Bank. Dia pun mendapat kemudahan pengajuan pinjaman yang hanya bermodalkan paspor, surat keterangan beasiswanya dan SK pengangkatan kerja istrinya. Selain itu dia juga dimudahkan hanya membayar bunga bank saja (tanpa perlu membayar pokok hutang) selama 4 tahun masa studi.

Jika semua normal dan lancar, Alief berharap dapat lulus tahun 2011 nanti. Setelah itu ia juga ingin dapat segera kembali ke Indonesia. Dia bercita-cita untuk bekerja di lembaga internasional yang mengurusi negara berkembang (kemiskinan, kelaparan, kesehatan, polusi, dan lain-lain). Dengan demikian, ia bukan saja berhasil menerapkan ilmunya, tapi juga mendapat pahala menolong orang dan akan sering berpergian ke tempat yang baru yang sudah menjadi hobinya sejak dulu.

Di luar itu, Alief yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya ini juga ingin belajar lebih dalam tentang Islam serta fasih dalam lisan dan tulisan sebanyak mungkin dalam bahasa asing. Ia sering ditanya oleh masyarakat di sana tentang Islam dan Indonesia, namun belum bisa menjelaskannya dengan bahasa yang komunikatif. Sementara informasi yang beredar tentang hal-hal tersebut justru banyak yang salah bahkan menjadi dominan karena bahasa yang lebih komunikatif.

Selama di PPSDMS, Alief telah merasakan dua tahun pembinaan (2002-2004) yang takkan pernah terlupakan dalam hidupnya. Dapat berinteraksi langsung dengan pencetus ide besar PPSDMS, berdiskusi bahkan saling berbagi hingga hal-hal yang remeh adalah kemewahan yang luar biasa yang dia pernah rasakan. “PPSDMS adalah anugrah besar dari Allah SWT, dan selamanya akan tetap demikian” demikian kesaksiannya. Ia sadar bahwa kontribusinya bagi Indonesia, Islam dan institusi PPSDMS sendiri sudah dinanti. PPSDMS pun bangga memiliki seorang Alief sebagai salah satu lulusannya. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap ayunan langkahnya, merintis mimpi di negri sebrang, Amin.[ad]

Yayasan Paguyuban Ikhlas: Harapkan Pemimpin Ikhlas Kunjungan Dinas Bintal Kesos DKI Jakarta dan BPPT Riau

One Response to “Alief Aulia Reza: Menggapai Mimpi di Negeri Seberang”

Comment by dika
2008-06-13 14:31:19

nantikan saya di Norway mas, insya Allah

 
Name
E-mail
Website
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

PPSDMS Didukung Sepenuhnya Oleh:


tertarik untuk berperanserta?