<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPSDMS - Creates Future Leaders &#187; Umum</title>
	<atom:link href="http://ppsdms.org/kategori/umum/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ppsdms.org</link>
	<description>Beasiswa &#38; Pembinaan Mahasiswa Berprestasi dari Berbagai Daerah di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 May 2010 09:39:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pemimpin Inspiratif</title>
		<link>http://ppsdms.org/pemimpin-inspiratif.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/pemimpin-inspiratif.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 09:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1612</guid>
		<description><![CDATA[Perhatian publik dewasa ini tersita pada sosok Mbah Priok. Tak banyak orang mengenal tokoh penting ini, kecuali setelah bentrokan berdarah yang meminta korban 3 anggota Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta meninggal dan 130 orang terluka, serta puluhan kendaraan dinas pemerintah terbakar hangus.
Mbah Priok ternyata nama seorang perintis dakwah di kawasan Jakarta Utara pada abad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perhatian publik dewasa ini tersita pada sosok Mbah Priok. Tak banyak orang mengenal tokoh penting ini, kecuali setelah bentrokan berdarah yang meminta korban 3 anggota Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta meninggal dan 130 orang terluka, serta puluhan kendaraan dinas pemerintah terbakar hangus.</p>
<p>Mbah Priok ternyata nama seorang perintis dakwah di kawasan Jakarta Utara pada abad ke-18. Mbah yang bernama asli Habib Ali bin Hasan Al Haddad itu mendapat gelar ’Priok’, karena di atas makamnya tergeletak periuk nasi yang biasa digunakan untuk mengisi perut seharihari. Selain periuk nasi, di atas makam Mbah (sebutan untuk orang yang dituakan) ada bunga tanjung. Dari kedua benda remeh itu muncul nama ‘Tanjung Priok’ sebagai kota pelabuhan yang sangat terkenal di masa penjajahan Belanda. Mengapa pengaruh Mbah Priok begitu dahsyat hingga sanggup mengilhami ribuan orang peziarah setelah ratusan tahun berlalu? Tampaknya, perjuangan yang tulus dan tak kenal lelah (<em>steadfastness</em>)  mempesona masyarakat awam. Disamping itu juga kesederhanaan hidup (<em>humbleness</em>) membuat semua orang yakin dengan kondisi semiskin dan sesulit apapun, setiap orang dapat memberikan kontribusi berharga bagi pembinaan masyarakat dan lingkungan. Ketabahan dan kesederhanaan itu dibingkai kecerdasan (<em>intelligency</em>), karena berdakwah di pusat perniagaan dengan interaksi social tinggi membuka peluang besar, selain menghadapi tantangan berat.</p>
<p>Dalam konteksi ini, seorang pemimpin masa depan harus mampu mengenali potensi diri yang orisinal dan unik, lalu mengumpulkan energi cukup untuk melejitkannya menjadi karya nyata, baik dalam dimensi akademis, profesional, wirausaha, atau pengabdian masyarakat dan aksi  kemanusiaan. Setiap orang menjalani takdir berbeda, sehingga tak perlu terganggu dengan kesuksesan orang lain, karena kita dapat menciptakan kesuksesan tersendiri. Pengumpulan energi dilakukan dengan cara banyak membaca dan berdialog dengan tokoh yang memiliki beragam pengalaman. Pemimpin berenergi akan mampu membangkitkan semangat orang-orang di sekelilingnya. Bila energi —berupa bacaan, pengalaman dan kearifan—nya terbatas, maka perkembangan binaan/bawahannnya juga akan mengalami keterbatasan. Atau, bahkan binaan/ bawahan itu akan mengalami kejenuhan dan akhirnya menarik diri dari proses pembinaan untuk mencari pengalaman baru.</p>
<p>Seseorang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan memberikan pengaruh kepada lingkungannya, begitu pepatah lama. Keterbatasan energi dari seorang pemimpin akan memunculkan ketidakpercayaan (<em>distrust</em>) dan akhirnya pembangkangan (<em>disobedience</em>). Karena itu, seorang pemimpin di peringkat manapun berada tak boleh berhenti belajar. Ia harus menjadi pembelajar abadi. Bahkan, ia bisa dan harus sanggup belajar dari binaan/ bawahan di sekitarnya yang selama ini dipandang lebih lemah dan rendah kelasnya. Setelah memiliki energi yang cukup, seorang pemimpin harus mencari cara untuk menularkan dan menyebarkannya kepada lingkungan. Tak ada seorangpun pemimpin yang berpuas diri dengan prestasi pribadi. Mereka selalu berpikir tentang kemajuan umat dan bangsanya. Gelora hidup mereka lebur dengan dinamika  masyarakatnya. Kesedihan mereka bila menyaksikan penderitaan masyarakat, kegembiraan mereka jika merasakan kebahagiaan seluruh warga.</p>
<p>Proses penularan itu mensyaratkan kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi publik yang hangat. Seorang tokoh yang meraih dukungan dan kecintaan masyarakat luas akan memiliki kharisma (<em>charm</em>) tersendiri, karena masyarakat meyakini aspirasi dan keprihatinan yang mereka pendam akan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh oleh sang pemimpin.</p>
<p>Tak ada basa-basi dalam hubungan pemimpin dan masyarakat. Segala bentuk <em>lips service</em>, apalagi janji palsu yang dengan mudah diingkari, akan menuai kemarahan dan kebencian dari warga yang merasa dikhianati. Inilah persoalan pelik bangsa ini. Setiap lima tahun sekali kita melakukan ritual demokrasi untuk menyeleksi pemimpin di level pusat dan daerah. Namun, sepanjang lima tahun berikutnya rakyat sering dibuat kecewa karena harapannya pupus di tengah jalan. Kami menyadari sosok pemimpin yang inspirasional sangat sulit diwujudkan. Karena itu, proses pembinaan di PPSDMS memakan waktu cukup lama, dua tahun setiap angkatan. Itupun masih dirasa kurang oleh sebagian Peserta, karena dalam waktu singkat tiba-tiba mereka harus menjadi Alumni. Bila selama dua tahun Peserta mendapat asupan energi dari para mentor dan Pengurus, maka saat dilantik menjadi Alumni mereka harus membangkitkan energi di lingkungan masing-masing. Dengan dukungan mitra di sektor publik, swasta dan kemasyarakatan, kami berharap energi dan inspirasi yang ditebarkan Peserta dan Alumni PPSDMS tak pernah pudar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/pemimpin-inspiratif.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goris Mustaqim dijamu Presiden Barack Obama</title>
		<link>http://ppsdms.org/goris-mustaqim-dijamu-presiden-barack-obama.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/goris-mustaqim-dijamu-presiden-barack-obama.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 04:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1608</guid>
		<description><![CDATA[Goris Mustaqim, alumni PPSDMS angkatan II Regional II Bandung, kembali mengukir sejarah alumni PPSDMS. Bersama 8 wirausahawan muda Indonesia, Goris dijamu Presiden Barack Obama dalam acara Presidential Summit on Entrepreneurship pada tanggal 26-27 April 2010 di Washington D.C, Amerika Serikat.
