Print This Post

Generasi Kepemimpinan Baru

 

Krisis kemanusiaan terjadi di depan mata dunia. Serangan brutal Zionis Israel selama 22 hari telah merenggut nyawa sedikitnya 1310 warga sipil di Jalur Gaza, sekitar 417 korban tewas adalah anak-anak, 108 waniita, 120 kakek dan nenek, 14 tim medis, empat wartawan dan lima warga asing. Sementara warga yang terluka parah sekitar 5450 orang. Begitulah catatan Dokter Muawiyah Hasanain, Ketua Unit Gawat Darurat di Departemen Kesehatan Palestina.

Sementara itu, Lembaga Perlindungan HAM Palestina merekam sedikitnya 67 sekolah hancur, 36 di antaranya milik Badan Bantuan Internasional untuk Palestina (UNRWA). Tanpa mengindahkan hukum internasional, tentara Zionis Israel juga menghancurkan 20 ribu bangunan tempat tinggal, 1.500 fasilitas komersial, 51 bangunan pemerintahan, 20 masjid, dan merusak jalan-jalan penghubung sepanjang 50 kilometer. Berdasarkan perkiraan awal, nilai kerusakan yang diderita warga Gaza sedikitnya US$ 1 milyar, tidak termasuk kerugian immaterial yang tak terhitung.

Tragedi besar di awal abad 21 itu memperlihatkan kualitas para pemimpin dunia saat ini. Pusat perhatian tentu saja tertuju kepada Barack Husein Obama, yang baru saja terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Amerika adalah penyokong utama Negara Israel sejak berdiri tahun 1948 di atas tumpahan darah rakyat Palestina di kampung Deir Yassin. Waktu itu Presiden AS adalah Harry Truman. Obama kini harus menyaksikan langsung kebiadaban Zionis di depan matanya, hanya dua hari setelah peringatan Natal (27 Desember 2008) hingga berhenti dua hari sebelum pelantikannya sebagai Presiden (18 Januari 2009). Itu benar-benar “hadiah” pelantikan yang sangat menjijikkan.

Apa yang dilakukan Obama? Ia tidak mengambil sikap apapun, kecuali menyatakan kesedihan akan jatuhnya korban sipil, tapi masih sempat menyalahkan Hamas yang melontarkan roket ke wilayah Israel bagian selatan. Padahal, dia tahu Zionis Israel yang pertama kali melanggar gencatan senjata karena pada 4 November 2008, persis di hari pemilu AS, menyerang Jalur Gaza dan menewaskan 6 orang warga. Roket Qassam diluncurkan Hamas sebagai respon atas serangan itu, tapi malah dibalas agresi hitam di akhir tahun. Obama diam dengan alasan hanya ada satu Presiden AS, dan sebelum pelantikan tetaplah George W. Bush yang berkuasa. Rentang waktu tiga bulan antara pemilu AS (November) dan pelantikan Presiden (Januari) sering disebut masa vakum, tatkala Presiden AS berposisi layaknya bebek lumpuh (lame duck).

Para pemimpin dunia harus mengecek kembali hati nurani mereka, apabila dibenturkan dengan kondisi krisis kemanusiaan dan prosedur konstitusi. Apabila tragedi serupa terjadi di Mesir atau Korea Selatan yang merupakan sekutu loyal AS, maka pasti satu-satunya Negara adidaya itu tak akan tinggal diam. Kebungkaman dunia atas tragedi Palestina bukan pertama kali. Sikap diam pemimpin Negara-negara Barat juga terlihat dalam tragedi Bosnia (1992) dan Kosovo (1999). Paling menyedihkan, sikap ragu juga tampak dari penampilan Kepala Pemerintahan Otonomi Palestina Mahmoud Abbas dan para pemimpin Dunia Arab, kecuali Presiden Suriah dan beberapa Negara kecil. Para pemimpin negara Arab mestinya malu dengan sikap Hugo Chavez dari Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia yang mengecam keras Israel dan mengusir duta besarnya. Padahal, Chavez dan Morales berasal dari negeri yang jauh dari segi geografi maupun ideologi dengan Palestina.

Dunia kini benar-benar menghajatkan generasi baru kepemimpinan yang berkarakter, agar keadilan bisa ditegakkan dan kedamaian sungguh terwujud. Bukan hanya mereka yang memiliki fisik kuat dan otak cerdas, namun juga mereka yang bernyali tinggi dan bernurani jernih. Sebagaimana rumusan David L. Dotlich, Peter C. Cairo dan Stephen H. Rhinesmith dalam bukunya “Head, Heart and Gut” yang kami pelajari di PPSDMS. Kami menyaksikan segala peristiwa nasional dan internasional, mendiskusikannya dan menarik pelajaran berharga darinya. Agar jejak hitam para pemimpin dunia terdahulu dapat diputihkan dengan inisiatif kemanusiaan, hingga Palestina dan negara-negara terjajah lainnya dapat segera dibebaskan.

Jakarta, Januari 2009

Salam Redaksi

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS