Mencari Pahlawan Iptek Indonesia
Ashif Aminulloh Fathnan
Tantangan terbesar ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) bangsa Indonesia adalah bagaimana memanfaatkan dan mengelola secara mandiri potensi sumber daya alam negeri ini yang begitu besar. Banyak pengamat maupun praktisi yakin akan keberadaan Indonesia yang strategis dan potensial untuk menjadi negara maju dan sejahtera. Indonesia adalah negara 13.000 pulau, memiliki tanah vulkan yang subur dan iklim musim yang menguntungkan pertanian dan perhutanan, kaya bahan tambang (minyak bumi, timah, nikel, bauksit, tembaga), di antaranya minyak bumi (1/5 cadangan dunia) memiliki arti ekonomi penting, membuat Indonesia jika diukur dari potensi sumber dayanya adalah sebuah negara terkaya di dunia (Kamus Dunia Ketiga, Dieter Nohlen).
Namun mengapa realita hari ini mengatakan hal berbeda? Realita berbicara tentang tidak terberdayanya 13.000 pulau, 1/5 minyak dunia, ribuan hektar hutan, laut yang luas dan segala kekayaan melimpah di dalamnya, yang tak dinikmati rakyat, malah menjadi rebutan negara-negara maju. Bicara Iptek sesungguhnya adalah bicara bagaimana memanfaatkan semua sumber daya itu secara mandiri, dengan tangan sendiri. Keberhasilan Jepang sebagai negara industri maju memberikan pembenaran empiris mengenai hal ini. Tanpa Iptek, kekayaan sumberdaya alam bahkan dalam jumlah yang berlimpah-limpah tidak akan menjadi harta yang dikuasai. Sedangkan dengan dikuasainya Iptek, kelangkaan sumberdaya alam tidak akan menjadi hambatan yang tidak teratasi.
Iptek memberikan landasan hidup dan akses bagi masyarakat dalam dasar kehidupannya yang paling minimal, mencakup lingkungan hidup, kesehatan, pangan dan gizi. Iptek juga memungkinkan dikembangkannya sistem informasi dan komunikasi. Kemampuan mendapatkan informasi secara mudah dan luas menjadi landasan bagi kemungkinan suatu bangsa dan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan dan taraf hidupnya. Teknologi informasi dan komunikasi akan mendukung pendidikan bangsa dan pada saatnya menentukan kualitas individu dan masyarakat. Iptek juga menjadi roda yang menggulirkan perekonomian negara, dengan perannya yang begitu besar pada tulang punggung infrastruktur.
Secara lebih spesifik, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam arah gerak bangsa memiliki pengaruh yang signifikan pada perkembangan empat sektor riil, yaitu pendidikan, pertahanan dan keamanan, kesehatan, serta infrastruktur. Jika kita lihat, keempat sektor ini menyerap hampir seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pendidikan menghabiskan 20% APBN melalui amanat Undang-Undang. Sektor hankam sangat strategis bagi kedaulatan RI, kesehatan menyangkut kehidupan dan kebutuhan dasar masyarakat luas, sedangkan sektor infrastruktur menjadi tanggung jawab pemerintah karena menentukan perekonomian.
Peran iptek dalam keempat sektor tersebut menjadi lebih penting bagi negara Indonesia. Dalam hal ini, isu pengembangan iptek seharusnya tidak boleh terhimpit oleh berbagai isu yang turut mewarnai perkembangan bangsa. Banyak permasalahan yang timbul dari hulu prioritas perkembangan ekonomi, yang akhirnya berujung pada tidak diberdayakannya sumber-sumber iptek baik fisik, fiskal maupun sumber daya manusia. Masalah fisik dapat muncul dengan ketiadaannya fasilitas, masalah fiskal berhubungan dengan anggaran dana dan masalah manusia – yang paling sering kita hadapi – adalah kasus brain drain, dan kecenderungan SDM unggul bangsa untuk menetap di luar negeri.
Kasus bangkrutnya perusahaan pesawat Indonesia IPTN bisa menjadi satu contoh pelajaran. Cita-cita menjadikan IPTN model bagi transformasi ilmu dan teknologi ke dalam negeri dengan ditampungnya peneliti pribumi untuk bersama-sama membangun landasan iptek bangsa tidak terwujud nyata. Skenario ini semakin tidak berjalan mulus karena kemudian IPTN ditutup dan bangkrut karena kendala ekonomi dan isu high cost technology yang menyebabkan subsidi bagi IPTN diberhentikan. Kita tidak bisa menyangkal bahwa kita telah kehilangan aset besar perkembangan iptek bangsa. Bahkan setelah industri ini ditutup, semua tenaga-tenaga handal anak-anak bangsa dimanfaatkan oleh negara-negara tetangga, dan Eropa.
Untuk mencapai tingkat kemandirian bangsa kita harus lebih mengandalkan diri pada sumber dinamika pembangunan yang berasal dari dalam negeri. Itulah sebabnya mengapa kita harus lebih mengembangkan iptek, yang menyelamatkan manusia Indonesia dari kebodohan terhadap sumber daya alam sendiri. Meningkatkan sumber dana pembangunan yang berasal dari dalam negeri dan perlu meningkatkan dana pembangunan dalam negeri di luar sumber-sumber minyak dan gas (seperti industri pesawat) karena kedua sumber itu akan habis.
Dalam momentum kebangkitan Nasional, 28 Oktober dan Hari Pahlawan Nasional 10 November, kita seharusnya bisa melakukan refleksi tentang kondisi iptek bangsa ini untuk kemudian bangkit dan melahirkan pahlawan-pahlawan baru yang berjuang di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia dapat berwujud kepedulian pemerintah akan pelurusan kembali arah strategi kebijakan iptek dan grand desain implementasinya.
Harapan tersebut menjadi kontras ketika perilaku pemerintah yang menjual perusahaan telekomunikasi Indosat, pengelolaan minyak yang diberikan pada pihak asing dan persenjataan yang terus menerus diimpor – meskipun sudah menjadi barang bekas. Mungkinkah ini bukti ketiadaan komitmen pemerintah dalam pengembangan iptek dan kemandirian bangsa? Kekhawatiran yang muncul adalah Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju, bahkan terus mengekor dan didikte oleh antek-antek asing. Meskipun telah berdaulat secara politik dan maju secara sistem demokrasi, ketiadaan iptek yang menunjang perekonomian mandiri hanyalah akan menimbulkan kesia-siaan semata.
Industri besar dan mahal bukan satu-satunya solusi, banyak sektor yang bisa terus dikembangkan dengan investasi yang berkelanjutan. Pertanian, perkebunan, berhubungan dengan ketahanan pangan, kecukupan obat, pertambangan dan energi baru dan terbarukan, teknologi hankam, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi transportasi adalah sektor yang membutuhkan investasi dan komitmen kontinyu. Perkembangan iptek tidak harus selalu memberikan manfaat ekonomi secara langsung, namun harus dimulai dengan investasi yang berkelanjutan dan monitoring terus menerus. Thailand, misalnya, menuai reputasinya saat ini sebagai negara yang maju teknologi pangannya setelah memulai investasi di bidang itu sejak 20 tahun lalu.
Untuk kondisi iklim ilmiah pemerintah perlu membuat skema agar SDM tidak berhamburan. SDM kita tidak kalah berprestasi dengan SDM asing dan telah terbukti bisa bersaing dalam kompetisi global. Tantangan pemerintah adalah bagaimana membuat roadmap yang jelas sehingga individu unggul tersebut merasa dihargai dan mau berdedikasi untuk perkembangan iptek bangsa.
Kesadaran akan peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam meningkatkan kemakmuran suatu bangsa sudah didahului oleh bangsa-bangsa lain semenjak berabad yang lalu. Tidak ada alasan lagi bagi Indonesia untuk tidak menggunakan iptek sebagai tulang punggung pembangunan dan perekonomian, demi meningkatkan nilai produktifitas dan prestasi nasional. Pemerintah harus segera membuat rumusan yang jelas, roadmap yang terukur, karena iptek dan capaiannya adalah target, investasi jangka panjang.
Yang paling penting adalah juga menentukan fokus dan prioritas. Negara ini perlu memiliki kejelasan bangunan teknologi yang kokoh, yang membuatnya dapat bertahan dan berjalan mandiri serta mampu menunjukkan karakter produksinya pada masyarakat dunia. Dengan fokus ini, kita kemudian berkembang, pada bidang lain, yang saling jalin-menjalin dan mendorong perekonmian kita lebih mandiri.
*) Peserta Regional 3 Yogyakarta Angkatan IV.

























