Memerdekakan Diri Guna Mencapai Indonesia yang Lebih Baik
Apa yang membuat masyarakat bangga pada negerinya? Lantas apa pula yang membuat masyarakat merasa malu menjadi bagian dari bangsanya? Pertanyaan sederhana, yang bisa saja dijawab dengan spontan. Namun untuk menelisik lebih jauh, seserius apa pertanyaan ini dan juga seberapa serius jawabannya, saya piker kita perlu untuk sejenak melihat hasil survei yang pernah dilakukan sebuah media (Kompas, Agustus 2006)
Ternyata, 29% masyarakat negeri ini merasa bangga menjadi orang Indonesia, karena Indonesia memiliki keanekaragaman etnik dan budaya, sementara 27% menyatakan bangga menjadi anak negeri karena negeri ini mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Sisanya, kebanggaan atas negeri ini ditunjukkan dengan persentase yang lebih kecil lagi.
Sekarang kita lihat, apa yang menjadikan rakyat ini malu pada negerinya? Jawabannya: 49% masyarakat negeri ini menyatakan bahwa mereka malu menjadi bagian dari bangsa ini karena negeri ini dipenuhi oleh KORUPSI! Luar biasa! Korupsi tidak hanya menjadikan keluarga pelaku dan si pelaku malu —itupun kalau mereka masih punya malu!— melainkan telah menjadikan hampir mayoritas rakyat negeri ini merasa malu menjadi warga Indonesia. Ditambah lagi dengan banyaknya masalah di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan semakin membuat masyarakat negeri ini kehilangan kebanggaan kepada negerinya. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kondisi bangsa ini memang begitu buruk dan menyedihkan, sehingga rakyat merasa malu terhadap bangsanya? Jika memang begitu, lantas apa yang harus dan bisa kita lakukan agar bangsa ini berada dalam kondisi yang lebih baik? Lebih luas dari itu adalah: faktor apa yang harus mendapat perhatian besar dari kita dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa ini? Jawabannya adalah faktor Kepemimpinan!
Kepemimpinan yang baik akan terbentuk dari upaya kita dan para pemimpin kita untuk memerdekakan dirinya. Kok bisa? Bisa. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kondisi bangsa ini sedang terpuruk. Korupsi, kemiskinan, ketidaktegasan pemerintah dan aparat hukum dalam mengusut dan menghukum para kriminal, serta permasalahan birokrasi di negeri ini merupakan gambaran bahwa negeri ini sedang “sakit”. Kondisi ini terjadi, sangat mungkin disebabkan oleh adanya krisis kepemimpinan.
Para pemimpin kita dengan segala kekuasaannya selama ini ternyata belum bisa mengatasi permasalahan tersebut, bahkan mungkin malah menambah permasalahan. Lantas, apakah ini semua merupakan kesalahan dari para pemimpin kita? Bisa jadi ya, namun sayangnya, bisa juga tidak. Karena dengan mekanisme pemilihan umum yang diterapkan di negeri ini, dimana pemimpin dipilih secara langsung oleh rakyatnya. Maka ketika kualitas pemimpin yang ada ternyata buruk, rakyat negeri ini sebenarnya ikut bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi. Karena rakyatlah yang telah memilih pemimpin seperti ini.
Ada istilah menarik dalam politik Islam, “Seperti apa kualitas Anda, maka seperti itulah kualitas pemimpin Anda.” Artinya, jika kita bermental korupsi, maka kita akan memilih pemimpin yang bermental korupsi dan tidak tegas dalam memberantas korupsi. Jika kita menginginkan perubahan yang konsisten untuk jadi lebih baik, maka seharusnya kita juga memilih pemimpin yang berorientasi ke arah itu.
Karena sekarang kitalah yang menentukan siapa pemimpin kita. Jika kita salah dalam memilih pemimpin, maka kita pun menjadi pihak yang bertanggungjawab, apabila kualitas dan kinerja pemimpin yang kita pilih tersebut buruk.
Untuk dapat menentukan dan memilih pemimpin yang baik dan ideal, maka saat ini kita harus berani untuk memilih para calon pemimpin dari kalangan muda, pemimpin-pemimpin baru bagi masa depan yang lebih inovatif. Mengapa pemimpin muda? Sederhana, karena para pemimpin muda lebih cenderung netral, bersih dan tidak punya beban kesalahan masa lalu. Maka, dengan demikian calon pemimpin ke depan pun harus memerdekaan dirinya dari kepentingan-kepentingan sesaat. Sementara kita pun harus berani untuk memilih pemimpin baru. Memberikan kesempatan kepada bagian lain dari anak negeri ini untuk memelopori peradaban bangsa dan melakukan perbaikan untuk negeri ini. Kita harus mencobanya, karena sudah terlalu sering kita jatuh ke lubang kesalahan yang sama, saat kita memilih pemimpin- pemimpin kita terdahulu.


