Acara Presidential Summit on Entrepreneurship merupakan tindak lanjut pidato Barack Obama di Kairo Mesir. Acar tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Goris Mustaqim, alumni PPSDMS angkatan II Regional II Bandung, kembali mengukir sejarah alumni PPSDMS. Bersama 8 wirausahawan muda Indonesia, Goris dijamu Presiden Barack Obama dalam acara Presidential Summit on Entrepreneurship pada tanggal 26-27 April 2010 di Washington D.C, Amerika Serikat.</p>
<p>Acara Presidential Summit on Entrepreneurship merupakan tindak lanjut pidato Barack Obama di Kairo Mesir. Acar tersebut diselenggarakan untuk  mengidentifikasi seberapa jauh hubungan antara bisnis leader, lembaga sosial, dan sosial entreprenurship di Amerika Serikat dengan Negara-negara mayoritas muslim di dunia, termasuk populasi minoritas, dan komunitas muslim di seluruh dunia.</p>
<p>Goris Mustaqim adalah salah satu wirausahawan muda Indonesia yang menjadi delegasi Indonesia dalam acara tersebut. Dia diundang bersama 8 orang wirausahawan muda Indonesia lainnya yaitu Putra Sampoerna, Ananda Siregar, Sandiaga Uno, Shinta Widjaja Kamdani,   Benjamin Soemartopo, Sheila Tiwan, Tri Mumpuni, dan   Yuyun Ismawati.</p>
<p>Dalam acara itu, Barack Obama memberikan apresiasi kepada para wirausahawan dari sekitar 60 neegara muslim. Obama mengatakan bahwa semua pihak hadir karena kesamaan aspirasi yakni hidup bermartabat, untuk mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang sehat.</p>
<p>Obama menyampaikan maksud pertemuan tersebut adalah karena kita dapat belajar satu sama lain, di mana orang Amerika dapat berbagi pengalaman sebagai masyarakat yang memberikan wewenang penemu dan inovator, di mana pria dan wanita dapat mengejar mimpinya, serta mengambil ide bahwa  ide yang berasal dari meja dapur atau garasi dan mengubahnya menjadi sebuah bisnis baru dan bahkan industri yang dapat mengubah dunia.</p>
<p>Obama juga menambahkan bahwa  sejarah telah membuktikan, pasar telah menjadi  kekuatan yang paling besar untuk menciptakan kesempatan dan mengangkat  orang dari kemiskinan.  Sementara untuk wirausahawan sosial, benar-benar  tumbuh dari masyarakat bawah, dimulai dengan mimpi dan kesabaran  seorang masyarakat untuk melayani masyarakat sekitarnya.</p>
<p>Selamat untuk para peserta, khususnya Goris Mustaqim. Viva alumni PPSDMS.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/goris-mustaqim-dijamu-presiden-barack-obama.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi bulan Januari 2010</title>
		<link>http://ppsdms.org/88laporan-donasi-bulan-januari-2010.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/88laporan-donasi-bulan-januari-2010.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 06:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1606</guid>
		<description><![CDATA[Jazakumullah Khoiron Katsiran
Atas donasi (zakat, infaq, shadaqah, wakaf) sahabat PPSDMS.
Semoga dapat mengantarkan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.
Untuk informasi lebih lanjut tentang donasi dan keuangan silahkan menghubungi Sdri. Nancy Zainabun di 021-7888 3828
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jazakumullah Khoiron Katsiran<br />
Atas donasi (zakat, infaq, shadaqah, wakaf) sahabat PPSDMS.<br />
Semoga dapat mengantarkan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut tentang donasi dan keuangan silahkan menghubungi Sdri. Nancy Zainabun di 021-7888 3828</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/88laporan-donasi-bulan-januari-2010.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Keuangan bulan Januari 2010</title>
		<link>http://ppsdms.org/laporan-donasi-bulan-januari-2010.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/laporan-donasi-bulan-januari-2010.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 06:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1605</guid>
		<description><![CDATA[Jazakumullah Khoiron Katsiran
Atas donasi (zakat, infaq, shadaqah, wakaf) sahabat PPSDMS.
Semoga dapat mengantarkan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jazakumullah Khoiron Katsiran<br />
Atas donasi (zakat, infaq, shadaqah, wakaf) sahabat PPSDMS.<br />
Semoga dapat mengantarkan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/laporan-donasi-bulan-januari-2010.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Pergiliran Peradaban</title>
		<link>http://ppsdms.org/hukum-pergiliran-peradaban.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/hukum-pergiliran-peradaban.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 03:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1604</guid>
		<description><![CDATA[Bachtiar Firdaus
“&#8230;Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d 13: 11)
Perubahan adalah sebuah Keniscayaan
Perubahan adalah suatu keniscayaan. Bahkan ia menjadi tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bachtiar Firdaus</strong></p>
<p><em>“&#8230;Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” </em>(QS. Ar-Ra’d 13: 11)</p>
<p><strong>Perubahan adalah sebuah Keniscayaan</strong></p>
<p>Perubahan adalah suatu keniscayaan. Bahkan ia menjadi tanda dan sifat dari sesuatu yang “hidup”. Ketika Allah menganugerahkan manusia perangkat indera, perangkat gerak, akal dan hati (QS. As-Sajdah 32: 9), ini pertanda bahwa manusia disiapkan untuk mengelola perubahan, dan bukan menyerah. Islam adalah metode kehidupan <em>(minhaj al-hayah) </em>yang Allah turunkan bagi manusia. Islam menjelaskan tanda-tanda perubahan dan arahan atau jalan bagi manusia untuk memimpin dan mengelola perubahan dengan benar dan tepat.</p>
<p>Indera, anggota tubuh, akal dan hati merupakan anugerah Allah yang dapat digunakan untuk mengelola perubahan. Sedangkan <em>agama </em>menjadi petunjuk Ilahiyah bagi manusia di dalam mengelola perubahan itu secara benar, selaras dengan hukum syar’i dan <em>sunnah kauniyah </em>(hukum-hukum yang berlaku dalam alam). Keduanya harus berpadu dan tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.</p>
<p>Allah menjelaskan tanda-tanda dan arahan perubahan melalui serangkaian catatan historis tentang peradaban bangsa-bangsa. Lebih dari setengah isi Al- Qur’an adalah kisah-kisah berbagai umat. <em>“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” </em>(QS Yusuf 12:111). Adanya tanda-tanda dan arahan Ilahiyah ini pertanda bahwa ada kaidah atau hukum yang berjalan secara konstan dalam setiap proses perubahan. Ini karena sejarah kehidupan manusia, sebagai akumulasi fenomena perubahan, berjalan secara siklus. Artinya, Islam memandang bahwa sejarah kehidupan dan peradaban umat manusia mengarungi sebuah garis lingkar (orbit), dimana nilai kemajuan menjadi sangat relatif. Nilai sebuah peradaban justru diukur dari nilai-nilai kebenaran yang diyakini dan dijalankan suatu peradaban bangsa atau umat.</p>
<p>Ini yang membedakan Islam dengan pandangan “<em>positivism” </em>misalnya, yang melihat sejarah peradaban sebagai suatu gerak linear yang akan membawa manusia sampai pada titik kesempurnaan. Dengan pandangan siklus sejarah, maka memahami dan mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu menjadi relevan dan penting. Dari sanalah ditemukan pola ulangan <em>(recurrent pattern) </em>dari setiap gerakan kehidupan. <em>“&#8230; Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami mempergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)&#8230;” </em>(QS Ali ‘Imran 3: 140).</p>
<p>Bagi seorang muslim, dengan demikian, yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap prinsip-prinsip perubahan agar tidak terombang-ambing dalam dinamika perubahan yang cepat, luas dan terus-menerus. Sesungguhnya yang berubah dan terus berkembang adalah gejala atau fenomena, karena ia dampak dari proses interaksi dan kreasi antar manusia yang melibatkan aspek material, teknis dan organisatoris. Adapun substansi dari dinamika itu adalah tetap, yaitu refleksi dari keadaan akal dan jiwa manusia, yang tidak pernah berubah dari satu orang ke orang lainnya, dimanapun dan kapanpun.</p>
<p>Dalam konteks ini, pemahaman realitas tidak sebatas memahami kecenderungan-kecenderungan fenomena yang terjadi, tetapi lebih jauh memahami substansi dinamika “kejiwaan manusia” yang terlibat di dalamnya. Disanalah berlaku kaidah atau hukum-hukum perubahan yang bersifat konstan. Al-Quran Surat Ar-Ra’d, ayat 11 pada pembukaan di atas, memberikan gambaran awal dan besar bagi kita untuk memahami dan melaksanakan perubahan ini, membangkitkan kejayaan umat, bangsa, dan negara kita.</p>
<p><strong>Allah sebagai Faktor Determinan Perubahan</strong></p>
<p>Kata-kata <em>Innallaha </em>menunjukkan kaidah bahwa Allah SWT senantiasa terlibat dalam setiap proses perubahan, bahkan sebagai faktor penentu (determinan). Kehancuran bangsa-bangsa di bidang ekonomi dan politik tak lepas dari faktor kehendak Allah dengan segala hubungan kausalitasnya (QS Al-An’am 6: 6). Dalam ayat lain surat Al-An’am 6: 44).</p>
<p>Begitupun sebaliknya, bangunnya sebuah bangsa dari kehancuran tidak lepas dari keterlibatan dan pertolongan Allah SWT. (Lihat QS Al-A’raf 7: 96).</p>
<p>Konsekuensinya, setiap peristiwa sejarah dan proses perubahan harus dilihat dari dua perspektif secara bersamaan, yaitu perspektif kausalitas material dan perspektif kausalitas transedental. Kausalitas material adalah kompleksitas interaksi antar unsur-unsur <em>basyariah </em>(kemanusiaan) berupa indera, anggota tubuh, akal dan hati dalam kepentingan kolektif umat manusia secara material, teknis dan organisasi. Kausalitas transedental adalah kompleksitas interaksi antar unsur-unsur <em>basyariah </em>dengan unsur-unsur Ilahiyah, dimana nilai “kebenaran hakiki” dan “jalan hidup yang benar” diletakkan bagi manusia.</p>
<p>Manusia yang hanya percaya pada kausalitas material akan mudah terjebak dalam pusaran perubahan yang absurd dan mudah mengalami frustrasi, manakala unsur-unsur basyariahnya tidak mampu lagi berhadapan dengan realitas. Sebaliknya, daya tahan peradaban akan terus eksis, ketika terjadi perpaduan serasi antara unsur basyariah dengan unsur Ilahiyah (QS Asy-Syuara 26: 61-62).</p>
<p><strong>Arah Gerak Perubahan</strong></p>
<p>Kata-kata <em>laayughoyiru maabiqaumin </em>(tidak akan mengubah keadaan suatu kaum) menunjukkan tiga kandungan penting. <em>Pertama</em>, pada awalnya perubahan bergerak dari keadaan baik kepada keadaan buruk. Allah SWT menciptakan alam semesta dengan benar, baik dan seimbang. Tetapi sifat zalim dan bodoh (QS Al-Ahzab 33: 72) pada diri manusia telah menyebabkan kerusakan dalam sistem kehidupan manusia dan alam semesta (QS Ar-Rum 30: 41).</p>
<p><em>Kedua</em>, kerusakan akan membawa bencana, ketika kerusakan itu sudah berskala kolektif. Dalam artian, ruanglingkup kerusakannya luas dan kerusakan dilakukan oleh kekuatan kolektif yang sistemik. Maka dalam keadaan ini, perbaikan tidak bias dilakukan secara individu dan parsial, tetapi melalui pendekatan sistemik. Itulah sebabnya <em>amar ma’ruf nahi munkar </em>menjadi salah satu pokok ajaran Islam yang penting, temasuk <em>amar ma’ruf nahi munkar </em>terhadap penguasa. Ini dikenal dengan konsep <em>Hisbah </em>(sebagian kalangan mengartikan kontrol publik) dalam Islam.</p>
<p><em>Ketiga</em>, manusia – pada titik tertentu – bisa terjebak pada <em>status quo. </em>Yaitu merasa nyaman dengan suatu keadaan sehingga dinamika berubah menjadi jumud. Stagnasi (kebekuan) dalam arti matinya dorongan untuk terus menambah kebaikan secara berproses akan menggerogoti bangunan kebaikan yang ada. Akibatnya, proses pembusukan akan berlangsung dalam sebuah system yang ‘statik’ atau ‘jumud’. Pada tingkat tertentu, <em>status quo </em>sampai kepada bentuk bahwa seseorang atau suatu masyarakat menikmati kondisi yang rusak atau tidak baik tersebut. Lihat Alquran surat Al-Baqarah: 72-74.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Titik Tolak dan Metode Perubahan</strong></p>
<p>Kata-kata <em>hatta yughoyiru maa bianfusihim </em>(hingga mereka mengubah keadaan dirinya sendiri) menunjukkan kaidah <em>mabda’ </em>dan <em>minhaj</em>. Titik-tolak (<em>mabda’</em>) perubahan harus dimulai dari pembangunan kembali diri manusia (<em>self-reconstruction) </em>yang dilandasi kesadaran diri (<em>self-awareness) </em>dan ditopang oleh kemampuan diri (<em>self-capability) </em>yang memadai. Ini menuntut rekonstruksi nilai, sikap, pengetahuan dan orientasi atas realitas yang dihadapi.</p>
<p>Titik tolak ini menuntun pada metode (<em>manhaj</em>) untuk mengedepankan pemberdayaan dan pendayagunaan potensi-potensi internal manusia dalam proses perubahan menuju perbaikan. Faktor-faktor eksternal di luar diri manusia ditempatkan sebagai factor pemicu dan pengembang (<em>accelerating </em><em>and advancing factors)</em>. Itulah sebabnya Nabi Muhammad di dalam membangun kembali masyarakat muslim baru di kota Madinah mendasarkan kekuatannya pada: (1) <em>kesatuan visi dan orientasi hidup </em>(dengan langkah membangun masjid), (2) <em>semangat persatuan dan solidaritas </em>(mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar), (3) <em>kemandirian dalam bidang ekonomi </em>(membangun pasar Muslim yang mandiri dari pasar Yahudi) dan (4) <em>kedaulatan politik umat </em>(perjanjian Madinah sebagai wujud kontrak sosial dengan pemeluk agama lain).</p>
<p>Secara konteks sosio-politik, cikalbakal masyarakat muslim pertama di Madinah berada pada lingkaran persoalan- persoalan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang sulit. Misalnya beban ekonomi kaum Anshar yang tidak didukung oleh tingkat kemakmuran yang memadai akibat perang saudara yang panjang, migrasi ratusan keluarga muslim Makkah yang umumnya meninggalkan harta-kekayaannya, ekonomi dan perdagangan yang didominasi kaum Yahudi, pertemuan dua kultur masyarakat kota (urban) dan masyarakat pertanian (rural), serta potensi konflik kepentingan antar elit politik di Madinah.</p>
<p>Namun dalam membangun masyarakat baru ini, Rasulullah SAW tidak menggantungkan diri pada faktor-faktor eksternal masyarakatnya, tetapi dengan membangun dan memperkuat kembali unsur-unsur internal masyarakat muslim.</p>
<p><strong>Keselarasan Kehendak Allah dan Manusia dalam Perubahan</strong></p>
<p>Kata-kata <em>wa idza aradallahu bi qaumin suu an </em>(dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada suatu kaum) menunjukkan penegasan Allah agar manusia mempertemukan keinginannya dengan keinginan Allah. Artinya setiap cita-cita dan upaya perubahan hendaknya mengacu kepada hukum perubahan dan jalan kehidupan yang digariskan oleh Allah. Selain itu, maka upaya perubahan tidak akan menghasilkan apapun, kecuali kerusakan demi kerusakan. Sebagaimana dijelaskan dalam Al- Quran surat An-Nur ayat 24-55.</p>
<p>Ungkapan di akhir surat Ar-Ra’d ayat: 11 (Dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya) menegaskan bahwa bangsa-bangsa yang mengelola perubahan tidak dengan <em>minhaj at-taghyir ar-Rabbani </em>(metode perubahan yang bersifat ke-Tuhanan), maka mereka akan mengalami kehancuran dahsyat yang sulit untuk bangkit kembali. Jenderal veteran Amerika Serikat, Hamilton Howze (1992), dalam bukunya <em>“The Tragic Descent America in 2020” </em>yang berisi pengamatannya terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial masyarakat AS yang kian porak poranda, meramalkan secara ilmiah bahwa peradaban Amerika akan mengalami kehancuran hebat pada tahun 2020 karena mereka telah melesat dari moralitas yang bisa menjaganya.</p>
<p>Mudah-mudahan kita termasuk dalam barisan perubahan yang akan membangkitkan Indonesia, menuju terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermatabat serta penyebar rahmat bagi alam semesta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/hukum-pergiliran-peradaban.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Masalah dalam Berdebat</title>
		<link>http://ppsdms.org/empat-masalah-dalam-berdebat.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/empat-masalah-dalam-berdebat.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 03:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1600</guid>
		<description><![CDATA[Asto Hadiyoso*
Sebuah artikel di salah satu situs berita nasional ramai oleh komentar, baik yang pro maupun yang kontra. Artikel tersebut berbicara mengenai tindakan MUI di salah satu daerah yang melarang perayaan Valentine Day tanggal 14 Februari karena alasan tertentu. Dari beberapa komentar yang diutarakan, tersirat ada semacam rasa sebal dari beberapa pihak mengenai kerja MUI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Asto Hadiyoso*</strong></p>
<p>Sebuah artikel di salah satu situs berita nasional ramai oleh komentar, baik yang pro maupun yang kontra. Artikel tersebut berbicara mengenai tindakan MUI di salah satu daerah yang melarang perayaan Valentine Day tanggal 14 Februari karena alasan tertentu. Dari beberapa komentar yang diutarakan, tersirat ada semacam rasa sebal dari beberapa pihak mengenai kerja MUI yang kerap mengharamkan ini-itu. Salah satu komentar berkata bahwa MUI adalah lembaga yang diisi orang-orang ‘muna’ alias munafik. Komentar lainnya menunjukkan kegeramannya dengan menantang MUI untuk mengharamkan celana, facebook, dll. Ada juga komentar yang tidak nyambung, mengait-ngaitkan kerja MUI dengan teroris, umat Islam yang tidak toleran, dan lain sebagainya.</p>
<p>Perdebatan itu hanyalah sebuah sampel dari fenomena besar yang kerap kita jumpai. Pertama, banyak orang cenderung berpuas diri dengan memandang suatu masalah dari satu sisi. Kedua, banyak orang cenderung mencukupkan diri dengan informasi yang sedikit, tanpa melihat lebih jauh mengenai akurasi dan kelengkapan informasi tersebut. Ketiga, banyak orang yang berbantah-bantahan tanpa menyadari mereka memiliki definisi yang berbeda mengenai suatu kata atau pernyataan. Keempat, banyak orang yang terlalu mudah menyalahkan orang lain.</p>
<p>Sebuah piramida, dalam istilah Geometri yang dipelajari anak SD, disebut limas segiempat. Bentuk tersebut merupakan bentuk bangun ruang yang mustahil dijabarkan oleh satu proyeksi ortogonal (bidang datar). Bila dilihat dari samping secara ortogonal, piramida akan tampak sebagai sebuah segitiga. Lain halnya bila priamida dilihat dari atas, maka akan tampak sebagai sebuah persegi. Ketika ada dua orang yang berdebat mengenai bentuk segitiga, orang pertama mengatakan bentuk piramida itu segitiga, sedangkan orang yang lain membantahnya dengan mengatakan bentuk segitiga itu persegi, maka dalam hal ini siapakah yang benar? Jawabannya bisa dua-duanya benar atau bisa dua-duanya salah, tergantung standar jawabannya. Hal tersebut setidaknya bisa menjadi analogi bagi sebuah peristiwa yang sangat mungkin dilihat secara berbeda oleh orang yang berbeda. Naif sekali jika kita merasa mengetahui segalanya, padahal itu hanya dilihat dari satu sisi saja.</p>
<p>Ketika kita mendengar, membaca, atau menyaksikan suatu peristiwa, tidak jarang seseorang langsung merasa bahwa informasi yang ada dihadapannya adalah sebuah kebenaran. Padahal satu keping informasi yang belum diketahui, meskipun itu kecil, bisa jadi mengubah status informasi tersebut 180 derajat. Peristiwa penyergapan Ibrahim alisa Boim oleh Densus 88 yang ditayangkan secara Live oleh media massa beberapa waktu lalu dapat menjadi contoh yang baik. Pemberitaan digiring kepada sebuah persepsi bahwa yang tengah diburu adalah Noordin M. Top, padahal pihak media sendiri belum memperoleh informasi yang bias memastikan hal tersebut.</p>
<p>Perbedaan definisi juga kerap menjadi biang masalah dalam deba kusir. Adakalanya sebuah istilah dimaknai secara berbeda oleh pihak yang berbeda. Contoh yang cukup klasik namun menarik adalah penggunaan istilah ‘motor’. Bagi kebudayaan tertentu ‘motor’ dimaknai sebagai sepeda motor, namun bagi kebudayaan lain dimaknai mobil. Masalah bisa saja muncul saat terjadi perdebatan berapakah jumlah roda pada ‘motor’, dua atau empat? Begitu pula yang terjadi dengan istilah seperti HAM, pluralisme, fundamentalisme, fanatik, Salafi dan lain sebagainya. Kadang terjadi satu pihak terusik dengan penggunaan satu istilah, karena dirasa melecehkan dirinya, padahal yang melontarkan istilah tersebut tidak bermaksud sama sekali mengaitkan istilah tersebut dengan pihak yang terusik. Akan konyol sekali ketika pertengkaran terjadi karena hal sepele semacam itu.</p>
<p>Saat diri kita merasa benar, anggapan yang paling mudah muncul adalah menyalahkan pihak lain yang berbeda pendapat. Ini yang terjadi ketika kita tidak bias menyikapi perbedaan dengan bijaksana, berusaha melakukan klarifikasi atas sebuah perkara, objektif dalam menilai sebuah masalah, serta bersabar mencari informasi seakurat dan selengkap mungkin. Hal itu sama sekali bukan berarti kita tidak boleh merasa benar. Hanya saja anggapan mengenai kebenaran tersebut harus dibingkai dengan semangat toleransi dan objektifikasi karena apa yang saat ini kita anggap benar belum tentu benar. Begitu pula sebaliknya. Kisah mengenai Nicolaus Copernicus atau Galileo dan gereja Katolik merupakan</p>
<p>contoh yang cukup relevan dalam hal ini. Sesungguhnya ada banyak hal yang lebih perlu diurus di negeri ini ketimbang berdebat tanpa jelas arahnya. Sebuah diskusi atau perdebatan baru akan bermanfaat jika dilandasi semangat toleransi, mau mencoba memandang suatu hal dari berbagai sisi, mencari informasi yang benar lengkap dan akurat terlebih dahulu, melakukan penyesuaian definisi mengenai istilah yang dianggap berbeda, serta objektivitas untuk mencari kebenaran. “<em>Dan serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah. Dan cara-cara yang baik. Dan berdebatlah dengan cara-cara yang baik pula</em>”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/empat-masalah-dalam-berdebat.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Real Leader</title>
		<link>http://ppsdms.org/the-real-leader.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/the-real-leader.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 02:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1597</guid>
		<description><![CDATA[“A truly leader is someone who isn’t affraid on top of every situation including decision making in the hard time and failure”.
 
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah seseorang yang berani mengambil risiko dan tidak takut berada di puncak tanggung-jawab dalam segenap situasi, termasuk pengambilan keputusan di masa sulit dan penuh kegagalan. Dia tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“</strong><strong><em>A truly leader is someone who isn’t affraid on top of every situation including decision making in </em></strong><strong><em>the hard time and failure</em></strong><strong>”.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah seseorang yang berani mengambil risiko dan tidak takut berada di puncak tanggung-jawab dalam segenap situasi, termasuk pengambilan keputusan di masa sulit dan penuh kegagalan. Dia tidak akan membiarkan bawahannya kebingungan, bahkan mengalami depresi, karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Ibaratnya, pemimpin adalah pembawa cahaya penuntut jalan tatkala situasi gelap gulita. Pemimpin adalah sosok yang paling tenang dan waras, ketika semua orang sedang dilanda kepanikan, kecemasan atau kemarahan massal. Pemimpin adalah dia yang memberikan dorongan tulus, di saat banyak orang menemui jalan buntu dan nyaris putus asa. Pada saat yang sama, pemimpin adalah ia yang selalu berada di garis depan, manakala tantangan berat menghadang.</p>
<p>Mantan Presiden India, APJ Abdul Kalam, pernah ditanya dalam sebuah kuliah di <em>Wharton India Economic Forum</em>, Philadelphia, Amerika Serikat. Pertanyaan kepada sang Presiden yang ahli teknologi itu sederhana saja: “Bisakah Anda memberikan contoh, dari pengalaman sendiri, bagaimana seorang pemimpin menangani kegagalan?”. APJ Abdul Kalam tak menjawab langsung, tapi memberikan ilustrasi dari sebuah pengalaman nyata (<em>true story</em>) yang dialaminya sendiri di tahun 1973. Saat itu ia menjadi <em>Project Director </em>untuk misi peluncuran satelit India yang bernama ‘Rohini’. Program itu diberi kode sandi: SLV-3. Misi pemerintah India sangat jelas, yaitu mengorbitkan satelit Rohini pada tahun 1980. Di tahun 1973, persisnya di bulan Agustus, semua rencana peluncuran sudah siap. Sebagai <em>Project Director</em>, Abdul Kalam memasuki ruang kontrol dan akan memulai misi peluncuran. Empat menit sebelum peluncuran, komputer sudah mulai mengkalkulasi dan mengecek sistem. Semenit kemudian, di layar monitor muncul peringatan untuk menunda peluncuran. “Tapi saya mem-<em>bypass </em>peringatan komputer tersebut. Pindah ke <em>manual mode </em>dan memulai pelucuran,” cerita Abdul Kalam. Pada tahap awal, semuanya berjalan dengan baik, tetapi memasuki tahap kedua mulai muncul problem, bukan satelit yang kita harapkan bisa mengorbit, malah keseluruhan roket jatuh ke Teluk Bengali. Ini adalah KEGAGALAN BESAR (<em>big failure</em>) bagi seluruh masyarakat India.</p>
<p>Hari itu juga, <em>Chairman </em>dari <em>Indian Space Research Organization </em>(ISRO), Prof. Satish D. Hawan, menggelar konperensi pres. Waktu peluncuran itu sekitar jam 7.00 pagi dan konperensi pers digelar pukul 7.45 yang dihadiri oleh banyak jurnalis dari segala penjuru dunia. Saat itu, Prof. Satish memimpin langsung konperensi pers yang penuh ketegangan sekaligus kesedihan. Ia mengatakan kepada para jurnalis, bahwa seluruh anggota tim sudah bekerja keras, namun mereka membutuhkan dukungan teknologi yang lebih canggih. “Di tahun-tahun berikutnya, saya yakin kita pasti akan sukses,” ujar Profesor Satish dengan penuh percaya diri. Sebagai direktur proyek, Abdul Kalam tercenung, menyaksikan sikap Prof. Satish.</p>
<p>Tahun berikutnya, pada Juli 1980, Abdul Kalam masih menjadi <em>project director </em>dan memulai misi peluncuran sekali lagi. Kali ini, misinya berhasil gemilang. Seluruh bangsa India larut dalam kegembiraan dan kebanggaan. Sekali lagi, konperensi pers juga digelar segera. Prof. Satish memanggil saya dan berkata, “Kali ini kamu yang pimpin konperensi pers!”. Tiba-tiba Abdul Kalam sadar, ia baru saja mendapat pelajaran yang berharga. Di saat gagal, seorang pemimpin mengambil-alih tanggung jawab atas kegagalan itu. Di kala sukses, <em>the true leader </em>memberikan kemenangan tersebut kepada seluruh anggota tim. Pelajaran terbaik tentang kepemimpinan bagi Abdul Kalam bukan didapatkan dari buku, tapi dari pengalaman itu.</p>
<p>“<em>When the failure occurred, the leader of the organization owned that failure. When success came, he gave it to his team</em>.” Filosofi itu sama seperti filosofi kepemimpinan yang dianut sejak zaman Tiongkok kuno, yaitu <em>‘Thuei Kong Lan Kuo’</em>, yang artinya “tidak mengklaim keberhasilan sebagai jasa sendiri, namun berani memikul seluruh tanggung jawab saat kegagalan timbul”.</p>
<p>Di PPSDMS kami melakukan evaluasi secara rutin terhadap seluruh pelaksanaan program dan penggunaan anggaran. Kami mengecek faktor-faktor apa saja yang membuat suat program berhasil dengan baik sesuai dengan indikator terukur. Setiap Pengurus di tingkat Pusat maupun Regional mendapat evaluasi tersendiri sebagaimana seluruh Peserta pembinaan juga memperoleh rapor masing-masing. Dari situ kami dapat mengembangkan potensi yang positif dan menghilangkan segala gejala negative sedini mungkin.</p>
<p><strong><em>Salam Redaksi</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/the-real-leader.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik</title>
		<link>http://ppsdms.org/kepemimpinan-thalut-di-masa-kegoncangan-politik.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/kepemimpinan-thalut-di-masa-kegoncangan-politik.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 11:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1596</guid>
		<description><![CDATA[Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sapto Waluyo</strong></p>
<p>Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (<em>vacuum of leadership</em>) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.</p>
<p>Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver elite tidak bermaksud menyelesaikan masalah, namun hanya menimbulkan komplikasi baru.</p>
<p>Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada masalah serupa dengan maraknya skandal dana talangan (<em>bail out</em>) Bank Century. Kita tahu penyimpangan itu terjadi menjelang momen besar Pemilihan Umum</p>
<p>tahun 2009. Sebelumnya di tahun 2004, juga terjadi kasus serupa dengan pembobolan bank BNI 1946, lalu pada tahun 1998 terjadi skandal lain menimpa Bank Bali. Tampaknya, terjadi pola kejahatan yang</p>
<p>berulang karena untuk memenangkan kompetisi politik (pemilu atau pemilihan presiden) diperlukan dana kampanye yang besar, meskipun dalam pemeriksaan Pansus DPR belum ditemukan bukti kongkrit itu.</p>
<p>Nah, di sela gonjang-ganjing politik dan proses hukum yang terus bergulir tak tentu arah itu muncul desakan pergantian terhadap tokoh-tokoh publik yang dipandang bertanggung-jawab atas dugaan</p>
<p>penyimpangan. Ini memang ciri khas para elite politik dan pemilik modal, mereka mendorong perubahan agar memperoleh akses politik dan ekonomi yang lebih besar. Sementara itu, problem yang dihadapi masyarakat banyak tak kunjung tuntas.</p>
<p>Fenomena serupa pernah terjadi di kalangan Bani Israel sepeninggal Nabi Musa. Saat itu telah diutus Nabi pengganti, yaitu Samuel. Tapi, setelah terbebas dari cengkeraman kezaliman Firaun, kondisi Bani Israel kembali ditindas bangsa lain di tanah Kanaan. Penindasan yang dialami berkepanjangan itu menimbulkan rasa frustasi di kalangan masyarakat, terutama kelompok elite. Hal itu diungkapkan dalam Al Qur’an, surat Al Baqarah ayat 246: <em>“Tidakkah kamu perhatikan pada pemuka (</em><em>al mala: elite</em><em>) Bani Israel setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi, ‘Angkatlah seorang pemimpin</em></p>
<p><em>untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah’. Nabi mereka menjawab: ‘Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga? Mereka menjawab, ‘Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami? &#8230;”</em></p>
<p>Nabi Samuel rupanya sudah mengetahui perilaku buruk para elite Bani Israel, mereka menuntut suksesi dengan alasan ingin berjuang mengubah nasib rakyat, padahal sesungguhnya mereka tak punya nyali untuk berjuang. Sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan firman suci itu, “Tetapi, ketika perang itu diwajibkan atas mereka, maka mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha</p>
<p>Mengetahui orang-orang yang zalim.”</p>
<p>Teriakan takbir dan pekik merdeka diiringi dengan kepalan tangan ternyata hanyalah semangat perjuangan yang palsu, karena para elite itu menyimpan ambisi kekuasaan tersembuyi di balik amarah</p>
<p>rakyat. Mereka benar-benar pandai memainkan emosi masyarakat yang labil, tapi kelak akan terbuka kedok itu. Sejatinya, jika mereka benar-benar ingin berjuang, maka tuntutan mereka kepada Nabi Samuel adalah “Bersediakan engkau memimpin kami untuk melawan penindasan terhadap umat ini?”.</p>
<p>Sebab, seorang Nabi diutus Allah <em>Azza wa Jalla </em>bukan hanya menjadi pemimpin spiritual,tapi juga pembebas dari segala belenggu kezaliman, termasuk memimpin perang. Para elite dan kebanyakan umat Israel terjebak mitos atas sosok Nabi Musa.</p>
<p>Mereka menyangka bahwa pemimpin besar harus memiliki segala-galanya untuk mengalahkan tiran besar. Mereka lupa bahwa Musa pada awalnya hanyalah anak angkat Firaun dan berasal dari keluarga</p>
<p>budak Bani Israel yang miskin. Setelah melalui pelatihan kepemimpinan yang panjang di bawah Nabi Syuaib dan Khaidir, akhirnya Musa lahir sebagai pembebas umat tertindas. Musa juga tidak berjuang</p>
<p>sendirian, karena ia didampingi mitra yang setia dan kompatibel, yakni Nabi Harun yang luwes berdiplomasi dan fasih berorasi. Seorang pemimpin besar tidak lahir tibatiba dari ruang kosong sejarah, dan tidak berjuang sebagai <em>lone ranger</em>.</p>
<p>Nabi Samuel akhirnya menetapkan Thalut, seorang pemuda kampung, sebagai pemimpin Bani Israel yang baru, dengan tugas khusus memimpin perang melawan penjajah. Itu semua tentu atas petunjuk dari Allah Yang Maha Kuasa, bukan hanya pertimbangan pribadi, apalagi favoritisme. Tetapi, bagaimana reaksi para elite Bani Israel? Mereka menolak mentah-mentah kepemimpinan Thalut. “Bagaimana Thalut memperoleh kekuasaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu</p>
<p>daripadanya, dan dia tidak diberi harta yang banyak?” (Al Baqarah: 247).</p>
<p>Tampak jelas ambisi para elite untuk merengkuh kekuasaan di tangannya sendiri dengan memanfaatkan sentiment rakyat. Dalih utamanya adalah kekuasaan sebagai warisan feodal dan dapat dibeli/dirawat</p>
<p>dengan harta melimpah. Namun, Nabi Samuel menandaskan kriteria kepemimpinan yang sejati (<em>true leadership</em>): <em>“Allah telah memilihnya (menjadi pemimpin) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan</em></p>
<p><em>jasmani. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (pengetahuan dan kekuasaan) serta Maha Mengetahui”.</em></p>
<p>Provokasi elite harus direspon dengan argumentasi logis, bahwa posisi kepemimpinan hanya diberikan kepada mereka yang memiliki integritas (aqidah) dan moralitas tidak tercela, serta memiliki kapasitas intelektual dan kesamaptaan jasmani. Kelebihan fisik juga bermakna penguasaan terhadap strategi militer dan mobilisasi kekuatan. Semua kategori itu telah dimiliki oleh Thalut, meskipun dia  berasal dari keluarga miskin dan tak terkenal. Karena itu, Thalut pantas memimpin perjuangan baru melawan penindasan.</p>
<p>Nabi Samuel tak hanya mengumumkan pengangkatan Thalut, tetapi juga mengabarkan isyarat akan ditemukannya <em>Tabut </em>(kotak sejarah) sebagai legitimasi historik kepemimpinan Thalut (Al Baqarah:</p>
<p>248). Tabut adalah kotak sejarah peninggalan keluarga Musa dan Harun yang sempat hilang, sehingga Bani Israel mengalami disorientasi dalam perjalanan hidupnya.</p>
<p>Apakah warisan utama Musa dan Harun dari konteks kepemimpinan? Musa mewakili sosok pemimpin yang berani (<em>bold and courageous</em>) menghadapi tantangan dan resiko sebesar apapun, penuh semangat</p>
<p>(<em>zealous and enthusiastic</em>) di tengah berbagai cobaan, dan pantang menyerah (<em>consistent</em>) dalam melakukan perubahan. Sementara itu, Harun adalah sosok pemimpin yang sabar dan tabah (<em>patient and</em></p>
<p><em>steadfast</em>) dalam menghadapi dinamika kemanusiaan, pandai berdiplomasi dan berorasi (<em>diplomatic and oratory capabilities</em>) yang menggugah emosi rakyat maupun para raja. Gabungan kedua nilai dan tradisi kepemimpinan itu menyatu dalam pribadi Thalut, sehingga dia mencuat di kalangan pemuda Israel.</p>
<p>Meskipun demikian, mandat profetik dan legitimasi historik tak cukup bagi seorang pemimpin yang berjuang melawan penindasan, apalagi di tengah gejolak sosialpolitik. Untuk itu, Thalut menguji para</p>
<p>prajurit yang dipimpinnya. Ujian yang sangat sederhana, yakni menempuh perjalanan jauh untuk menghadang musuh (kaum <em>Jabbarin</em>) dan tidak boleh terpesona oleh aliran sungai yang akan mereka lalui. “Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka, barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku…”, ujar Thalut ketika memeriksa barisan prajuritnya (Al Baqarah: 249).</p>
<p>Sebagian prajurit Thalut memandang remeh ujian itu, sebab mereka telah melalui proses pelatihan yang berlapis dan berat. Sebagian manusia, terutama calon pemimpin dan para pejuang acap terjerembab karena kerikil kecil. Inilah inti dari ujian kepemimpinan dan keprajuritan (<em>leadership and followership</em></p>
<p><em>test</em>), yaitu untuk membuktikan karakter asli masing-masing di tengah medan pertempuran. Ternyata benar, sesuai prediksi Thalut, kebanyakan pengikutnya tak lolos ujian: mereka mandi basah di sungai itu, berpuas hati meminum air sebanyak-banyaknya, sehingga tak ada lagi kekuatan untuk melawan</p>
<p>musuh di hadapan.</p>
<p>Ujian kesenangan memang lebih berat daripada ujian kesulitan dan kesusahan hidup. Kita sering melihat kader dai dan aktivis pergerakan yang penuh semangat, tatkala situasi sangat sulit. Medan seberat</p>
<p>apapun akan ditempuh untuk mencapai tujuan perjuangan. Namun, setelah menempati posisi kekuasaan di lembaga publik, semisal legislatif maupun eksekutif, semangat dakwah dan aktivismenya menurun drastik.</p>
<p>Para prajurit yang lolos dari ujian kesenangan itu memiliki jawaban yang berbeda, ketika mereka dibenturkan dengan tantangan berat, karena mereka yakin akan bertemu dengan Allah dalam posisi</p>
<p>sebagai pemenang, walaupun di dunia mereka serba berkekurangan. “Betapa banyak kelompok kecil (<em>fiah qalilah</em>) mampu mengalahkan kelompok besar (<em>fiah katsirah</em>) dengan izin Allah”, begitulah argumentasi mereka yang kemudian menjadi dalil sejarah pergiliran peradaban. Sejarawan Inggris, Arnold J. Toynbee yang menulis buku “<em>A Study of History</em>” telah menjelaskan peranan kelompok kecil-kreatif (<em>creative minority</em>) dalam mengubah sejarah peradaban dunia. Dari zaman ke zaman terbukti hanya sedikit orang yang membawa perubahan dengan mempengaruhi/ mengalahkan mayoritas warga</p>
<p>lainnya.</p>
<p>Pasukan minoritas-kreatif pengubah sejarah itu menyenandungkan doa yang khas: <em>“Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang yang ingkar” </em>(Al Baqarah: 250). Kesabaran (menjalani seluruh proses perubahan), keteguhan (dalam memegang prinsip dan idealisme), serta kepekaan spiritual-transendental merupakan</p>
<p>modal kemenangan melawan penindasan yang menahun.</p>
<p>Itulah puncak dari persiapan seorang pemimpin untuk tampil memenangkan perang di kancah publik. Pertempuran antara pasukan Thalut melawan Jalut, pada gilirannya, mencuatkan pemimpin lain dengan karakter yang lebih agung, yaitu Daud. Sejarah mencatat pertarungan antara David (Daud) versus Goliath (Jalut) merupakan klimaks perjuangan Bani Israel.</p>
<p>Dalam teori perang atau kajian strategi dikenal prinsip <em>centre of gravity </em>(pusat kekuatan). Jalut adalah sumber kekuatan bagi kaum penindas. Bila komandan bengis itu berhasil dilumpuhkan, maka pasukan musuh akan tercerai-berai. Thalut memahami hal itu, dan untuk melumpuhkan Jalut, ia memilih orang yang tepat. Seorang pemimpin yang cerdas tak akan menyelesaikan seluruh skenario pertempuran</p>
<p>sendirian. Dia akan menugaskan prajurit yang tepat demi menjalankan misi yang menentukan, sekaligus mengkader, bila sang prajurit suatu waktu kelak akan menjadi pemimpin penggantinya.</p>
<p>Daud menjalankan misi berbahaya itu dengan sukses. Dengan kecerdasannya, Jalut berhasil dikalahkan. Pada momen yang tepat, Daud akhirnya melanjutkan estafeta kepemimpinan Thalut. Daud memiliki seluruh kriteria kepemimpinan yang disandang Thalut. Ditambah lagi, Allah menganugerahi Daud kemampuan untuk mengendalikan kerajaan besar, kebijaksanaan (hikmah), dan ilmu pengetahuan luas (Al Baqarah: 251). Kemampuan manajerial Daud tidak diragukan lagi, karena pada masanya, tidak kurang 13 kerajaan kecil Bani Israel dipersatukan menjadi Federasi Israel Raya.</p>
<p>Inilah pelajaran penting dari Thalut, sosok pemimpin di masa transisi penuh kegoncangan sosial-politik. Seorang pemuda kampung yang menggembleng diri dengan tradisi kepemimpinan Musa dan Harun. Pemimpin transformasional member jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin besar sesudahnya: Daud dan Sulaiman.(<strong>sw</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/kepemimpinan-thalut-di-masa-kegoncangan-politik.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leadership Talks yang Penuh Inspirasi</title>
		<link>http://ppsdms.org/leadership-talks-yang-penuh-inspirasi.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/leadership-talks-yang-penuh-inspirasi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 10:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1591</guid>
		<description><![CDATA[“Semua perubahan besar digerakkan oleh dua hal: rasa sakit dan cita-cita. selanjutnya, pertarungan antara dua hal inilah yang menentukan usia gerakan perubahan itu. mari memenangkan mimpi dari rasa sakit.” (Shofwan al Banna on Leadership Talks)
Ada suasana berbeda di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, 18 Februari 2010. Di Kamis siang yang diguyur hujan rintik-rintik itu, sejumlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Semua perubahan besar digerakkan oleh dua hal: rasa sakit dan cita-cita. selanjutnya, pertarungan antara dua hal inilah yang menentukan usia gerakan perubahan itu. mari memenangkan mimpi dari rasa sakit.”</em> (Shofwan al Banna on Leadership Talks)</p>
<p>Ada suasana berbeda di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, 18 Februari 2010. Di Kamis siang yang diguyur hujan rintik-rintik itu, sejumlah pemuda dengan setelah jas formal tampak sibuk menyambut antusiasme tinggi para mahasiswa yang berduyun-duyun datang. Hari itu, PPSDMS Regional 1 Jakarta melaksanakan acara <em>Leadership Talks : Inspiring Story of Young Leaders</em>. Publikasi acara berformat <em>talkshow </em>itu memang sudah cukup lama disebar di sudut-sudut kampus. Tidak heran, sekitar 250 kursi Auditorium tak cukup menampung kehadiran mahasiswa, yang sebagian di antaranya harus berdiri atau duduk di sela-sela kursi.</p>
<p>Acara diawali dengan <em>welcoming speech </em>Rektor Universitas Indonesia (yang berhalangan hadir dan diwakili oleh Sekretaris Rektor). Selanjutnya, pada sesi inti acara, hadir tokoh muda: Shofwan al-Banna (Alumni Angkatan II PPSDMS Jakarta), Goris Mustaqim (Alumni PPSDMS Angkatan II Regional 2 Bandung), dan Agung Baskoro (Alumni PPSDMS Angkatan III Regional 3 Yogyakarta).</p>
<p>Menurut Shofwan, kepemimpinan masa kini adalah masa kepemimpinan inovatif. Bagaimana seorang Mark Zuckerberg menyajikan teknologi yang digabungkan dengan sesuatu yang telah dirampas teknologi. Apa itu? Hubungan sosial. Jadi, Facebook menggabungkan antara teknologi dan kemampuan sosialisasi. Facebook jelas telah melakukan inovasi yang dahsyat. Kita mengenalnya dengan istilah “jejaring sosial”.</p>
<p>Goris Mustaqim berbagi kisah bagaimana ia menggali potensi pemuda-pemudi Garut untuk dimaksimalkan demi kemajuan daerahnya. Kisah Goris membuatnya menjadi salah satu <em>Asia’s Best Young Entrepreneur </em>versi Bussiness Week dan diagendakan bertemu dengan Presiden Barack Obama di Amerika Serikat. Sementara yang paling muda, Agung Baskoro, bercerita tentang pengalamannya berkeliling Indonesia. “Realitas Indonesia bukanlah Jakarta. Tapi realitas Indonesia hanya bisa kita saksikan, ketika kita tidak lagi berjarak dengan masyarakat-masyarakat kecil yang ada di pelosok negeri,” kata Agung. Determinasi tinggi ditambah sikap pantan menyerah menakdirkan Agung sebagai peraih <em>The Next Leader </em>Metro TV.</p>
<p>Dengan dimoderatori Muhammad Kholid, decak kagum peserta lewat kisah inspiratif pembicara dan diselingi tawa, karena guyonan renyah mereka membuat acara ini semakin berbobot, tapi dikemas dengan santai tanpa sama sekali menghilangkan esensi pembicaraan. Menjelang akhir, seisi ruangan mendapat <em>surprise </em>dengan kedatangan Najwa Shihab (<em>News Anchor</em>, menantu Laksda (Purn) Hussein Ibrahim, Wakil Dewan Penyantun PPSDMS) yang memang dijadwalkan turut menjadi pembicara. Mereka semua merupakan <em>the promising leaders </em>dan telah dikenal lewat karya-karya nyatanya. Acara ini mencapai klimaks dengan <em>closing speech </em>yang sangat mengena dari politisi muda Bima Arya Sugiarto Ph.D.</p>
<p>Tidak hanya berbagi kisah kepemimpinan, acara ini juga memperkenalkan profil PPSDMS, <em>display </em>beberapa foto kegiatan, testimoni tokoh, video pengalaman peserta, dan juga pojok rektrutmen PPSDMS sehingga peserta dapat bertanya apapun tentang PPSDMS.</p>
<p>Alhasil, acara ini mendulang sukses. Semua peserta meninggalkan ruangan dengan wajah-wajah sumringah. Dengan persiapan hanya tiga minggu, Regional 1 Jakarta berhasil menyebarkan kebaikan kepada warga kampus UI dan sekitarnya. Sekali lagi PPSDMS member bukti bahwa kepemimpinan bisa diciptakan dan tugas kita adalah saling mengingatkan dan menasehat-nasehati untuk kebaikan.</p>
<p>Sebagaimana yang diucapkan Bachtiar Firdaus, MPP (Manajer Program PPSDMS) “Acara <em>Leadership Talks </em>ini bukanlah yang pertama dan terakhir kalinya. Kita akan kembali melaksanakan acara ini enam bulan atau satu tahun sekali dan membuatnya sebagai tradisi tetap PPSDMS, sebagai salah satu bentuk kepedulian kita terhadap penguatan kepemimpinan di Indonesia.” <em>[AWA]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/leadership-talks-yang-penuh-inspirasi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi Bulan Desember 2009</title>
		<link>http://ppsdms.org/laporan-donasi-bulan-desember-2009.htm</link>
		<comments>http://ppsdms.org/laporan-donasi-bulan-desember-2009.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 04:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rubby</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppsdms.org/?p=1584</guid>
		<description><![CDATA[azakumullah Khoiron Katsiran
Atas donasi (zakat, infaq, shadaqah, wakaf) sahabat PPSDMS.
Semoga dapat mengantarkan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>azakumullah Khoiron Katsiran</em></p>
<p>Atas donasi (zakat, infaq, shadaqah, wakaf) sahabat PPSDMS.</p>
<p>Semoga dapat mengantarkan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppsdms.org/laporan-donasi-bulan-desember-2009.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<div>
   <a href="http://peserta.ppsdms.org"> Portal Peserta PPSDMS</a>
</div>