Print This Post

Ilham Munandar: Pahlawan Lingkungan Masa Depan

Sekiranya boleh bermimpi, kita harus mendengar cucu kita suatu hari berkata bahwa, prinsip ekonomi adalah memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya, dengan memperhatikan keseimbangan alam dan pelestarian hutan di sekeliling kita untuk menjaga kelangsungan kehidupan yang baik bagi umat manusia”

Sebagai bangsa besar, kita seharusnya merasa malu ketika mengecek track record kolektif di bidang perusakan hutan. Sudah nyaring terdengar di dunia internasional, bagaimana kita memperlakukan hutan seolah-olah komoditas perdagangan tanpa memperhitungkan posisi penting hutan sebagai penjaga keseimbangan air tanah, iklim dan paru-paru dunia. Data yang diperoleh dari World Research Institute, 72% hutan asli Indonesia telah hilang, berarti hutan kita yang ada tersisa tinggal 28%. Sedangkan data dari Departemen Kehutanan RI sendiri menunjukkan bahwa 25% hutan di Indonesia telah rusak parah. Laju kerusakan hutan yang dianalogikan mencapai 3oo kali lapangan sepakbola adalah angka absolut yang tidak dapat kita elakkan, menampakkan dengan jelas perilaku barbarian sebagian kecil kita dalam mengelola hutan.

Perilaku itu tentu saja merupakan preseden buruk bagi bangsa ini. Kita dituduh tidak mampu melestarikan warisan dunia berupa anugerah Tuhan melalui luasnya hutan tropis dan keanekaragaman hayati yang kita miliki. Dikatakan warisan dunia karena Indonesia termasuk salah satu dari 44 negara yang memiliki cakupan 90% wilayah hutan dunia. Hal ini tentu saja membuat kerusakan hutan yang ada di Indonesia tidak hanya memberikan efek lokal, misalnya tingginya tingkat pencemaran udara kita yang ditengarai akibat kerusakan hutan, tapi juga efek global seperti kenaikan suhu bumi.

Fakta itu seharusnya tidak sekedar membuat kita malu atau terhenyak, tapi juga membuat kita berpikir bagaimana upaya penyelamatan hutan yang bernilai strategis harus segera dilakukan. Perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia terlihat cukup menggembirakan. Isu internasional berupa global warming cukup menasional, hingga terungkapnya berbagai kasus illegal logging adalah sebuah contoh kecil mulai meruyaknya kesadaran masyarakat bahwa isu lingkungan bukanlah sekedar isu elitis, tapi isu yang menyentuh kepentingan seluruh lapisan masyarakat, karena kita hidup di bumi yang sama. Contoh kasus yang menarik adalah sekelompok masyarakat di Sumatera mengejar para pelaku pembalakan liar karena ketakutan akan banjir bandang akibat penggundulan hutan resapan air tersebut.

Tidak dapat dipungkiri, kerusakan hutan yang saat ini terjadi tidak terlepas dari eksploitasi hutan dalam kerangka industrialisasi. Data yang ada menunjukkan total hutan Indonesia mencapai 120,35 juta hektare dari wilayah seluas 1.919.440 kilometer persegi. Namun saat ini, Indonesia juga menjadi negara penghasil kayu utama dunia dalam bentuk kayu lapis, kayu gergajian, kayu pertukangan, furnitur, hingga produk bubur kertas. Tujuan ekspor utama yaitu Malaysia, Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, negara Eropa, dan Amerika. Fakta yang diungkap oleh sebuah program investigasi di televise swasta menunjukkan bagaimana negara tetangga kita menjadi penadah bagi kayu hasil illegal logging di Kalimantan untuk diolah menjadi komoditas ekspor. Sebuah ironi terjadi akibat tingginya tuntutan kebutuhan ekonomi, ketiadaan lapangan kerja dan peluang mendapatkan uang mudah melalui eksploitasi sumber daya alam dengan cara tidak bertanggungjawab.

Industrialisasi yang menafikkan aspek kearifan alam ini tentu sangat mengancam kelangsungan sumber daya hutani kita. Usaha penyelamatan hutan tentunya lebih dari sekedar kerja keras, tapi juga kerja cerdas, bernilai strategis dan tidak hanya sekedar reaktif-antisipatif. Melihat pola rusaknya hutan yang linear dengan geliat industrialisasi ini, selain menyiapkan seperangkat aturan hukum dan mempertegas kebijakan penggunaan hutan untuk mencegah kerusakan, maka menyemai generasi muda yang dapat menjadi pemutus mata rantai kebrutalan kita dalam merusak hutan menjadi hal yang niscaya.

Menyiapkan generasi muda menjadi hal penting dalam perubahan perilaku dan mempersiapkan pergantian generasi, karena masalah degradasi dan deforestasi hutan tidak hanya menyangkut kepentingan generasi kini, tapi juga kepentingan generasi mendatang. Faktor pendidikan generasi muda dapat menjadi titik tolak perubahan perilaku kita. Salah satu hal yang patut kita soroti adalah upaya mendidik tentang kearifan alam dan upaya ekonomi yang kita lakukan. Ketika masa-masa awal SMP, misalnya, banyak dari kita tentu mengingat, bagaimana diajari bahwa prinsip ekonomi dengan modal sekecil-kecilnya, kita mampu mempeoleh keuntungan sebesar-besarnya. Bila kita refleksikan dengan banyaknya masalah yang sudah disebutkan sebelumnya, cara berpikir seperti ini tentu mengandung banyak kecacatan dan potensi bahaya pemikiran yang ditanamkan kepada kaum muda. Pemahaman ini tentu minus tentang nilai-nilai sosial, penghormatan kepada sesama, kearifan dalam memenuhi kebutuhan hidup atau mencapai kesuksesan pribadi.

Melahirkan generasi baru yang sadar lingkungan berarti mengubah semua persepsi di atas. Sejak dini, anak-anak harus mulai dikenalkan pada nilai-nilai etis universal, sehingga mereka mampu mengembangkan standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Ketika menghadapi dilema antar kepentingan kemanusiaan dan kepentingan pribadi, mereka mampu mengedepankan kepentingan kemanusiaan, meski dengan resiko mempertaruhkan kepentingan pribadi yang ada.

Hal yang terlihat sederhana, tapi mengandung implikasi besar pada kepribadian seseorang. Seperti disebutkan dalam teori psikoanalisa modern, disebutkan tahap perkembangan pada masa anak-anak dan remaja (tahun-tahun awal kehidupan) yang cuma terjadi beberapa saat inilah yang sangat menentukan pembentukan kepribadian seseorang. Bila dalam tahap pendidikan yang kita jalani gagal menanamkan nilai-nilai tertentu, maka kegagalan ini sebagian besar akan terus menyertai kehidupan kita di masa-masa selanjutnya. Dengan kata lain, upaya pembentukan karakter ini mau tidak mau harus dilakukan sejak dini. Ibarat kata pepatah, belajar di masa muda bagai memahat di atas batu, belajar di masa tua hanya seperti mengukir di atas air.

Melihat kasus-kasus kerusakan hutan yang ada di Indonesia, baik yang terjadi secara ilegal maupun legal, mungkin dapat ditarik kesimpulan, bahwa hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran lingkungan dan ketidakpedulian para pelaku usaha terhadap hak-hak universal penduduk bumi yang lain. Hak untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan tidak terperangkap dalam jebakan pemanasan global pada akhirnya lebih penting dari menggerus triliunan rupiah dari hutan itu sendiri. Data yang dirilis Indonesia Corruption Watch menunjukkan bahwa 43% pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) dan Hutan tanaman Industri (HTI) tidak memenuhi kerangka hukum bisnis kehutanan lestari.

Sementara data yang dimiliki Greenomics mengenai modus operandi korupsi yang dilakukan perusahaan HPH dan HTI, ditemukan sedikitnya ada 44 modus operandi. Modus tersebut di antaranya dengan menata areal kerja yang dilakukan secara sepihak di atas kertas, tidak melakukan kapitalisasi yang ditanamkan kembali ke dalam bentuk tegakan hutan. Selain itu, para pengusaha HPH dan HTI juga tidak melakukan kegiatan penanaman hutan kembali. Semua fakta itu kembali pada satu tema besar, yaitu bagaimana para pengusaha ini memandang hutan dengan melupakan aspek pengelolaan lingkungan bagi masa depan umat manusia.

Pendidikan yang kita lakukan harus mengajarkan kepada anak-anak pewaris masa depan, bagaimana memandang sesuatu tidak dalam sudut pandang yang sempit, tapi memandang masalah dengan mempertimbangkan banyak dimensi lain. Pun dengan hutan dan kekayaan yang ada di dalamnya, bagaimana ketika melakukan upaya ekonomi, juga harus memandang arti penting hutan dalam menjamin berlangsungnya kehidupan yang berkualitas. Pendidikan yang harus lebih dari sekedar hafalan, tapi juga teladan dan internalisasi nilai beserta penyadaran, betapa pentingnya posisi pelestarian hutan dan lingkungan hidup bagi mereka, dan bagi masa depan mereka.

Kita perlu mencetak pahlawan jenis baru, pelestari lingkungan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib generasi masa datang.

*) Peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Angkatan 2006.

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS