Print This Post

Goris Mustaqim: Jangan Khianati Idealisme Kita di PPSDMS

Sejak lulus dari Institut Teknologi Bandung tahun 2006 ia belum pernah melamar kerja ke perusahaan manapun. Nuraninya menolak untuk menjadi karyawan. Saat menjabat Sekretaris Jenderal Keluarga Mahasiswa ITB, ia membidani lahirnya program Gerakan Kewirausahaan di kalangan Mahasiswa (Innovative Entrepreneurship Challenge) se-Jawa dan Bali yang bertahan sampai sekarang. “Gerakan ini menjadi semacam ikon kewirausahaan bagi mahasiswa,” ungkap Goris Mustaqim, alumni PPSDMS Regional 2 Bandung, Angkatan I. Inspirasi dari beberapa pengusaha besar yang sering ditemuinya telah memantapkan pilihannya untuk membangun usaha sendiri.

Akhirnya, bersama rekan-rekannya alumni ITB, Goris mendirikan PT Resultan Nusantara pada awal 2007. Perusahaan ini bergerak dalam layanan aplikasi RFID/Smart Card untuk berbagai solusi, antara lain: sistem absensi, akses kontrol, smart parking, payment, dan lain-lain. RFID (Radio Frequency Identification) merupakan teknologi mutakhir, dimana chip yang ditanam dalam tag (kartu) dapat memuat data dikirim melalui gelombang radio untuk kemudian ditangkap reader dan melakukan proses yang diinginkan.

Apa tak sulit memasarkan teknologi yang terbilang baru di Indonesia, sehingga memerlukan edukasi pasar dulu? Goris menjawab, “Ya pasti ada kelebihan dan kekurangannya, namanya juga usaha. Tapi kelak trend di Indonesia akan mengikuti dunia ke arah sana.” Ia tak lelah bekerja keras memasarkannya. Tak terhitung berapa lembar surat penawaran yang disebar, begitu juga brosur dan proposal. Untuk produk presensi, misalnya, upaya roadshow ke sekolah atau kantor yang mungkin tertarik dengan produk itu sudah dijalankan. Hasilnya, beberapa SMK dan SMA di Bandung, Jakarta, dan Garut sudah memakai sistem pencatat kehadiran otomatis itu. Begitu pula dengan aplikasi RFID untuk access control terakhir baru instalasi di Gedung Baramulti berlantai enam di pusat kota Jakarta.

Pemuda kelahiran Garut, 25 tahun lalu itu, menjelaskan: “Teknologi RFID kelak akan berkembang di Indonesia, mulai dari lini industri yang membutuhkannya untuk asset management and logistic, sektor transportasi untuk pembayaran seperti kereta api busway, monorel, serta layanan Electronic Road Pricing (ERP) dan Electronic Toll Collection (ETC) jalan tol.” Selain itu, sekarang sudah mulai muncul gejala Less Cash Society, ketika uang sudah tergantikan fungsinya dengan kartu yang lebih menjanjikan keamanan serta nilai praktis untuk pembayaran.

Bank swasta semisal BCA sudah memulai dengan kartu flazz-nya. Intinya, teknologi ini menawarkan efisiensi, kemudahan, keamanan, serta nilai elegan. Keunggulannya dibandingkan dengan teknologi smart card lain adalah satu kartu RFID bisa digunakan untuk berbagai keperluan atau aplikasi. “Kami juga sedang mengembangkan demo untuk dipasarkan ke Developer High-end, dengan konsep satu kartu untuk penghuni kompleks atau apartemen yang bisa digunakan sekaligus untuk akses parkir, membuka pintu, private lift, dan pencatat kehadiran,” ujar Goris penuh semangat.

Goris tercenung ketika ditanya: apa hubungan antara pilihan menjadi wirausaha dan misi PPSDMS? Alumni yang sempat menjadi Jajaka I Bandung 2003 dan wakil remaja Indonesia di Mc’Donalds Olympic International Youth Camp saat Olimpiade Sydney 2000 ini menjawab spontan, “Anies Baswedan pernah menyampaikan pola sirkulasi elite di Indonesia yang sejalan dengan pemikiran saya, yakni masa depan akan dikuasai para entrepreneur muda yang bisa membuat nilai tambah”. Karena tempaan keadaan membuat kaum wirausahawan memiliki karakteristik unggul, seperti keberanian mengambil resiko, kecermatan dalam memutuskan, daya inovasi, berpikir jangka panjang, mengatasi keterbatasan, membina hubungan baik dengan orang lain, serta tentunya kesabaran. Seorang wirausahawan bila sukses tentu memiliki kemandirian, baik dalam berpikir, bertindak, dan dalam hal finansial.

Berbisnis di usia muda dengan modal keahlian memang lebih banyak dukanya, mulai menderita rugi karena komplain klien, hingga pernah kesulitan mendapat proyek dan dimarahi klien karena telat. Selain itu, tidak bisa menikmati langsung keuntungan karena disetor ke kas perusahaan.”Sukanya, ya ada keleluasaan, kepuasan jika bisa memberi pekerjaan kepada orang lain,” cetus Goris. Semua itu disadari merupakan bagian dari ujian yang harus dilewati akibat minim pengalaman wirausaha. Sebagai mahasiswa, ia suntuk belajar teknik dan buta mengenai pengelolaan usaha, keuangan, pemasaran, dan tetek-bengek pajak segala. Ia mengaku dibantu alumni ITB yang tergolong pengusaha besar di negeri ini sebagai investor, mentor, sekaligus membuka akses.

Kini Goris sehari-hari berkantor di Surapati Core, Bandung dan sepekan sekali pergi ke kantor di Jakarta. Tiap akhir pekan ia usahakan pulang ke kampung halamannya di Garut. Soalnya, ia kini didapuk sebagai Ketua Umum ASGAR MUDA, paguyuban yang menghimpun para pemuda asal Garut, baik mahasiswa maupun alumni perguruan tinggi di seluruh kota sampai luar negeri yang memiliki idealisme membangun Garut. “Kami bercita-cita membuat jilid baru gerakan pemuda, yang lebih memfokuskan diri kepada kekaryaan,” tegas Goris. Diam-diam ia ingin menyebarkan virus idealisme PPSDMS, mengajak generasi muda menjadi pemimpin perubahan yang hidup di tengah masyarakatnya.

Goris yakin masa depan ada di daerah dan jenjang kepemimpinan nasional yang akan semakin baik. “Pemimpin masa depan Indonesia memiliki jenjang yang lebih baik, tidak lagi gerontokrasi, tapi berbasis meritokrasi. Siapa saja yang memiliki kompetensi, mengetahui permasalahan lokal mendasar, membuat solusinya, serta memiki karya nyata di masyarakat dan membangun social foundation yang kuat sejak sekarang, maka kelak akan menjadi pemimpin,” ia menjabarkan visi pribadinya. Bagi Goris, Indonesia mirip dengan Amerika, setiap Walikota yang bagus berpeluang menjadi Gubernur, tiap Gubernur yang keren dan berprestasi akan maju jadi Presiden atau Menteri. Tidak mendadak jadi pejabat tinggi dan kaya raya seperti sekarang.

Untuk itu, ASGAR MUDA memfokuskan diri pada pengembangan potensi daerah dan pendidikan setempat. Dalam waktu setahun, dengan karya-karya yang mereka rintis dan perjuangkan, mereka sudah dipercaya korporasi dalam penyaluran CSR, bekerjasama dengan Pemerintah Kota Garut, Pemerintan Provinsi Jawa Barat, serta Pemerintah pusat. Goris berharap para alumni PPSDMS, di manapun berada dan apapun profesinya, tetap memegang teguh nilai-nilai idealisme PPSDMS. Jangan sampai melacurkan diri, apalagi berbuat kemaksiatan dan penyimpangan yang menghinakan diri sendiri. Tak ada tempat bagi anak-anak muda cengeng yang hanya tunduk pada hawa nafsu dan ambisi pribadi!

“Mungkin kita belum bisa memberikan apa-apa untuk bangsa dan masyarakat kita, juga kepada PPSDMS. Tapi, kita berjanji dan berjuang tidak akan mengkhianati harapan serta idealisme kita,” Goris menandaskan. Pembinaan watak selama dua tahun di PPSDMS tidak boleh pupus.

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

4 Responses to “Goris Mustaqim: Jangan Khianati Idealisme Kita di PPSDMS”

  1. firman says:

    Ada link bagus

    http://images.businessweek.com/ss/09/09/0911_asias_best_young_entrepreneurs/12.htm

    terkait nominasi goris mustaqim sebagai asia’s best young entrepreneur 2009

    salut buat beliau

  2. Amim says:

    Indonesia sebuah negara yang memerlukan enterpreneur lebih banyak lagi, agar kita bisa mandiri di negara sendiri

  3. Ilma says:

    Bangga sama Goris :)

    btw, meritokratis? Sama dong dengan ITB Student Orchestra… Ilma duluan yang pake sistem ini weeeee, Ilma taun 2005!! Hahaha…..

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS