Regenerasi Kepemimpinan Nasional
Panggung politik nasional disibukkan dengan tawar-menawar posisi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Setelah tarik-menarik yang alot akhirnya tampil tiga pasang kandidat: Jusuf Kalla-Wiranto (JK Win), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berboedi), dan Megawati Soekarnoputeri-Prabowo Subianto (Mega Pro).
Wakil Rakyat
Pemilihan Umum di Indonesia telah berakhir dengan relatif aman dan lancar, meskipun banyak protes dan kritik di sana-sini. Inilah pesta demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Pemilu di India diikuti 714 juta pemilih, tapi bedanya menggunakan 1,3 juta mesin elektronik yang berada di lebih dari 800 ribu tempat pemungutan suara. Pemilu raksasa itu hanya memperebutkan 124 kursi dari total 543 kursi di Majelis Rendah. Sementara itu, Pemilu di negeri Paman Sam diikuti sekitar 150 juta orang untuk menentukan separuh dari anggota Parlemen dan Senat setiap dua tahun, lalu pada tahun keempat bertepatan dengan pemilihan presiden.
Pemimpin Pilihan Rakyat
Rakyat Indonesia saat ini sedang gegap gempita untuk menentukan wakil-wakilnya yang akan duduk di kursi parlemen. Beragam cara dilakukan para kandidat untuk merebut hati dan pikiran rakyat pemilih.Ada yang menyebarkan atribut partai, ada pula yang memasarkan keistimewaan pribadinya. Rakyat cukup cerdas untuk menentukan siapa yang memiliki integritas dan kapabilitas yang tidak diragukan.
Seleksi Kepemimpinan
Pesawat televisi kita akhir-akhir ini diriuhkan dengan acara kontes dan debat kandidat dari beraneka partai dan kelompok. Maklum kampanye pemilihan umum sedang berlangsung gencar. Tanpa disadari, Indonesia memecahkan rekor dunia dalam hal masa kampanye terlama, karena lebih dari delapan bulan promosi politik yang diperbolehkan undang-undang dan Komisi Pemilihan Umum. Ini bukan hal yang membanggakan karena energi bangsa tersedot hanya demi urusan politik praktis, sementara aspek perbaikan moral, pembenahan sektor pendidikan dan pencapaian kesejahteraan rakyat cenderung terabaikan.
Kita berusaha mengambil hikmah dari kondisi yang tak ideal ini, karena proses demokratisasi memang meminta ongkos besar. Hal ini terjadi di banyak negara, tak khusus di Indonesia. Pelajaran terpenting ialah mereka yang ingin tampil memimpin bangsa ini harus siap mengikuti kontestasi gagasan dan uji kinerja, tak hanya berbekal janji kosong atau pesona diri, apalagi klaim keturunan atau mistik kekuasaan. Rakyat semakin cerdas untuk menilai kandidat mana yang jujur berbicara dari hati dan akal yang bersih, serta memiliki kapabilitas untuk membuktikan segala harapan menjadi kenyataan.
Generasi Kepemimpinan Baru
Krisis kemanusiaan terjadi di depan mata dunia. Serangan brutal Zionis Israel selama 22 hari telah merenggut nyawa sedikitnya 1310 warga sipil di Jalur Gaza, sekitar 417 korban tewas adalah anak-anak, 108 waniita, 120 kakek dan nenek, 14 tim medis, empat wartawan dan lima warga asing. Sementara warga yang terluka parah sekitar 5450 orang. Begitulah catatan [...]
Introspeksi Kepemimpinan
Tahun 2008 sebentar lagi berlalu, dan fajar baru tahun 2009 akan segera menyambut kita. Momen pergantian kalender Masehi ini berdekatan dengan pergantian tahun Hijriyah dari 1429 menjadi 1430. Akankah tahun baru membawa suasana baru dan harapan baru? Ataukah, sebaliknya, justru memunculkan kecemasan dan ketidakpastian baru, karena masa depan memang tak dapat diprediksi secara mutlak.
[...]
Pahlawan dan Guru Bangsa
Isu tentang status kepahlawanan sejumlah tokoh nasional marak kembali, justru pada saat memperingati Hari Pahlawan, 10 November lalu. Tokoh semisal Jenderal Soedirman dan Mohammad Hatta, tak diragukan lagi, pasti disetujui semua pihak sebagai “Pahlawan” bangsa. Karena, dengan kondisi fisiknya yang amat lemah, Soedirman tetap memimpin tentara Republik melawan penjajah. Kedaulatan negara jadi perhatian utamanya. Demikian [...]
Fitrah Kepemimpinan
Krisis ekonomi global ikut mempengaruhi kondisi domestik Indonesia dan menguji karakter sejumlah tokoh yang menduduki posisi formal. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono paling sering tampil di hadapan publik, menegaskan bahwa krisis yang terjadi hanya menyangkut sektor finansial, bukan bidang ekonomi secara keseluruhan. Tampilan SBY super serius, mencoba menenangkan publik, sambil menetapkan paket kebijakan pemerintah untuk mencegah [...]
Spiritualitas Pemimpin
Ramadhan tahun ini kita jalani dengan berbagai peristiwa suka dan duka. Salah satu insiden paling menyentuh perasaan adalah korban antri zakat di Pasuruan (15/9). Ribuan orang berdatangan dari pelosok desa hanya untuk mendapat uang santunan senilai Rp 10 – 30 ribu. Uang tak bisa diperoleh, malah nyawa 21 orang warga melayang dengan kondisi amat menyedihkan.
Kita [...]
Menjadi Bangsa (Benar-benar) Merdeka
Setiap bulan Agustus kita sebagai bangsa diingatkan kembali akan arti penting kemerdekaan. Pada bulan-bulan dan hari-hari lain, ingatan itu kadang melemah dan mengabur. Kesibukan kita sebagai warga bangsa dengan berbagai posisi dan profesi seringkali menuntut kompromi dalam berinteraksi dengan bangsa lain. Saudara-saudara sebangsa yang berjuang sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di mancanegara acap mengorbankan kebebasan [...]


























