Print This Post

Fitrah Kepemimpinan

Krisis ekonomi global ikut mempengaruhi kondisi domestik Indonesia dan menguji karakter sejumlah tokoh yang menduduki posisi formal. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono paling sering tampil di hadapan publik, menegaskan bahwa krisis yang terjadi hanya menyangkut sektor finansial, bukan bidang ekonomi secara keseluruhan. Tampilan SBY super serius, mencoba menenangkan publik, sambil menetapkan paket kebijakan pemerintah untuk mencegah agar krisis tidak menjalar ke segenap sektor kehidupan masyarakat. Pemerintah mengutamakan proteksi rakyat kecil, memastikan sektor riil terus bergerak, dan meminimalkan dampak gejolak pasar saham dan fiskal yang terkoneksi dengan pasar global.

Berbeda dengan tampilan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang lebih santai. Ia mengkalkulasi dampak krisis global terhadap perekonomian nasional secara umum, yang diprediksinya “hanya” menurunkan pertumbuhan sekitar 0,1%. Alasannya, tidak ada instansi pemerintah maupun swasta yang menanam dananya di lembaga keuangan AS yang bertumbangan. Bahkan, krisis keuangan di AS, menurut Wapres, malah memberi dampak positif seperti penurunan harga minyak goreng di dalam negeri dan subsidi BBM yang menyusut.

Tokoh lain yang muncul adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang baru saja terpilih sebagai ‘Finance Minister of The Year 2008 for Asia’. Ia menguraikan perubahan asumsi RAPBN 2009 yang harus dilakukan untuk merespon kondisi krisis, antara lain: angka pertumbuhan turun dari 6,3% menjadi 5,5% hingga 6,1%; nilai tukar rupiah dari Rp 9.150 per dolar AS menjadi Rp 9.500 per dolar AS; inflasi dari 6,2% menjadi 7%; Suku Bunga BI untuk tiga bulan dari 8% menjadi 8,5%, dan Indonesia Crude Price dari US$ 95 per barel menjadi US$ 85 per barel. Menkeu tetap menghadiri dan memimpin rapat teknis, walaupun mendapat kabar kepergian Ibundanya di kota Semarang.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu turut berperan mengamankan pasar dalam negeri dari serbuan barang impor sebagai dampak krisis finansial. Untuk itu, pemerintah membentuk Task Force bidang pengawasan barang terdiri dari Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, BPOM, Polri dan lain-lain. Mendag merinci diversifikasi ekspor, tak hanya ke Eropa dan AS, melainkan juga ke Jepang, China, India dan negara lain. Bahkan, kini Indonesia mengincar pasar Amerika Latin dan Afrika. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom, adalah tokoh berikutnya melontarkan kebijakan pelonggaran moneter untuk mengatasi ketidakpastian dan krisis likuiditas global. Menurutnya, pemerintah, BI dan Presiden semuanya harus bekerja 24 jam agar krisis terpantau dan dampaknya bisa ditekan.

Itulah contoh realitas kepemimpinan nasional di masa krisis, ketika setiap tokoh memperlihatkan watak aslinya (fitrah) dari segi kematangan jiwa, kemampuan analisis, dan kompetensi teknis untuk menyelesaikan masalah. Situasi krisis membuat setiap tokoh menanggalkan topeng di balik jabatan dan otoritas formal. Dalam adagium kuno, seorang pemimpin sering dijuluki Primus inter pares (the first among equals), orang yang terbaik di antara komunitasnya yang setara. Mereka yang memiliki keunggulan dari aspek fisikal, intelektual, emosional dan spiritual layak untuk mengarahkan warga menuju cita-cita yang disepakati bersama.

Kriteria kepemimpinan berkembang sesuai dengan tantangan zaman, dan lokasi serta bidang perjuangannya. Seorang pemimpin mungkin bukan orang yang terkuat secara fisik, tapi dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk melindungi kelompok yang paling lemah. Seorang pemimpin tidak selalu orang yang paling kaya di antara masyarakatnya, tapi dia akan membelanjakan dan mewakafkan aset yang dimilikinya, serta mengelola segenap aset publik untuk mencukupi kebutuhan dasar warganya. Tatkala dilantik sebagai komandan perang, Thalut, seorang pemuda kampung sederhana dari kalangan Bani Israil, dibekali dengan keunggulan intelektual dan jasmani. Ketika Daud mengambil-alih tongkat estafeta kepemimpinan Thalut, ia dibekali kekuatan dan kecerdasan tingkat tinggi. Manakala Sulaiman mewarisi Kerajaan Daud, maka ia dianugerahi kekayaan, kelimpahan sumberdaya, dan kerendahan hati. Itulah fitrah kepemimpinan sejati.

Kami di PPSDMS merenungkan dan mendiskusikan dinamika kepemimpinan di sekitar kita secara rutin dan berkesinambungan, sambil menakar sejauhmana kapasitas pribadi dapat ditingkatkan. Interaksi dengan narasumber dan komunitas di sekitar asrama dan kampus membuat kami selalu merasa berkekurangan. Masih banyak bekal yang harus kami kumpulkan, karena perjalanan yang akan kami tempuh juga masih sangat panjang.

Jakarta, Oktober 2008

Salam Redaksi

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS