Print This Post

Kuasai Teknologi, Bangun Ekonomi, Tegakkan Martabat Bangsa

Kuasai Teknologi, Bangun Ekonomi, Tegakkan Martabat Bangsa

Dr (HC) Arifin Panigoro

Saya sering menegaskan, prinsip-prinsip berbisnis yang baik tidak hanya menjamin kesinambungan usaha sebuah korporasi. Tapi juga dapat meningkatkan peluanganya dalam memberikan kontribusi terbaik bagi negara dan bangsanya.

Saat ini ada tiga masalah besar yang dihadapi Indonesia dan juga oleh dunia yaitu: masalah energi, pangan dan lingkungan hidup. Para technopreneur Indonesia dapat melihat masalah ini sebagai tantangan dan mengubahnya menjadi peluang untuk berkembang dan berkontribusi.

Sesudah 30 tahun berkiprah dalam bisnis dan kemudian meluas dalam berbagai bidang lain, seperti politik, sosial dan lingkungan, saya mencoba menuangkan pengalaman dan pemikiran saya dalam buku “Berbisnis Itu (tidak) Mudah”. Dalam buku itu saya menuangkan Sembilan Prinsip yang saya lakukan dalam memulai dan menjalankan bisinis bersama teman-teman.

Sembilan prinsip tersebut adalah:

•             Intuisi – Memadukan kata hati dan akal sehat

•             Kesetaraan – Bersikap adil kepada lawan sekalipun

•             Kejujuran – Jujur itu langgeng

•             Percaya Diri – Yakinkan diri, pengaruhi orang lain

•             Jejaring – Sejuta kawan kurang, satu lawan jangan

•             Tanggung Jawab – Tunaikan kewajiban, hadapi persoalan

•             Sumber Daya Manusia – Pilih yang terbaik dan berdayakan

•             Inovasi – Berkarya tanpa jeda

•             Peduli – Menumbuhkun entrepreneurship

Tiga belas tahun yang lalu, Don Tapscott dalam The Digital Economy menyebutkan 12 ciri atau tema dari Ekonomi Baru. Dua dari 12 tema tersebut, yang terpenting adalah Pengetahuan dan Inovasi. Ekonomi yang sedang berkembang sekarang adalah ekonomi pengetahuan. Kandungan pengetahuan dalam produk dan jasa makin tinggi, dan perusahaan-perusahaan bertumpu pada kemampuan pekerja yang berpengetahuan tinggi. Sumber daya utama perusahaan adalah pengetahuan yang dimilikinya dan pengetahuan ini melekat pada orang-orang yang bekerja di dalamnya. Ekonomi baru adalah ekonomi yang berbasis pada inovasi. Agar bisa tumbuh dan berkembang dalam ekonomi baru, perusahaan dituntut terus memperbarui produknya, sistem-sistemnya, proses-prosesnya, kemampuannya. Dengan kata lain, perusahaan harus terus-menerus memperbarui diri.

Sebab itu, dalam ekonomi baru muncul kebutuhan yang sangat besar untuk menumbuhkan technopreneur society, yaitu kelompok  masyarakat inovatif yang menciptakan dan mengembangkan usaha dengan bertumpu pada kekuatan dan teknologi dengan bertumpu pada kekuatan pengetahuan dan teknologi. Agar peningkatan kinerja perusahaan tidak dicapai dengan merugikan kepentingan umum, beberapa dekade terakhir perusahaan dianjurkan dan bahkan diwajibkan untuk menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Namun demikian, praktek penerapan GCG di masa lalu ternyata tidak sepenuhnya mampu mendeteksi praktek bisnis yang tidak beretika.

Maka kini tengah tehampar luas di hadapn kita tantangan yang harus segera kita jawab sebagai pelaku, pengamat atau peminat technopreneuership. Ketiga tantangan itu adalah Energi, Pangan dan Lingkungan.

Tantangan Pertama dalam Bidang Energi

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber energi melimpah dan beragam, baik yang bersumber dari fosil maupun sumber terbarukan. Meskipun potensi energi melimpah, Indonesia sampai saat ini tetap belum bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya sendiri.

Kebijakan Energi Nasional yang dimuat dalam Peraturan Presiden RI Nomor 05 tahun 2006 menargetkan bahwa pada tahun 2025 sudah tercapai energy mix yang optimal dengan komposisi konsumsi energi sebagai berikut: minyak bumi kurang dari 20%, gas lebih dari 30%, batubara lebih dari 33%, bahan bakar nabati 5%, panas bumi 5%, energi baru dan terbarukan 5%, dan batubara yang dicairkan lebih dari 2%. Yang saya kurang mengerti, walaupun komposisi sumber energi yang diharapkan pada tahun 2025 berbeda, namun ketergantunagn terhadap energi yang berasal dari fosil tidak berubah dari keadaan tahun 2006.

Yang juga perlu diingat adalah bahwa cadangan minyak, batubara dan gas alam yang ada di bumi Indonesia bukanlah “milik” generasi sekarang. Sumber daya alam yang kini kita nikmati adalah juga “milik” generasi kita yang akan datang. Generasi sekarang tidak boleh memanfaatkan sumber daya tersebut secara tidak bertanggung jawab. Pemakaian secara besar-besaran dan menghabiskannya dalam waktu sangat singkat sama saja dengan merampas hak generasi yang akan datang untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Sebab itu generasi sekarang ini dalam membangun kesejahteraannya harus mencari cara cerdas untuk menjaga kekayaan sumber daya alam tersebut.

Saya paham, kendalanya tidak ringan. Mulai dari urusan pengadaan lahan, regulasi pemerintah, pasar yang belum favorable, hingga penguasaan teknologinya. Tapi, kalau tidak kita mulai dari sekarang juga, niscaya Indonesia akan jadi “penonton” dari gelombang besar yang kini tengah melanda berbagai belahan dunia. Saya tidak akan rela jika hal ini terjadi.

Tantangan Kedua dalam Bidang Pangan

Mengenai krisis pangan 2007-2008 para analis menyatakan bahwa krisis pangan tersebut disebabkan banyak faktor, di antaranya: dampak dari makin banyaknya bahan makanan yang dipakai untuk bahan bakar terbarukan (biofuel), naiknya harga minyak bumi, menurunnya persediaan pangan dunia, makin luasnya lahan pertanian yang dibiarkan terbengkalai, bencana alam yang merusak hasil panen, dan menurunnya produktivitas tanah pertanian.

Dalam hal kebutuhan beras, misalnya, kalau tidak ada perubahan yang signifikan, pada tahun 2014 Indonesia diperkirakan akan mengimpor beras 2,4 juta metrik ton, hampir 2,5 kali dari impor tahun 2004. Peningkatan impor juga diperkirakan akan terjadi pada kedelai dan gandum. Diperkirakan pada tahun 2014 Indonesia akan mengimpor 2 juta metrik ton kedelai (1,5 kali impor tahun 2004) dan mengimpor gandum 5,3 juta metrik ton (1,2 kali impor tahun 2004).

Untuk keluar dari resiko ketergantunagn pangan yang makin lama makin besar tersebut, Indonesia tidak punya pilihan lain, kecuali melakukan usaha besar-besaran meningkatkan produksi pangan, khususnya pangan yang selama ini dipenuhi melalui impor, seperti beras, kedelai, gandum, daging dan susu. Dalam hal produksi biji-bijian, kemampuan produksi ini dapat ditempuh dengan mengambangkan atau menemukan jenis-jenis tanaman pangan yang memberi hasil (yield) lebih baik, menemukan beragam tanaman pangan yang bisa ditanam pada kondisi tanah yang berbeda-beda di Indonesia dengan hasil optimal, memperluas areal lahan untuk tanaman pangan, dan mengembangkan serta menerapkan metoda pertanian yang lebih produktif.

Tantangan Ketiga dalam Bidang Lingkungan Hidup

Sebagian terbesar para ahli sepakat bahwa pemanasan global adalah salah satu ancaman besar bagi kelangsungan keberadaan umat manusia, fauna dan flora di planet bumi. Meningkatnya emisi CO2 yang berasal dari pengunaan bahan bakar fosil dan deforestasi dipandang sebagai penyebab utama dari makin meningkatnya suhu rata-rata di muka bumi ini. Di Indonesia, kita menghadapi barbagai masalah lingkungan yang perlu mendapat penanganan secara inovatif, terutama sekali deforestasi, meningkatnya lahan kritis, penanganan lahan gambut dan masalah ketersediaan sumber daya air.

