Print This Post

Catatan Perjalanan: Sekolah Manajemen Asrama Tingkat Lanjut (SMA-TL) Yogyakarta, 25-28 Maret 2009

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-noshow:yes; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-style-noshow:yes; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:IN;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Hasrat dan keasyikan memenuhi relung perasaan ini tatkala mengetahui Sekolah Manajemen Asrama Tingkat Lanjut (SMA-TL) akan diadakan di Yogyakarta. Penantian waktu demi waktu menciptakan fantasi dan imaji akan Yogyakarta. Ingatanku akan musisi jalanan dan sajian khas berselera membuatku kembali kepada tahun-tahun dahulu ketika aku bertandang ke kota budaya ini.

Sampailah pada waktu yang dinantikan, saya, Bang Adji (Asman Program), dan Reza (Manajer Asrama Regional 1 Yogyakarta) berangkat di tengah malam pekat yang dingin menggunakan Avanza milik Reza yang dikemudikannya sendiri. Melewati jalur Utara, kami melenggang dengan cepat. Memasuki tol Cikampek hingga menelusuri Pantura menuju Cirebon merupakan perjalanan panjang kami di malam hari. Diselingi obrolan singkat mengenai permasalahan bangsa, rasa kantuk kami menghilang ditelan senda-gurau serta canda-tawa yang mengasyikkan. Mario Teguh, motivator yang sedang naik daun di televisi swasta, menjadi obrolan ringan yang membuat kami terbahak-bahak.

Di subuh hari, adzan membangunkan kami dari mimpi singkat kami. Air wudhu yang dingin membasuh muka kami memberikan kesegaran yang menciptakan semangat dan harapan baru agar hari ini menjadi jauh lebih bermakna. Di pagi hari, soto khas Brebes mengisi rongga perut kami yang sudah berteriak kencang menuntut haknya.

Pukul 13.00, alhamdulillah kami berhasil mencapai Asrama Yogyakarta dengan selamat. Saya lebih memilih melanjutkan tidur karena tubuh sudah meronta untuk dibaringkan. Sore hari, seseorang membangunkanku. Alhamdulillah, Tri Aji, Manajer PPSDMS Bandung, sudah sampai. Tak selang beberapa waktu, Dani, “kuncen” Asrama Surabaya memasuki kamar dan langsung menyapaku. Namun, bagaimana dengan Bang Fachri, Manajer Asrama Bogor? Kemana beliau? Kemudian aku baru mengetahui bahwa ada delay terhadap pesawat yang ia naiki. Aku pun menghela napas. Yah, inilah realitas dunia penerbangan kita. Perang tarif menciptakan inefektifitas dan insekuritas. Kerakusan kapitalisme ditambah dengan bobroknya moral membuat hak-hak konsumen tidak lagi dihargai. Atas nama keuntungan, apapun bisa dilakukan.

Lalu, mulailah momen itu. Kami, tim bidang program sudah lengkap seluruhnya. Dua tuan rumah kami sudah menyambut kami di restoran berpenerangan redup ini. Warung Jogja namanya. Gelak tawa dan senda gurau mewarnai pembukaan yang dilakukan-sebagaimana yang didefinisikan Sdr. Reza- formal tapi serius.

Perutku sudah kenyang, sel-sel abu-abu yang ada di otakku sudah mulai tumpul, kelenjar pankreas sudah mulai menyemprotkan cairan-cairan ke dalam lambung, lambung pun tampaknya mulai paham bahwa malam ini merupakan tugas berat bagi dirinya dan rekan-rekannya untuk mencerna segala sea food yang sudah kumakan. Aku sendiri mulai dihinggapi rasa kantuk.

Sesi pertama pun dimulai dimana Bang Arief dan Bang Adji sebagai representasi pusat (saya sendiri masih belum mampu mendefinisikan apa itu pusat dan apa itu regional karena Regional 1 layaknya Charon dengan Plato di mana yang satu tidak dapat didefinisikan sebagai satelit bagi yang lainnya atau layaknya binary star system seperti Sirius, and Cygnus X-1) mempresentasikan kinerja masing-masing Manajer Asrama selama semester satu periode pembinaan. Sebuah uraian panjang lebar dari Bang Adji membuat pori-pori kulit ini memuntahkan begitu banyak cairan peluh keringat. Jam sudah menunjukkan pukul 23.20. Otak pun sudah mulai tidak fokus lagi. Secara lahiriah aku belum tidur namun secara batiniyah, aku sudah terlelap.

Hari Kedua, kami semua mempresentasikan hasil kerja kami selama satu semester penuh. Ada kritik, ada saran, namun tidak ada cemooh. Hari kedua memberikanku kesan negatif terhadap Yogyakarta. Tentu ini sebuah pars pro toto. Ruangan tempat kami melakukan kegiatan adalah sebuah sauna yang dilengkapi dengan LCD dan enam laptop. Padahal hari kedua kami dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan: dua porsi opor ayam yang menurut lidah minangku sangatlah manis serta Apel Pagi yang membuatku sport jantung karena aku tidak membawa Jaket PPSDMS-ku yang hilang entah kemana.

Hingga pukul 14.00 WIB, kami masih berada dalam ruangan sumuk ini. Sekarang giliran Reza Ikhwan yang melakukan presentasi, setelah sebelumnya Aji dan Aku sendiri. Dari pembicaraan Reza ada satu hal yang menjadi bagian terpenting yang kubawa sebagai oleh-oleh ke regional 1 Jakarta yakni rasa keadilan. Reza menggugat keadilan dalam menghitung absensi peserta dalam mengikuti kegiatan. Gema keadilan pun kukumandangkan di Regional 1 Jakarta, tentunya dengan konsekuensi semakin banyaknya peserta yang tercatat tidak hadir dalam mengikuti kegiatan.

Matahari pun mulai lelah. Cahaya mulai bersembunyi dibalik gelap. Tak terasa, sesi terakhir sharing selesai dengan selesainya presentasi dari Bang Fachri. Ada yang berbeda dalam presentasi Bang Fachri yakni moderatornya. Setelah seharian, kami ditemani Angga sebagai moderator, malam ini kami ditemani Andre Javs lengkap dengan “cengar-cengir” khasnya. Tatkala Andre menutup forum dengan resmi, lima detik pikiranku kosong sebelum ada pikiran yang hinggap dikesadaranku…. Aha, saatnya untuk angkringan.

Imajiku kembali lagi tertambat di sebuah lagu yang selalu menambahkan rasa hangat di hatiku. Dipersimpangan langkahku terhenti. Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila. Tepat sekali penggambaran Katon mengenai apa yang sedang kami lakukan. Inilah angkringan.

Untuk beberapa saat, aku merasakan berat badanku sudah naik 5 ons. Gudeg basah ini begitu gurih namun tetap saja manis. Inilah Yogyakarta di mana malam hari masih banyak manusia yang berseliweran hanya untuk berbicara sambil makan. Anehnya tidak banyak ditemukan orang Yogya yang mengalami obesitas.

Petualangan dilanjutkan dengan bermain Futsal. Lapangan dengan rumput sintetik. Alangkah nikmatnya bisa bermain Futsal dengan lapangan seperti ini dan tentu dengan harga yang semurah di sini. Sekali lagi, tim bidang program menang dengan skor 6-5 meski harus kehilangan playmaker handal Adji Messi yang kakinya keram akibat terlalu banyak memakan gudeg. Permainan penuh dengan adegan kekerasan. Meski sliding tackle di sana-sini, tempramen tetap dingin. Satu gol kusarangkan, dan semuanya berakhir dengan bahagia. Alhamdulillah permainan selesai karena sebetulnya dari tadi perutku keram.

Pagi hari setelah bintang fajar meninggi, panggilan alam memanggilku. Tak dapat kuelakkan sehingga harus kurelakan untuk tidak makan pagi bersama dengan anggota tim lainnya. Sesi selanjutnya pun dilakukan. Pada sesi kali ini, kami mempresentasikan book review yang sudah kami lakukan. Tentu diawali oleh saya lalu Aji. Setelah sholat Jum’at, book review presentation dilanjutkan oleh Reza Ikhwan. Selepas Ashar, giliran Dani yang berbicara panjang lebar mengenai butir-butir pemikiran Peter Drucker. Lalu diakhiri oleh Bang Fachri dengan sesi kesimpulan. Saatnya kami melakukan studi banding ke sebuah pesantren yang memfokuskan dirinya kepada pembinaan mahasiswa dengan basis entrepreunership dan Ekonomi Islam, Pesantren Mahasiswa Darul Falah.

Sabtu adalah hari terakhir. Ada perasaan rindu pulang namun ada perasaan sedih karena harus meninggalkan Yogyakarta dalam waktu yang singkat. Namun, kami masih menyempatkan diri untuk berfoto ria di depan Menara 2 Milyar di depan kampus UGM yang menurut penilaian estetis saya sangatlah biasa-biasa saja. Selanjutnya untuk kedua kalinya gudeg menjadi penutup hari ketiga kami di Yogyakarta.

Kata feminis, personal is political, maka hari ini personal is magical. Setiap orang menggali hal terdalam yang belum pernah diungkapkan sebelumnya kepada anggota tim lainnya. Setiap orang adalah unik. Setiap orang memiliki sejarahnya masing-masing. Layaknya tabula rasa, manusia dibentuk oleh pengalaman, imaji, cerapan, serta pemahaman dia akan dunia disekelilingnya. Setiap manusia adalah anak dari zamannya. Setiap manusia merupakan produk dari alam sekelilingnya. Pemahaman manusia akan dunia disekelilingnya adalah akumulasi kumpulan pengalaman yang ia rasakan dari awal kesadaran hinggap pikirannya.

Tatkala semuanya sudah selesai, aku lupa bahwa LCD pusat tertinggal….Masya Allah! (mfk)

Oleh Moch. Faisal Karim, Manajer Asrama PPSDMS Regional 1 Jakarta

sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS