Beasiswa & Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia

Kepemimpinan Profetik

Setiap bulan Rabiul Awal, umat Islam di seluruh dunia memperingati hari lahir (Maulid) Nabi Muhammad Saw. Bukan dengan pesta atau hura-hura, melainkan dengan melakukan renungan atas perjalanan pribadi dan perkembangan masyarakat kita. Apakah semua yang kita lakukan sudah sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan keluhuran hidup yang diajarkannya? Karena, Muhammad Saw sebagai Rasul terakhir untuk seluruh manusia berperan sebagai uswah (role model) hingga akhir zaman.

 

Muhammad Saw lahir ke dunia untuk menggenapkan misi suci yang telah dibawa Nabi dan Rasul sebelumnya, sejak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga Isa. Allah Yang Mahaesa telah menurunkan risalah yang satu untuk membimbing manusia di segala zaman. Perbedaan bahasa dan budaya, serta tantangan lingkungan di setiap masa tidak dapat menyimpangkan nilai-nilai universal yang dibutuhkan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Nilai-nilai universal itu, antara lain: mengesakan Allah Sang Pencipta (tauhid), menegakkan keadilan, menebarkan kedamaian dan kebaikan, serta mencegah kemungkaran dan penindasan.

 

Untuk menjalankan misi yang berat itu, maka diperlukan karakter manusia yang kokoh sebagaimana tercermin dari sifat para Nabi. Ada empat sifat utama seorang Nabi, yakni: jujur (shidq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan komunikatif (tabligh). Sifat-sifat asasi ini juga diadopsi dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan modern.

 

Pakar kepemimpinan Stephen R. Covey, misalnya, menekankan pentingnya hidup dengan memegang prinsip (principle-centered), yakni nilai dasar: fairness (keadilan), integrity (ketulusan/keteguhan), honesty (kejujuran), dan human dignity (kehormatan manusia). Jika masyarakat Barat, yang sebagian besar aturan hidupnya bersifat sekuleristik, masih memegang prinsip universal tersebut, apatah lagi kita yang hidup di Indonesia dan dikenal sebagai masyarakat relijius? Pertanyaan mendasar ini harus dijawab oleh para pemimpin kita di semua sektor: publik, swasta dan civil society. Bila ternyata jawabannya negatif, maka kita patut malu karena telah mengabaikan prinsip universal yang justru diakui bangsa lain.

 

Kita juga perlu menelusuri perjalanan hidup Nabi yang dilahirkan dalam keadaan yatim, lalu pada usia enam tahun menjadi piatu, karena kedua orangtuanya (Abdullah dan Aminah) meninggal, saat Muhammad belum aqil-baligh. Kehidupan yang keras dijalaninya di padang tandus Arabia, tapi dia beruntung diasuh kakek yang pengasih, Abdul Muthalib. Pada usia remaja, Muhammad telah belajar berwirausaha, mulanya sebagai penggembala kambing, kemudian menjadi penjual barang milik pamannya, Abu Thalib. Pada usia remaja, Muhammad telah diajak berdagang hingga ke negeri Syam (Suriah).

 

Momen penggemblengan itu telah mematangkan kepribadian Muhammad sebagai calon pemimpin yang akan mengubah wajah dunia dari kultur penyembahan sesama manusia (Kaisar/Raja) hingga menyembah Allah semata. Inilah fondasi kepemimpinan profetik: kemurnian dan keteguhan dalam prinsip (aqidah) ditopang dengan kemandirian sosial, ekonomi dan politik. Sebagai manusia, kita semua dilahirkan dalam kondisi merdeka, karena itu kita juga harus tumbuh dan dewasa sebagai manusia merdeka. Tak ada kultus individu atau ketaatan buta, sebab nanti di hari akhir setiap manusia juga harus mempertanggung-jawabkan seluruh amalnya secara individual.

 

Di PPSDMS kami mencoba menanamkan dan melatih rasa tanggung-jawab terhadap semua hal, termasuk perkara yang dipandang remeh, seperti membersihkan ruang belajar atau kamar tidur. Kami menangkap makna di balik ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi, mereka yang gagal membina diri sendiri tidak akan pernah berhasil memimpin orang lain, apalagi memimpin bangsa yang besar ini.

 

Jakarta, April 2008

Salam Redaksi

Pemimpin yang Melahirkan Generasi Kepemimpinan Tahun Kebangkitan Mahasiswa

2 Responses to “Kepemimpinan Profetik”

Comment by m. fajar marta arsyad
2008-06-11 18:50:14

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

tulisan ini sangat bagus. namun, akan lebih bagus lagi jika ditambahkan dengan buku2 pemikiran yang lebih tajam seperti Noam Chomsky, Pramoedya dengan tidak mengesampingkan esensi dari tulisan untuk mengajak kita untuk menjadi manusia yang memimpin atas dasar akidah yagn haq, yaitu allah SWT. sebab, semakin banayknya komparasi terhadap pemikiran dan filsafat ilmiah akan membuat kita lebih kaya dalam hal menarik benang merah tentang fenomena kepemimpinan dan disinkretisasi dengan kondisi KeIndonesiaan saat ini.

Walla hu A’lam Bisshawab

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 
Comment by m. fajar marta arsyad
2008-06-11 18:56:01

satu hal lagi, sebaiknya tidak hanya sebatas memberikan renunga tentang fenomena kepemimpinan, akan lebih tajam sebuah tulisan untuk dijadikan rujukan tulisan lain apabila menyertakan realita maupun fakta seerta evidence tentang Indonesia saat ini sehingga membuat tulisan lebih bermanfaat untuk dibaca, ditelaah, didiskusikan untuk mendapatkan solusi berbagai masalah..

Wassalam

 
Name
E-mail
Website
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

PPSDMS Didukung Sepenuhnya Oleh:


tertarik untuk berperanserta?