Antara tahun 1990-2000, setiap tahun Indonesia kehilangan rata-rata sekitar 1,9 juta hektar hutan. Antara 2000-2005 Indonesia termasuk dua besar dunia dalam luasnya hutan yang berkurang tiap tahunnya, yaitu rata sekitar 1,5 juta hektar per tahunnya. Antara tahun 1999-2005 Indonesia kehilangan 24,1% hutannya, atau sekitar 28 juta hektar. Proses itu belum berhenti sampai sekarang. Pembabatan hutan legal atau tidak legal  untuk mendapatkan kayu untuk industri, konversi hutan untuk perkebunan dan pertanian, pembukaan usaha pertambangan dan kebakaran hutan merupakan beberapa penyebab utama dari deforestasi.

Masalah lingkungan lainnya yang memberi tantangan berkaitan dengan lahan gambut. Luas lahan gambut di Indonesia  diperkirakan mencapai 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8 persen luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut sekitar 7,2 juta hektar atau 35 persen terdapat di Sumatera. Deposit lahan gambut ini akan mengandung unsur karbon yang sangat tinggi, yang akan dilepaskan ke atmosfer apabila gambut kering.

Para ahli mengingatkan emisi dari lahan gambut (peatland) besarnya tiga hingga empat kali lipat dibandingkan dryland. Besarnya kerusakan dan kebakaran lahan gambut ini adalah faktor utama yang menyebabkan Indonesia diposisikan pada peringkat ketiga emisi gas rumah kaca. Ketika lahan gambut Indonesia mengalami kebakaran besar pada 1997 silam, misalnya, sejumlah ahli lingkungan memberikan estimasi terjadi pelepasan emisi karbon 0,81 – 2,57 Gigaton.

Fenomena yang kita alami dengan lahan gambut tersebut adalah tantangan besar bagi seluruh anak negeri. Janganlah kebijakan yang melahirkan pembukaan lahan gambut, secara serampangan, kembali berulang di penjuru Tanah Air. Malah, sebaliknya, saya meng-encourage para ahli lingkungan, ilmuwan dan pemangku kepentingan secara luas untuk menyatukan diri dalam ikhtiar besar Indonesia dalam pemanfaatan lahan gambut sehingga kita tidak menjadi negara “pengekspor asap” dan menyandang predikat sebagai salah satu negara pelepas karbon terbesar di kemudian hari. Gambut yang ada harus diidentifikasi dengan pendekatan sains yang benar dan komprehensif untuk dicari lebih jauh potensi penggunaannya.

Ketiga tantangan itu harus kita jawab dengan tiga hal yaitu:

1.            Teknologi sebagai Ujung Tombak

2.            Bangunan Ekonomi sebagai Cita-cita, dan

3.            Pendidikan Berkualitas Bagi Lebih Banyak Orang

Saya menyadari sepenuhnya bahwa kerjasama yang dirintis selama ini baru tahap awal. Namun demikian kita sudah berani mulai. Seperti kata orang bijak, perjalanan yang panjang dimulai dengan satu langkah pertama. Saya juga menyadari bahwa dalam menjalin kerjasama kita akan menemui berbagai kesulitan. Namun demikian, dari kesulitan tersebut kita bisa belajar bersama.

Ada sebuah puisi dari seorang Jerman yang disampaikaa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat peresmian ITB yang kiranya bisa menjadi penutup pidato ini:

Dengan cinta setia sampai akhir hayatku

Aku bersumpah dari lubuk kalbuku

Bahwa jasadku dan apa milikku

Kupersembahkan padamu, wahai Tanah Airku.

*) Ringkasan Pidato Dr (Hc) Arifin Panigoro Saat penganugerahaan Gelar Dokotr Kehirmatan di ITB pada Tanggal 23 Januari 2010.

rubby

rubby has written 58 posts
Website: http://www.ppsdms.org

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS