Print This Post

Arya Yudhi Wijaya, S.Kom.: Pilihan Menjadi Wirausaha

Telah banyak pelatihan leadership dan entrepreneurship yang diberikan PPSDMS kepada pesertanya. Kini tiba saatnya seorang Alumni PPSDMS untuk mengimplementasikan berbagai pelatihan yang diterima selama di asrama dalam kehidupan nyata. Ketertarikan pada bidang wirausaha memantapkan saya untuk terjun di dunia bisnis.

Saat memulai bisnis, saya belum menentukan bisnis apa yang akan dijalankan. Saya lalu menetapkan beberapa kriteria bisnis yang akan dilakukan. Kriteria itu mengacu pada pertimbangan level bisnis pemula dan keterbatasan modal dimiliki. Kriteria yang masuk pada saat itu antara lain: bisnis yang sudah jelas target pasarnya, tingkat persaingan rendah, tingkat kegagalan rendah, bisnis yang mampu memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitar, dan terakhir adalah bisnis yang memerlukan modal di bawah Rp 50 juta. Dengan kriteria tersebut, terdapat beberapa alternatif bisnis yang bisa dipilih: foto copy, warnet, rental komputer dan laundry.

Berbagai pertimbangan saya perhitungkan dengan matang kala saya menjadikan pilihan bisnis laundry di kawasan kampus di Surabaya. Laundry yang saya dirikan berada di sekitar kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sebuah lingkungan yang akrabi betul. Tepat hari Ahad, 17 September 2006, usaha berdiri dengan nama ’Flamboyan Laundry’.

Semula Flamboyan Laundry hanya memiliki 2 mesin cuci front loading (pintu bukaan depan) dan 2 orang karyawan. Modal yang diperlukan saat itu Rp 16 juta. Proses pengeringan dilakukan dengan cara menjemur. Harga mahasiswa dan kualitas pelayanan yang lebih baik dibanding laundry lain menjadikan jumlah pelanggan terus bertambah.

Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan, maka beberapa kendalapun muncul. Kendala utama adalah masalah cuaca yang tidak pasti. Sehingga pakaian banyak yang belum kering tepat waktu sesuai pesanan. Banyak komplain dari pelanggan akibat keterlambatan hasil laundry. Akhirnya pada Januari 2007 dilakukan intensifikasi dengan menambahkan 1 buah mesin pengering, 2 buah mesin cuci, 1 orang supervisor yang bertugas melakukan pengawasan dan pengaturan laporan keuangan harian, dan dibuat rak besi gantung yang mampu menampung pakaian pelanggan dengan kapasitas hingga 4 x kapasitas sebelumnya. Pada saat kami memiliki 4 mesin cuci pintu depan, 1 mesin pengering, 4 orang karyawan, dan rak dengan kapasitas hingga 90 paket laundry.

Perubahan signifikan terjadi pada pertengahan 2007. Seluruh aktivitas laundry yang mulai terasa kompleks telah terintegrasi dengan menggunakan aplikasi komputer yang saya buat sendiri. Pekerjaan pembuatan nota, akuntansi, pengaturan antrian laundry dan manajemen sistem member bagi pelanggan menjadi semakin mudah. Selain itu, pekerjaan semakin terbantu dengan ditambahnya sebuah mesin pengering, sehingga kapasitas laundry meningkat.

Pengetahuan yang diperoleh dalam mengelola Flamboyan Laundry selama 2 tahun semakin memantapkan saya untuk mengembangkan sayap dengan membuka caban di beberapa tempat. Insya Allah, bulan Oktober ini berdiri 2 cabang baru. Pengembangan cabang merupakan bagian dari rencana pengembangan 12 cabang Flamboyan Laundry di seluruh Surabaya. Hal ini akan menjadi bagian dari agenda PPSDMS berdasarkan keputusan yang diambil pada diskusi informal dengan Dewan Penyantun PPSDMS.

Saat ini saya kuliah lagi pada Program Pascasajana (S2) Teknik Informatika ITS. Memang, latar belakang pendidikan saya tidak terkait dengan bisnis laundry. Saya akui bukan wirausaha sejati, tetapi saya ingin menjadi wirausaha yang memiliki kontribusi lebih. Kondisi bangsa ini dan latar belakang saya yang juga sebagai seorang pengajar Matematika SMA selama 4 tahun pada sebuah Bimbingan Belajar terkemuka di Surabaya membuat saya tergugah untuk berkontribusi langsung pada dunia pendidikan.

Apakah bisnis saya tidak akan mengganggu aktivitas menjadi dosen atau sebaliknya, jadwal mengajar tidak menghambat bisnis? Jawabnya. tidak. Bisnis yang saya jalankan akan dinilai berhasil, apabila memiliki sistem yang memungkinkan bisnis tersebut bisa didelegasikan kepada orang lain. Alhamdulillah, sejak setahun lalu hal ini sudah terwujud. Akan tetapi bukan berarti saya lepas tangan pada bisnis saya. Pada kondisi ini, peran saya lebih pada kontrol, evaluator dan inovator. Setiap satu hari dalam sepekan atau 2 hari dalam sebulan saya harus turun langsung memantau bisnis ini.

Menjadi pebisnis, karyawan atau akademisi merupakan pilihan. Ketika kita telah memutuskan, maka hendaklah kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita pilih. Menjalankan pilihan kita masing-masing secara bertaggung jawab akan menjadikan pribadi yang berkomitmen pada bidangnya. Pribadi yang berkomitmen merupakan sumber manfaat bagi sekitarnya.***

*) Alumni PPSMDS Regional 4 Surabaya Angkatan II (2004-1006). Lulusan Teknik Informatika ITS.


sapto

My name's Sapto. Born in Jakarta, grew up in Surabaya, and proud to be an Indonesian Muslim. I'm a journalist and always be a journalist till my last day. My education background, major in international relations and minor in strategic studies, but concerning in anti-corruption movement, counter-terrorism policy/strategy and contemporary Islam.

sapto has written 200 posts
Website: http://

2 Responses to “Arya Yudhi Wijaya, S.Kom.: Pilihan Menjadi Wirausaha”

  1. taqi says:

    keren pak arya, lanjutkan perjuangan mu ^_^

  2. Chasby says:

    Mas Ndut…kangen, he2…
    insya Allah aq kan menyusulmu….

Leave a Reply




Video PPSDMS

Perpustakaan Keliling PPSDMSMilad 5 PPSDMS 2002-2007

Testimonial

Berpikir Strategis
Berpikir Strategis
Yuda Dian Harja*) Beberapa waktu yang lalu, Bapak Dr. Daniel M. Rosyid pernah berbicara di Asrama Regional 4 Surabaya tentang berfikir strategis. Mungkin sudah terlalu lama, tetapi saya fikir tema ini masih sangat relefan untuk direnungkan. Saya ing...

Leadership Corner

Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik
Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik

Sapto Waluyo
Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.
Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver [...]

Portal Peserta PPSDMS