Berjuang Mewujudkan Cita-cita Besar
Laksda TNI (Purn) Husein Ibrahim, MBA,
Ketua Dewan Penyantun PPSDMS
Sebelum saya menguraikan sejarah singkat pendirian PPSDMS, saya ingin memperkenalkan ”tokoh-tokoh besar” di balik ”gagasan besar” untuk membina mahasiswa dan generasi muda. Mereka adalah Drs. Musholli yang saya kenal sejak tahun 1990-an sebagai ahli pendidikan yang dekat dengan kalangan muda. Kemudian Arief Surowidjojo, SH, LLM adalah penasehat dan pendukung yang luar biasa, waktunya habis di PPSDMS dan berbagai organisasi lain. Terakhir adalah Drs. Kemal Stamboel, Psi, MSM yang telah melanglang buana, tapi membaktikan dirinya untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Kita berjuang bersama-sama untuk menegakkan cita-cita besar terwujudnya ”the new generation of leadership” (generasi baru kepemimpinan bangsa). Kita juga ingin melahirkan pemimpin masa depan (to create the future leader). Bukan sembarang pemimpin, tapi sosok yang berkarakter islami dalam segenap aspek kepribadiannya (kaaffah). Sosok yang mampu memadukan komitmen syahadat (Laa ilaha illallah) dengan komitmen “Indonesia Raya”. Dengan komitmen itu, kita tidak akan terkotak-kotak dalam berbagai kelompok, tapi menjadi rahmat bagi semesta alam. Dengan komitmen itu pula kita akan membangun kembali bangsa yang besar dan bangkit dari krisis yang sangat mencekam. Di tangan Anda semua, harapan itu akan dapat diwujudkan.
Tanpa terasa telah sekian tahun berlalu sejak ide pendirian PPSDMS digulirkan pada 3 Agustus 2002. Waktu itu kita tidak tahu, bagaimana konsep yang besar itu dapat diwujudkan. Hanya kita yakin bahwa Allah Swt bersama kita dan akan mengabulkan segala niat baik. Sekarang kita menyaksikan 104 orang alumni dan 150 peserta baru yang akan menghuni lima asrama di berbagai kota. Alhamdulillah, kita telah berhasil merekrut sejumlah mahasiswa terbaik dari perguruan tinggi ternama. Semua itu tak pernah terbayangkan sebelumnya, semata-mata hanya karunia dari Allah Ta’ala. Tidak mungkin semua ini kita capai tanpa keyakinan, ikhtiar dan ridha dari Allah.
Saya punya pengalaman sebagai seorang Laksamana, bersama teman-teman ikut membangun SMA Taruna Nusantara. Saya menyaksikan perjuangan di PPSDMS ini lebih hebat dari tempat lainnya. Saya kenal para pendiri PPSDMS ini adalah orang-orang yang memiliki tekad baja dan selalu bersikap hidup sederhana. Itulah yang menyebabkan semua rencana dapat diwujudkan. Bangsa kita telah melakukan kesalahan besar karena suka hidup dalam kemewahan dan sering menyia-nyiakan potensi yang ada. Itu sikap yang keliru. Saya mengenal perjalanan bimbingan belajar Nurul Fikri yang terletak di suatu lokasi yang kumuh dengan bangunan yang bersahaja, tapi semangat para guru dan mentornya sangat tinggi. Semangat itulah yang menyebabkan lembaga ini disegani.
Saya teringat dengan ucapan Presiden Soekarno, proklamator kemerdekaan RI, yang pernah menyatakan “kita harus membangun bangsa ini dengan api Islam yang berkobar, bukan Islam yang sontoloyo”, maksudnya Islam yang menyimpang dari ajaran aslinya. Sepatutnya kita bejalar dari generasi pendahulu tentang kebijakan yang mereka ajarkan, sedang bila ada kekurangan, kita mencoba menghindarinya. Saya ingin menanamkan heroisme, semangat kebangsaan yang positif. Saya ingat masa pembinaan sebagai prajurit, setiap tahun seluruh kadet dari wilayah Indonesia dikumpulkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan (17 Agustus) dan Hari TNI (5 Oktober). Saat itu, kami harus berdiri tegak selama empat jam mendengarkan pidato yang membakar semangat. Saya bukan penganut Soekarnoisme, tapi saya tahu cintainya kepada bangsa tidak diragukan lagi.
Jika Soekarno berpidato, maka semua kegiatan akan berhenti, tukang becak juga akan diam mendengarkan. Mereka terpesona karena Soekarno mengungkapkan cintanya kepada kaum yang lemah. Dalam pikiran Anda sekarang harus ditanamkan cinta kepada kaum dhuafa, dhuafa, dan dhuafa. Dari sanalah hubungan yang positif antara pemimpin dan warganya akan terbangun. Tanpa kecintaan kepada kaum dhuafa, maka semua usaha kita tak ada artinya, malah akan menjadi dosa. Karena kita dibiayai oleh orang-orang yang mau berinfaq dan bershadaqah, maka rasa tanggung-jawab untuk membela kaum dhuafa harus terus dipertahankan.
Saya juga terkesan dengan sikap Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono yang menerima kehadiran ulama besar, Syekh Yusuf Qaradhawi, ke Indonesia. Qaradhawi dikenal sebagai ulama moderat yang memiliki pengikut di seluruh dunia dan bukunya juga kita jadikan rujukan di Indonesia. Apa yang dilakukan Presiden saat itu? Dia bertanya, “Syekh, tolong beritahu apa kekurangan kami? Apa yang harus kami lakukan? Saya hanya berpikir untuk masyarakat dan bangsa saya.” Saya percaya dengan sikap pemimpin yang tawadhu semacam itu, maka Islam akan jaya dan tampil dari bumi Indonesia ini. Saya yakin semua itu akan tercapai, bila kita bersikap konsisten untuk belajar memperbaiki diri.
Umur saya sudah 65 tahun, saya mencintai bangsa ini dan tidak pernah berkurang sedikitpun. Coba renungkan kembali lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”, dan coba pula renungkan lagu “Mars PPSDMS”, begitu luhur cita-cita yang terkandung di dalamnya. Kita harus bersyukur kepada Allah Rabbul Alamin dan berterima kasih terhadap sesama manusia yang telah mendukung program pembinaan ini.
Pada suatu subuh di bulan April tahun 2005, saudara Musholli datang ke rumah saya pagi sekali, tak pernah sebelumnya datang sepagi itu. Saya waktu itu tidak tidur semalaman, karena sudah ditelepon sebelumnya. Saya pikir tidak mungkin, bila tak ada hal penting, dia akan akan bertemu sepagi itu. Ternyata dia membawa rencana untuk membangun sebuah kantor permanen yang akan menjadi “markas besar pembinaan”, bukan untuk menyaingi markas besar TNI atau Polri. Saya bertanya, dari mana memulainya? Dia meyakinkan, pasti ada jalan keluarnya. Alhamdulillah, sekarang gedung berlantai tiga sudah terwujud dari rencana lima lantai, tinggal kita mengisinya.
Saya bukan da’i, saya masih terus belajar menjadi Muslim kaaffah, tapi saya percaya dengan firman Allah dalam surat Al Ankabut ayat terakhir (69) yang menyatakan, “Dan orang-orang yang berjuang untuk menapdatkan keridhaan Kami, maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebajikan”. Ayat inilah yang mendasari kerja keras untuk mewujudkan cita-cita besar.***
*) Disampaikan dalam Pembukaan PKN I pada 31 Juli 2006.


























