Belajar dari Kepemimpinan di Masa Lalu
Dr. Adhyaksa Dault, SH, M.Si.,
Anggota Dewan Penyantun PPSDMS
Dalam forum yang amat penting ini, saya ingin menyampaikan, betapa sebelum menjadi bangsa besar seperti sekarang, sejarah Indonesia diwarna oleh wilayah yang terpisah satu sama lain. Sebelum lahirnya Boedi Oetomo (1908), dan Syarikat Dagang Islam (1906), yang menandai Hari Kebangkitan Nasional, bangsa Indonesia terdiri atas 20 kerajaan, yang masing-masing memimpin tidak lebih dari 200 tahun. Hanya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang bertahan cukup lama, juga kerajaan Aceh Darussalam dengan wilayah yang relatif luas.
Pada zaman dahulu kala, tidak ada cerita yang jelek tentang kerajaan, karena waktu itu masyarakat tidak bisa berpartisipasi dalam pemerintahan. Semuanya dilakukan oleh kalangan elite istana, aristokrasi yang menjurus pada oligarki. Perpecahan di kalangan istana kerajaan menyebabkan munculnya gejala self-destruction, penghancuran diri sendiri, seperti kisah Ken Arok yang terkenal sebagai pendiri kerajaan Singasari setelah membunuh Tunggul Ametung.
Apa hubungan antara sejarah masa lalu dengan pemuda dan kebangkitan bangsa? Kita harus memahami sejarah masa lalu bangsa, jika ingin mengembangkan potensi positif yang akan membawa kebangkitan di masa depan. Selain itu, kita juga harus mengetahui potensi negatif yang pernah ada, dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Bangsa ini menjadi besar karena persatuan, dan bangsa ini akan terancam perpecahan, jika para elite pemimpinnya hanya mementingkan diri sendiri.
Kita ingat di masa Orde Baru, banyak program pemerintah yang sudah berhasil dilaksanakan, antara lain Koperasi Unit Desa (KUD), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk menangani kesehatan ibu dan anak, serta menyediakan kebutuhan pokok rakyat (basic needs) seperti pangan, sandang dan perumahan. Namun, pemerintahan Orba ada kelemahannya karena terlalu bergantung pada lembaga-lembaga keuangan dan terlalu bersifat sentralistik, sehingga jauh dari aspirasi rakyat. Sehingga, akhir sejarah Orba berlangsung hard-landing, kejatuhan kekuasaan Presiden Soeharto yang tidak berjalan mulus, persis tragedi kekuasaan yang menimpa Presiden Soekarno.
Di masa transisi, kita juga menyaksikan era pemerintahan Abdurrahman Wahid yang terlalu berat kepada intuisi, dan tidak membangun institusi. Gaya kepemimpinan yang memandang remeh segala hal yang sebenarnya penting, semisal ungkapan “Gitu aja kok repot!”. Akibatnya, masyarakat mengalami gonjang-ganjing karena pelbaga pernyataan yang kontroversial. Bila pernyataan itu datang dari rakyat biasa, maka efeknya mungkin tidak terlalu besar. Tetapi, karena kontroversi datang dari seorang Presiden, maka dampaknya akan menyentuh seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejumlah pekerjaan rumah di bidang ekonomi, politik dan sosial-budaya jadi berantakan karena pemimpin di masa transisi sibuk menyebarkan kontroversi.
Proses menjadi sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia, ternyata belum selesai, kita masih harus bekerja keras. Bangsa yang besar dan maju seperti Amerika mungkin sudah mengalami sejarah yang panjang, tapi pembinaan kebangsaannya (nation building) juga belum sepenuhnya selesai. Namun, mereka berupaya secara sistematis untuk melakukan proses pengaturan negara (state building) secara profesional, sehingga segala konflik yang berkembang di masyarakat dalam dikelola dan dicarikan solusinya berdasarkan konstitusi.
Karena adanya desakan keras dari kalangan pemuda, maka Orba tumbang dan tokoh baru mulai bermunculan. Zaman bergulir cepat, sehingga tidak heran pemimpin muda mulai ditonjolkan. Perlu dicatat, leadership itu intinya pada pengaruh, bukan posisi atau jabatan formal. Pengaruh yang paling efektif adalah melalui kesuritauladanan di berbagai bidang. Bagaimana caranya agar orang di sekeliling kita mengikuti seluruh gerak langkah kita untuk mencapai tujuan, diusahakan sebisanya tanpa paksaan fisik. Jika mereka rela menempuh perjuangan berat demi mencapai cita-cita yang luhur, maka itu tanda keberhasilan seorang pemimpin.
Kita patut belajar dari sejarah eksistensi kerajaan-kerajaan pada masa dahulu, dan mengajukan satu pertanyaan kritis: apakah Indonesia akan tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di masa datang? Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, karena itu Anda harus siap menjawabnya. Jangan lupa dengan proses keseharian Anda untuk membangun kompetensi dan integritas. Kompetensi pemuda dapat diwujudkan kalau mereka menyadari siapa dirinya yang sebenarnya. Kita harus menjadi “problems solver through management” (menyelesaikan masalah melalui kemampuan tim).
Saya ingin mengambil inspirasi dari tokoh kartun Jepang yang terkenal di kalangan anak-anak, yakni Doraemon. Nah, pemuda sekarang harus mampu menjawab tantangan dengan formula DORAEMON (Dream, Opportunity, Reform, Action, Energy, Mapping, Organizing, dan Networking). Pemuda harus memiliki mimpi/visi tentang masa depan bangsa yang berjaya, setelah itu kita melihat peluang untuk mewujudkan visi itu. Bersamaan dengan itu, kita juga melakukan self-correction (muhasabah) demi perbaikan diri. Rencana sebagus apapun tidak ada artinya tanpa aksi nyata. Selanjutnya aksi yang berkesinambungan dan terpadu akan menghasilkan energi besar untuk perubahan. Tantangan lain yang perlu diperhatikan kalangan muda ialah kemampuan melakukan pemetaan potensi, mengorganisir diri dan menjalin hubungan dengan beragam pihak.
Setelah seluruh langkah itu terlaksana, maka kita baru bisa melihat kompetensi pemuda yang sebenarnya! Di kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga sekarang kita mengelola 18 departemen. Berbagai bidang kompetensi pemuda yang harus dikembangkan. Kemampuan seorang pemuda ada yang bersifat verbal (berbicara), grafis (menulis/melukis), maupun kinetis (gerak/tindakan). Semua itu dapat diketahui, manakala kita melakukan pemetaan diri secara intensif. Kaum muda tidak boleh terkotak-kotakkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, semua potensi yang ada harus diarahkan demi mencapai kepentingan bersama.
Memang sudah saatnya kaum muda kini memimpin di berbagai bidang. Bagaimana strategi dan teknis programnya, itulah yang harus dibahas dalam simposium seperti ini, agar kita mampu menyatukan langkah untuk menyongsong masa depan. Peran kaum muda itu analoginya seperti jempol yang amat penting, pesawat luar angkasa Apollo saja tak bisa berangkat tanpa tombol yang dipencet oleh jempol. Para pemuda perlu mengisi ‘kamar-kamar’ di berbagai sektor pembangunan. Kita harus tahu waktu, kapan saatnya masuk atau keluar kamat, sehingga sempat menengok keadaan kamar-kamar yang lain. Berkoordinasi di antara berbagai elemen kepemudaan, itulah kunci keberhasilan.
*) Ringkasan pembicara kunci dalam Simposium Nasional Kepemimpinan Muda yang diselenggarakan Regional 3 Yogyakarta pada tanggal 19 April 2008 di University Centre UGM.




No comments yet.